Breaking News:

Menu MPASI Bisa Mempengaruhi Rasa Makanan yang Disukai Anak saat Besar, Ini Penjelasan Ahli Gizi

Berikut ini simak penjelasan Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S.Gz mengenai menu MPASI yang bisa mempengaruhi rasa makanan yang disukai anak saat besar.

Freepik.com
Ilustrasi MPASI untuk anak usia 6 bulan ke atas-simak penjelasan Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S.Gz mengenai menu MPASI yang bisa mempengaruhi rasa makanan yang disukai anak saat besar. 

TRIBUNHEALTH.COM - MPASI adalah singkatan dari Makanan Pendamping Air Susu Ibu.

Pemberian MPASI dilakukan setelah anak memasuki usia 6 bulan.

Dalam pemberian MPASI, orangtua dianjurkan untuk memberikan makanan yang bergizi seimbang.

Baca juga: Deteksi Bayi Lahir Stunting Sejak Dalam Kandungan, Ini Pesan dari Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar S.Gz

Karena selain dapat mempengaruhi kondisi kesehatan anak, rupanya menu MPASI juga dapat mempengaruhi rasa makanan yang nantinya akan digemari oleh anak.

Pasalnya jika orangtua sudah terbiasa memberikan rasa manis dan asin pada menu makanan, maka saat besar nanti anak akan terus mencari rasa tersebut.

Ilustrasi pemberian MPASI pada bayi
Ilustrasi pemberian MPASI pada bayi (jogja.tribunnews.com)

Baca juga: MPASI Tidak Hanya Membantu Kebutuhan Energi dan Nutrisi, Tetapi Juga Melatih Kemampuan Motorik Bayi

"Kalau misalnya anak-anak sudah terbiasa makan ditambahi gula dan garam, akhirnya waktu dewasa mereka mencari."

"'Loh ini rasa yang bukan aku inginkan waktu aku kecil, dulu rasanya nggak gini'."

"Akhirnya anak cenderung menginginkan rasa yang manis dan asin, karena terbiasa dari kecil diberikan seperti itu," terang Ahli Gizi, R. Radyan Yaminar, S.Gz. dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribunhealth.

Ilustrasi MPASI untuk bayi
Ilustrasi MPASI untuk bayi (manado.tribunnews.com)

Oleh karena itu, orangtua dianjurkan hanya memberikan menu MPASI dari bahan-bahan alami saja.

Tanpa perlu menambahkan gula dan garam pada menu MPASI.

Baca juga: dr. Imelda Pingkan M.,Sp.A Jelaskan Mengenai Tahapan Pemberian MPASI Usia 6 Bulan hingga 9 Bulan

2 dari 4 halaman

"Jadi memang benar-benar pure dari bahan makanan yang alami," tegas Radyan.

Menyiasati Anak Susah Makan

Menghadapi anak yang susah makan seringkali membuat orangtua merasa kewalahan.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi anak yang susah makan orangtua perlu memiliki kesabaran yang ekstra.

ilustrasi anak susah makan
Ilustrasi anak susah makan (tribunnews.com)

Disamping, mencari strategi khusus agar anak bisa makan dengan mudah.

Radyan pun memberikan tips yang bisa dilakukan oleh orangtua.

Baca juga: Ahli Gizi Sebut Kebutuhan Gizi Anak Sekolah, Salah Satunya adalah Vitamin dan Mineral

Di antaranya yaitu:

1. Memperbaiki cara asuh

Orangtua perlu menyiapkan suasana yang menyenangkan ketika anak memasuki waktu makan.

Pasalnya jika suasana tidak menyenangkan, maka anak akan menjadi malas makan.

ilustrasi anka yang tidak nafsu makan
ilustrasi anka yang tidak nafsu makan (orami.co.id)
3 dari 4 halaman

Karena seringkali orangtua membentak anak agar anak mau makan.

"Jadi di dalam pikirannya makan itu tidak menyenangkan dan makan adalah sebuah paksaan atau hukuman," ucap Radyan.

Baca juga: Dokter Gigi Sebut Buah Pir dan Apel Efektif Menjaga Kebersihan Rongga Mulut, Ini Alasannya

2. Mengajak makan bersama

Saat memasuki waktu makan, orangtua dianjurkan mengajak anak untuk duduk di meja makan dengan makan bersama.

Hal ini bisa membuat anak mencontoh tindakan orangtua.

Ilustrasi mengajak anak makan bersama
Ilustrasi mengajak anak makan bersama (pixabay.com)

Baca juga: Ibu Hamil Harus Cukup Nutrisi untuk Mencegah Anak Lahir Stunting, Ini Himbauan dari Ahli Gizi

3. Membiasakan makan dengan gizi yang cukup

Selanjutnya adalah membiasakan anak untuk mengonsumsi makanan dengan gizi yang cukup sejak dini.

Dengan demikian, anak akan terbiasa hingga usia besar nanti.

Ilustrasi makanan bergizi
Ilustrasi makanan bergizi (health.grid.id)

Baca juga: Cara Meningkatkan Imun di Masa Pandemi dengan Mengkonsumsi Makanan Sehat

Penyebab Anak Susah Naik Berat Badan

Melihat angka timbangan berat badan bertambah tidak selalu membuat sedih bagi sejumlah orang.

4 dari 4 halaman

Pada beberapa orang, kenaikan berat badan justru sangat dinantikan.

Hal ini biasanya terjadi bagi orang-orang yang susah mengalami kenaikan berat badan, meskipun telah mengonsumsi banyak makanan.

Ilustrasi tubuh kurus
Ilustrasi tubuh kurus (Pixabay)

Seringkali fenomena ini dialami oleh anak-anak.

Menurut penuturan Radyan, untuk mengetahui penyebabnya harus dipastikan lebih jauh terlebih dahulu.

Orangtua perlu memastikan gizi pada asupan makanan yang dikonsumsi.

Baca juga: Tak Hanya Obesitas, Tubuh Terlalu Kurus juga Bahaya, NHS Sebut Bisa Alami 3 Hal Ini

Tidak hanya sebatas memperhatikan jumlahnya.

"Banyaknya harus diteliti lebih dahulu, isinya apa saja, apakah sudah benar sesuai dengan aturan gizi," ungkap Radyan.

Sejumlah asupan gizi yang harus diperhatikan pada asupan makanan anak adalah:

- Karbohidrat

ilustrasi makanan tinggi karbohidrat
ilustrasi makanan tinggi karbohidrat (pixabay.com)

- Lemak

- Protein

- Omega 3

- Omega 6.

Baca juga: Ikan Laut yang Digoreng Sebabkan Omega-3, DHA, dan EPA Otomatis Menjadi Lemak Trans atau Trans Fat

Jangan sampai anak banyak makan yang mengandung lemak jenuh, seperti goreng-gorengan.

Akhirnya anak hanya sekadar makan banyak, tetapi tidak menunjang pada kenaikan berat badan.

Selanjutnya, selain memperhatikan asupan makanan, juga penting peduli pada kondisi lingkungan rumah.

ilustrasi orangtua bermain dengan anak-anaknya
ilustrasi orangtua bermain dengan anak-anaknya (tribunnews.com)

Jika kondisi lingkungan rumah kurang bersih, dapat menyebabkan anak terkena infeksi.

Infeksi yang rentan ditemui adalah Diare.

Baca juga: Memiliki Gejala yang Mirip, Begini Penjelasan dr. Roro Rukmi Mengenai Perbedaan Muntaber dan Diare

"Kalau anak mudah sakit, akhirnya tubuh fokus untuk menyembuhkan."

"Padahal anak masih memasuki masa Golden Age, tubuh harus lebih banyak fokus untuk pertumbuhan."

"Akhirnya menimbulkan zat gizi yang masuk hanya bertugas mengobati penyakit infeksi tersebut," Terang Radyan.

Bila sudah demikian, anak berpotensi mengalami keterlambatan pada aspek pertumbuhan.

Baca juga: Atasi Gangguan Tumbuh Kembang Tidak Harus ke Dokter Spesialis Anak, Simak Ketentuan Berikut

Penjelasan R. Radyan Yaminar, S.Gz ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribunhealth, Kamis (3/2/2022)

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved