Breaking News:

Manakah yang Lebih Baik, Anak Menghisap Empeng ataukah Menghisap Jari? Ini Kata Dokter Gigi Anak

ANak-anak yang memiliki kebiasaan menghisap jari sering kita jumpai. Sebagai orangtua tentu beberapa diantaranya berusaha menghentikan kebiasaan anak.

tribun.com
ilustrasi anak yang memiiki kebiasaan mengempeng 

TRIBUNHEALTH.COM - Tentunya pernah melihat pada beberapa anak memiliki kebiasaan menghisap jari.

Sebagai orangtua, beberapa di antaranya ada yang berusaha menghentikan kebiasaan tersebut, namun ada juga yang tidak peduli dengan kebiasaan anak menghisap jari.

Beberapa orang menganggap kebiasaan anak menghisap jari karena pada usia tersebut seorang anak masih belajar mengenal rasa.

Penyebab seorang anak lebih suka menghisap jari yakni :

1. Faktor psikologi

Di saat anak merasa lelah, takut, bingung, sakit atau sedang melakukan penyesuaian dengan lingkungannya ia akan mulai menghisap ibu jarinya.

ilustrasi anak yang memiiki kebiasaan mengempeng
ilustrasi anak yang memiiki kebiasaan mengempeng (tribun.com)

Baca juga: Sudah Menggunakan Antiperspirant Keringat Masih Bau? Ini Penjelasan dr. Yulia Asmarani Sp.DV

Ini juga bisa menjadi kebiasaannya saat menjelang tidur atau saat anak mulai mengantuk.

- Etiologi kebiasaan menghisap jempol atau jari-jari dapat disebabkan balita atau anak-anak dalam kondisi kecemasan, kelaparan, rasa bosan, ketegangan, ketakutan, stress emosional ataupun adanya kinginan yang tidak terpenuhi.

Terkadang balita yang tidak puas menghisap ASI karena ibu terlalu sibuk bekerja, atau produksi ASI kurang menyebabkan bayi menghisap jari atau jempol sebagai pemuasan dan menciptakan perasaan nyaman.

Pada balita yang sering dilarang atau dimarahi orangtuanya ketika memasukkan jari maupun mainan ke dalam mulut, fase oralnya menjadi tidak maksimal dan beresiko mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan kematangan daerah rongga mulut sehingga mengganggu kemampuan berbicara dan makan.

Baca juga: Ketahui soal Vortex Ultra, Treatment 5 in 1 untuk Mengatasi Permasalahan Kulit

Contohnya, ada anak usia 2 tahun yang belum mampu mengunyah nasi dan harus terus makan bubur.

2 dari 4 halaman

Pada studi kasus menyatakan anak-anak usia sekolah yang mempunyai kebiasaan buruk menghisap jari memiliki kecenderungann interaksi sosial dan tingkat intelegensia yang rendah.

- Fase oral

Merupakan fase perkembangan psikologis manusia yang memperoleh kepuasan dengan menghisap jari tangannya.

Fase dimana bayi merasa puas melakukan kegiatan dalam mulutnya, bisa dalam bentuk mengemut, mengulum, menggigit atau menghisap – hisap benda tertentu.

Fase oral terjadi bertahap, mulai dari anak memasukkan benda yang di dekatkan padanya, misal payudara ibu, lalu berkembang dengan memasukkan anggota tubuhnya sendiri ke dalam mulutnya.

Baca juga: dr. Jeffry Beta Tenggara , Sp.PD-KHOM Jelaskan Berapa Faktor Penyebab Penyakit Kanker

Selanjutnya berkembang memasukkan benda yang dipegang untuk mengeksplorasi benda tersebut.

- Fase yang wajar/ normal terjadi pada anak

Dalam fase oral, perlu dipastikan tangan anak dalam keadaan bersih dan kukunya tidak tajam, serta mengatur kedalamaan tangan saat masuk ke dalam mulut sehingga tidak muntah.

Rentang usia : 0 – 24 bulan (terutama 4 bulan).

Jika kebiasaan menghisap jari terus dilakukan sampai setelah rentang usai lebih dari 24 bulan, menunjukkan kebiasaan mulut yang buruk.

3 dari 4 halaman

Kebiasaan anak menghisap jari apabila dilakukan masih dalam usia fase oral tidak akan membahayakan kesehatan.

Namun, jika kebiasaan terus berlanjut sampai melewati usia fase oral, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak.

Baca juga: dr. Nurul Rahmawati Sp.N Jelaskan Pemeriksaan dan Tindakan Medis Pasca Benturan Tulang Belakang

Saat balita atau anak menghisap jari ke dalam mulut dapat menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan pada gigi dan jaringan lunak sekitar dan memicu permasalahan gigi geligi dan rahang berupa perubahan pola pertumbuhan rahang, lengkung gigi, jaringan pendukung gigi, posisi gigi depan dan rahang tampak maju serta munculnya gigitan terbuka sehingga dibutuhkan penanganan lanjut oleh dokter gigi.

Akibat kebiasaan buruk ini dipengaruhi oleh 3 faktor antara lain :

- Durasi atau jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kebiasaan buruk,

- Frekuensi yang menunjukkan berapa kali dalam sehari kebiasaan buruk dilakukan
intensitas yang dinilai dari seberapa kuat kebiasaan buruk dilakukan yaitu masuk dalam kategori ringan, sedang atau berat.

Saat anak memasukkan tangan ke dalam mulutnya, akan membantu kemampuan oromotor (kemampuan mulutnya untuk mengunyah) dengan mendorong sensor lidah yang tadinya hanya aktif di bagian depan, menjadi aktif hingga pangkal lidah.

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Telinga Mengalami Infeksi yang Disampaikan dr. Debby Septiana Sp.THT-KL

Kondisi ini menjadi persiapan agar nanti saat waktunya anak makan, anak lebih mudah mengunyah makanan tanpa banyak melepeh.

Apabila menghisap jari dilakukan pada fase oral, orang tua tidak perlu melarang karena jika anak gagap mendapatkan kepuasan pada fase ini, dapat mempengaruhi kepirbadiannya secara psikologi (Freud).

Anak akan cenderung bergantung terhadap sesuatu yang berkaitan dengan mulutnya.

4 dari 4 halaman

Contohnya, ketika dewasa bisa menjadi orang yang makan terus-menerus saat stres, hobi menggigit jari, hingga kecanduan alkohol dan merokok, dsb.

Bahkan secara psikologi, anak bisa menjadi orang yang sarkastik jika ia gagal melalui fase oral ini.

Alasan anak lebih memilih mengisap jari daripada menyusu :

Secara psikologi, lebih kepada faktor kenyamanan.

Baca juga: Berikut Masalah Gigi yang Diperbaiki oleh Dokter Gigi Spesialis Orthodonti, Simak Penjelasannya

Lakukan pemberian ASI sesering mungkin agar anak kembali menemukan sumber kenyamanan dari payudara ibu saat menyusui

Produksi ASI berkurang, menyebabkan anak menjadi kesal dan tidak sabar, sehingga menemukan sumber kenyamanan lain, termasuk dengan menghisap jari.

Hindari pemberian ASI menggunakan botol dot karena akan membuat anak bingung puting dan semakin tidak mau menyusui langsung.

Manakah yang lebih baik, anak menghisap empeng ataukah menghisap jari?

Begini penjelasan drg. Wiwik Elnangti Wijaya, Sp.KGA.

Ia merupakan seorang spesialis dokter gigi anak.

Sejak 2014 hingga sekarang, Wiwik masih konsisten menjadi staf medis RSUD Salewangang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Sebelum bekerja di RSUD Salewangang, pada 2019 ia sempat berprofesi sebagai seorang dosen di Departemen Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Baca juga: Siapa Saja yang Boleh Melakukan Tindakan Depigmentasi? Simak Jawaban Dokter Gigi Berikut

Sembari mengajar, ia juga menjadi Staf Medis Rumah Sakit Gigi Universitas Hasanuddin.

Sebelum menjadi seorang dokter gigi, ia sempat mengenyam sejumlah pendidikan.

Di antaranya:

- Jurusan Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, Bandung (2011-2014)

- Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin Makassar (1999-2006)

- Sekolah Menengah Atas No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1996-1999)

- Sekolah Menengah Pertama No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1993-1996)

- Sekolah Dasar No. 3, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1987-1993).

Baca juga: Apabila Penyakit Sistemik Sudah Terkontrol, Apakah Boleh Menggunakan Behel?

Kini ia bergabung dalam dua organisasi kesehatan. Yaitu:

1. Anggota Perhimpunan Dokter Gigi Anak Indonesia.

2. Anggota Ikatan Dokter Gigi Indonesia

Sejumlah peneltian pernah ia lakukan.

Berikut ini beberapa penelitian dan artikel yang pernah ia buat.

Di antaranya:

1. Hubungan Gingivitis dengan Kebersihan Mulut di SDN Kurusumange Kabupaten Maros

2. Perbandingan Efek Inhibisi Aloe Vera dan NaF secara in vitro.

Profil lengkap drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA bisa dilihat disini.

Baca juga: Apakah Masalah Saraf Bisa Menyebabkan Terjadinya Depresi? Begini Kata dr. Hary Purwono, Sp.KJ

Pertanyaan :

Manakah yang lebih baik, anak menghisap empeng ataukah menghisap jari?

Anggra, Solo

drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA menjawab :

Tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, apalagi kalau dilakukan berkepanjangan melewati batas usia fase oral.

3 faktor yang perlu diperhatikan antara lain :

- Durasi atau jangka waktu

- Frekuensi

- Intensitas

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Selanjutnya
Tags:
Tribunhealth.comMenghisap jarimenghisap jempolPerkembangan anakgigi anakdrg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA. Alap-alap Capung
BERITATERKAIT
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved