Breaking News:

WHO Prediksi Penderita Demensia Capai 78 Juta pada 2030, Tak Hanya Terjadi pada Orang Tua

Satu di antara faktor yang menjadi risiko demensia adalah depresi yang dialami

Pixabay
Ilustrasi menjadi pelupa akibat demensia 

TRIBUNHEALTH.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, penderita demensia mencapai lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia.

Kondisi progresif ini bisa disebabkan oleh stroke, cedera otak atau penyakit Alzheimer dan dengan populasi yang menua.

WHO memproyeksikan penderita demensia meningkat menjadi 78 juta pada tahun 2030 dan 139 juta pada tahun 2050.

Data tersebut termuat dalam sebuah laporan, diberitakan Al Jazeera pada Kamis (2/9/2020).

WHO menyebut hanya ada satu dari empat negara yang memiliki kebijakan nasional untuk mendukung pasien demensia dan keluarga mereka.

Karenanya, mereka mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Setengah dari negara yang dimaksud berada di Eropa, sementara sisanya tersebar di wilayah lain di dunia.

Baca juga: dr. Debby Amelia Jelaskan Mengenai Alzheimer yang Pengaruhi Otak Manusia, Bisa Picu Demensia

Baca juga: Peneliti Identifikasi Gejala Baru Demensia, Sulit Mendengar Percakapan di Lingkungan Bising

Ilustrasi penderita demensia alzheimer
Ilustrasi penderita demensia alzheimer (Freepik)

“Namun bahkan di Eropa, banyak rencana yang kedaluwarsa atau sudah kedaluwarsa, menunjukkan perlunya komitmen baru dari pemerintah,” kata WHO dilansir TribunHealth.com dari Aljazeera.

Orang nomor satu di WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan "demensia merampas jutaan ingatan, kemandirian, dan martabat mereka, tetapi juga merampas orang-orang yang kita kenal dan cintai."

"Dunia mengecewakan orang-orang dengan demensia, dan itu menyakitkan kita semua," katanya seperti dikutip dalam sebuah pernyataan.

Para menteri kesehatan menyetujui rencana aksi global pada 2015, termasuk diagnosis dini dan memberikan perawatan, tetapi gagal memenuhi target pada 2025, katanya.

Demensia sebagian besar menyerang mereka yang berusia 65 tahun ke atas, tetapi juga dapat menyentuh orang berusia 30-an dan 40-an.

Tidak ada pengobatan, tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar 40 persen kasus dapat dihindari atau ditunda dengan gaya hidup sehat.

Baca juga: Bagaimana Cara Agar Orang Tua Dekat dengan Anak dan Anak Terhindar dari Depresi Dok?

Ilustrasi depresi jadi faktor risiko demensia
Ilustrasi depresi jadi faktor risiko demensia (Tribunnews.com)

Faktor risiko termasuk depresi, pendidikan rendah, isolasi sosial dan kurangnya stimulasi kognitif.

Katrin Seeher, dari departemen kesehatan mental dan penggunaan zat WHO, mengatakan dalam jumpa pers bahwa lebih dari 60 persen orang yang hidup dengan demensia berada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Kami terutama perlu mengurangi kesenjangan yang ada antara negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah dan menengah, dan antara daerah perkotaan dan pedesaan,” katanya.

Seeher mengatakan kepada Al Jazeera bahwa yang mengkhawatirkan, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah juga kurang siap dibandingkan negara-negara berpenghasilan tinggi untuk menyediakan layanan dan perawatan bagi orang-orang dengan demensia.

“[Ini] berarti bahwa sekali lagi, anggota keluarga dan teman dekat perlu ikut serta lebih banyak lagi, sehingga tingkat perawatan informal bahkan lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah daripada di negara-negara berpenghasilan tinggi,” kata Seeher.

Obat-obatan, produk kebersihan dan penyesuaian rumah tangga untuk pasien demensia lebih mudah diakses di negara-negara kaya, yang memiliki tingkat penggantian yang lebih besar daripada di negara-negara berpenghasilan rendah, kata laporan itu.

Ilustrasi demensia alzheimer menyerang otak
Ilustrasi demensia alzheimer menyerang otak (Freepik)

Baca juga: Dokter Sebut Secara Epidemiologi Alzheimer Paling Sering Ditemukan Dibanding Jenis Demensia Lainnya

Baca juga: Simak Pedoman WHO untuk Kurangi Risiko Demensia, Diprediksi Meningkat 3 Kali Lipat dalam 30 Tahun

Demensia mempengaruhi memori, orientasi, kapasitas belajar, bahasa, penilaian, dan kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved