Breaking News:

Diabetes Dianggap Sebagai Ibu dari Segala Penyakit karena Mengakibatkan Beragam Komplikasi

Menurut Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM jika tidak memanajemen kadar gula darah dalam waktu lama bisa menyebabkan komplikasi.

health.grid.id
ilustrasi diabetes, begini ulasan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM 

TRIBUNHEALTH.COM - Pada mulanya pederita diabetes tidak sadar akan keluhan yang dirasakan akibat tingginya kadar gula.

Banyak yang berobat jika kondisinya sudah parah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan terdapat sekitar 19,5 juta warga Indonesia berusia 20-79 tahun yang mengidap diabetes pada tahun 2021.

Bahkan diperkirakan pada tahun 2030 mendatang penderita diabetes akan mencapai angka 30 juta orang.

Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Kita edisi 14 November 2022.

Baca juga: Rupanya Inilah Faktor yang Memperparah Gangguan Sendi Rahang, Begini Ulasan drg. Ardiansyah

Ilustrasi pemeriksaan pada pengidap diabetes alias kencing manis, begini penuturan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM
Ilustrasi pemeriksaan pada pengidap diabetes alias kencing manis, begini penuturan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM (pixabay.com)

Baca juga: Sit-up Dapat Menghilangkan Perut Buncit Hanyalah Mitos, Bisa Diatasi dengan Melakukan Diet

Terlambat pengobatan sedikit saja, komplikasi penyakit jantung hingga gagal ginjal akibat diabetes akan mengintai.

Diabetes dianggap sebagai ibu dari segala penyakit.

Hal ini karena dianggap bisa mengakibatkan beragam komplikasi lainnya yang tentunya merusak tubuh kita.

"Jadi gula sendiri itu kan suatu zat kimia yang harus ada dalam tubuh," terang Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM.

"Mengapa dikatakan mother of desease, karena kita ketahui bahwa komplikasi dari keadaan hiperglikemik atau keadaan meningkatnya kadar gula darah dalam jangka waktu lama bisa membuat komplikasi akut atau tiba-tiba dan komplikasi kronik," lanjut Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM.

2 dari 3 halaman

Secara morfologi atau anatomis, diabetes bisa meningkatkan risiko komplikasi ke makro vaskuler atau menyerang pembuluh darah besar maupun pembuluh darah kecil.

"Semua organ-organ kita kalau saya bilang berhak mendapatkan komplikasi kalau tidak dikelola," kata Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM.

Hal ini karena semua organ-organ di dalam tubuh mengandung mikro vaskuler dan makro vaskuler.

Oleh karena itu kalau tidak di manajemen kadar gula darah tersebut dalam jangka waktu lama maka komplikasi bisa menyerang bagian tubuh mana saja.

Baca juga: Diet Keto Bikin Berat Badan Cepat Turun tapi Berdampak pada Kesehatan jika Tak Lakukan Dengan Benar

Ilustrasi pengidap kencing manis atau diabetes, begini pemaparan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM
Ilustrasi pengidap kencing manis atau diabetes, begini pemaparan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM (pixabay.com)

Baca juga: drg. Ardiansyah S. Pawinru, Sp. Ort Beberkan 3 Hal yang Menyebabkan Gangguan Sendi Rahang

Inilah yang disebut mother of desease karena seluruh organ akan mengalami dampaknya baik secara tiba-tiba maupun secara perlahan.

Hal ini tergantung bagaimana kita memanajemen tubuh terutama terkait kadar gula.

Bahkan penyakit diabetes juga bisa menyebabkan komplikasi pada organ ginjal.

"Jadi kerusakan ginjal itu tidak langsung, tidak tiba-tiba. Ini kerusakan yang perlahan-lahan dimulai dari adanya kebocoran pada nefron atau glomerolus dimana neforn ini atau glomerolus ini berfungsi untuk menahan molekul-molekul besar yang lewat disana," jelas Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM.

Apabila kondisi hiperglikemik berlangsung dimana dara mengandung kadar gula yang terlalu tinggi, maka bisa menyebabkan kerusakan pada proses filtrasi atau saringan dari organ ginjal.

Jika hal ini berlangsung lama maka protein yang berukuran besar bisa melewati akibat saringan atau proses filtrasi ginjal tidak sempurna.

3 dari 3 halaman

Hal ini bisa dideteksi dari pemeriksaan protein di kencing.

Baca juga: Cara Mengatasi Trauma pada Korban Kekerasan Seksual Menurut Adib Setiawan S.Psi., M.Psi

ilustrasi ginjal penderita diabetes, begini keterangan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM
ilustrasi ginjal penderita diabetes, begini keterangan Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM (health.grid.id)

Baca juga: Psikolog Sebut Kekerasan Seksual Bisa Menyebabkan Depresi hingga Gangguan Jiwa

Penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Brigjen Pol dr. Farid Amansyah, Sp. PD, FINASIM dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Kita edisi 14 November 2022.

(Tribunhealth.com/DN)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved