Breaking News:

Alasan Mengapa Kekurangan dan Kelebihan Tidur Bisa Picu Penurunan Fungsi Kognitif, Termasuk Demensia

Penelitian Universitas Washington mengungkap mengapa durasi tidur bisa picu masalah kognitif

tribunnews.com
ilustrasi tidur 

TRIBUNHEALTH.COM - Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington telah menerbitkan sebuah makalah baru tentang kesehatan tidur.

Penelitian mereka mengungkap, seperti halnya terlalu sedikit tidur, tidur terlalu banyak juga dapat dikaitkan dengan penurunan kognitif, dilansir TribunHealth.com dari Independent, Selasa (16/11/2021).

Dari penelitian sebelumnya, kurang tidur memang sudah dikaitkan dengan penurunan kognitif.

Misalnya, satu penelitian menunjukkan bahwa orang yang melaporkan gangguan tidur, seperti insomnia atau kantuk di siang hari yang berlebihan, memiliki risiko lebih besar terkena demensia daripada orang yang tidak.

Penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang memiliki waktu tidur pendek memiliki tingkat beta-amiloid yang lebih tinggi di otak mereka.

Baca juga: Durasi Tidur Menunjukkan Kualitas Tidur yang Dimiliki oleh Seseorang, Begini Ulasan dr. Rimawati

Baca juga: dr. Rimawati Tedjasukmana Jelaskan Beberapa Penyakit yang Dapat Memengaruhi Kualitas Tidur Seseorang

Ilustrasi tidur siang karena jam kerja malam
Ilustrasi tidur siang karena jam kerja malam (Pixabay)

Kondisi ini umumnya ditemukan di otak orang yang memiliki penyakit alzheimer.

Satu teori adalah bahwa tidur membantu otak kita mengeluarkan protein berbahaya yang menumpuk pada siang hari.

Beberapa protein ini – seperti beta-amiloid dan tau – diduga menyebabkan demensia.

Jadi mengganggu tidur dapat mengganggu kemampuan otak untuk menghilangkannya.

Bukti eksperimental bahkan mendukung hal ini – menunjukkan bahwa bahkan hanya satu malam kurang tidur untuk sementara meningkatkan kadar beta-amiloid di otak orang sehat.

Namun para peneliti masih tidak tahu pasti mengapa kurang tidur dikaitkan dengan penurunan kognitif.

Studi sebelumnya juga menemukan hubungan antara tidur berlebihan dan kinerja kognitif.

Baca juga: dr. Rimawati Tedjasukmana Tegaskan Tidur Suatu Kebutuhan yang Sangat Penting, Ketahui Fungsinya

Baca juga: dr. Tan Shot Yen Jelaskan Kebutuhan Tidur Tiap Kelompok Usia Berbeda, Bayi Butuh Belasan Jam

ilustrasi nyeri kepala saat bangun tidur
ilustrasi nyeri kepala saat bangun tidur (tribunnews.com)

Namun sebagian besar studi itu mengandalkan pelaporan dari peserta sendiri, terkait berapa lama mereka tidur setiap malam.

Ini berarti datanya kurang akurat dibanding penelitian yang menggunakan EEG untuk mengukur aktivitas otak.

Oleh karena itu, studi baru ini menambah bobot pada temuan tersebut.

Yang mengejutkan dari penelitian ini adalah bahwa durasi tidur yang optimal jauh lebih pendek daripada menurut penelitian sebelumnya.

Studi menunjukkan bahwa tidur lebih lama dari 6,5 jam dikaitkan dengan penurunan kognitif dari waktu ke waktu.

Angka itu lebih rendah dari pada saran tidur untuk orang dewasa, antara tujuh dan delapan jam setiap malam.

Baca juga: Apakah Tidur Siang Bisa Picu Insomnia? dr. Andreas Prasadja Beri Penjelasan Sebaliknya

Baca juga: Penyebab Kualitas Tidur yang Buruk menurut Dokter Praktisi Kesehatan Tidur, Rimawati Tedjasukmana

ilustrasi seseorang yang mengalami gangguan tidur sering terbangun saat malam hari
ilustrasi seseorang yang mengalami gangguan tidur sering terbangun saat malam hari (kompas.com)

Penelitian ini masih memerlukan penelitian lanjutan.

Bisa jadi, yang menjadi faktor penentu bukan durasi, melainkan kenyenyakan dalam tidur.

Halaman
12
Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved