Breaking News:

Hanya Mitos, Usus Buntu Tak Disebabkan oleh Biji Cabai atau Jambu Biji, Ini Pencetus Sebenarnya

Banyak yang menyebut, bahwa usus buntu terjadi akibat biji cabai atau konsumsi jambu biji lalu menyumbat usus.

lifestyle.kompas.com
Ilustrasi konsumsi cabai-Dokter menyebut bahwa asumsi biji cabai bisa sebabkan usus buntu tidak benar. 

TRIBUNHEALTH - Usus buntu adala kondisi yang harus diwaspadai.

Pasalnya, penyakit usus buntu bisa terjadi pada siapa saja.

Banyak yang menyebut, bahwa usus buntu terjadi akibat biji cabai atau konsumsi jambu biji lalu menyumbat usus.

Baca juga: Bagaimana Tindakan yang Tepat untuk Penderita Radang Usus Buntu? Begini Penjelasannya

Padahal anggapan tersebut hanyalah asumsi semata yang tidak dapat dibenarkan. Peryataan ini disampaikan oleh dr. Andi Siswandi, Sp.B.

"Bukan disebabkan makan bji cabai, jambu biji lalu menyumbat di usus. Jadi asumsi seperti itu adalah tidak benar," ungkapnya dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Lampung News Video.

Ilustrasi konsumsi cabai
Ilustrasi konsumsi cabai (freepik.com)

Karena sesungguhnya, penyakit yang ada pada saluran pencernaan ini, banyak disebabkan oleh pola makan tidak baik.

Pola makan yang tidak baik ini artinya penderita kurang konsumsi:

- Sayur

Baca juga: Buah dan Sayuran Berikut Dapat Bantu Turunkan Hipertensi, Termasuk Wortel dan Brokoli

- Buah

- Air putih

2 dari 4 halaman

- Terlalu banyak konsumsi junk food

Ilustrasi makanan yang tidak sehat untuk tubuh
Ilustrasi makanan yang tidak sehat untuk tubuh (freepik.com)

"Serat kurang menyebabkan feses mengeras, lalu masuk ke lubang usus buntu (terjebak)," terang Andi.

Padahal yang namanya feses penuh dengan bakteri maka akhirnya menimbulkan sumbatan di usus buntu.

Lambat laun, sekitar 2 hingga 3 hari akan meradang.

Baca juga: Apakah Nyeri Perut Ada Kaitannya dengan Usus Buntu?

Pada masa ini, pasien biasanya akan mengeluhkan rasa:

- Tidak nyaman

- Mual

Ilustrasi seseorang sedang mual akibat derita usus buntu
Ilustrasi seseorang sedang mual akibat derita usus buntu (bali.tribunnews.com)

- Maag

- Nyeri di ulu hati yang lalu berpindah ke perut kanan bawah.

Tanda di atas sangat khas bagi para penderita usus buntu.

3 dari 4 halaman

Waspada Nyeri Perut

Nyeri perut adalah keluhan yang banyak dialami masyarakat.

Keluhan nyeri perut ini, bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor penyebab.

Baca juga: Konsumsi Pisang hingga Air Kelapa untuk Redakan Gejala Flu Perut

Ilustrasi nyeri perut
Ilustrasi nyeri perut (grid.id)

Mulai dari hal yang sederhana hingga kompleks, seperti tanda penyakit berbahaya.

Salah satu tanda penyakit yang mencetuskan keluhan nyeri perut ialah usus buntu.

Seseorang yang mengalami keluhan nyeri perut tanda usus buntu sebaiknya tidak asal untuk melakukan pijat urut.

Baca juga: Benarkan Pijat Memberikan Dampak Positif bagi Tubuh? Berikut Ulasan Dokter

Karena rupanya, tindakan pemijatan tersebut bisa berisiko membuat usus buntu menjadi pecah.

"Bila mengalami nyeri perut kanan bawah selama 2 sampai 3 hari lalu diurut, maka usus buntu bisa pecah," kata Andi.

Tanda di atas telah merujuk pada kondisi usus buntu akut.

Ilustrasi usus buntu
Ilustrasi usus buntu (freepik.com)

Usus buntu yang pecah tersebut, bisa mengiritasi seluruh dinding perut.

4 dari 4 halaman

Keadaan ini dinamakan dengan Peritonitis. Menurut Andi, Penyakit Peritonitis sangat mengancam jiwa.

Lantaran, pasien yang biasanya mengalami Peritonis, kondisinya memburuk akibat infeksi yang sudah menyebar di seluruh tubuh.

Baca juga: Bisakah Kanker Usus Menurun Secara Genetik? Begini Kata dr. Kaka Renaldi Sp.PD-KGEH

Oleh karena itu, ia berharap seluruh tenaga medis bisa memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memahami bahaya dari nyeri perut.

Dengan begitu, setiap tanda yang mengarah pada diagnosa nyeri perut, pasien bisa tanggap melakukan pengobatan bersama dokter.

Usus Buntu Kronis

Penyakit usus buntu adalah suat tanda pencernaan mengalami masalah.

Dalam bahasa medis, penyakit usus buntu dikenal sebagai apendiks.

Sedangkan masyarakat secara awam menyebutnya sebagai umbai cacing.

Ilustrasi penderita usus buntu
Ilustrasi penderita usus buntu (freepik.com)

Seseorang yang mengalami usus buntu, diwajibkan untuk mendapatkan penanganan dokter.

Walau terkenal sebagai penyakit yang cukup serius, sebenarnya usus buntuk telah dimiliki setiap orang.

Usus buntu yang kronis bisa menyebabkan peritonitis.

Baca juga: Tak Hanya Baik untuk Usus, Probiotik juga Bisa Bermanfaat untuk Redakan Batuk

Peritonitis adalah peradangan yang terjadi pada lapisan tipis di dinding perut (peritonium).

Keadaan Peritonitis disebabkan oleh infeksi yang membuat Peritonium mengalami peradangan.

Seseorang yang mengalami peritonitis akan menunjukkan sejumlah gejala. Di antaranya:

- Nyeri perut kanan bawah selama 2-3 hari.

Ilustrasi nyeri perut
Ilustrasi nyeri perut (grid.id)

- Selang 5 hari, usus akan pecah lalu berlanjut nyeri pada seluruh perut.

"Jadi awalnya peradangan saja di usus buntu."

"Bila keada tersebut terus dibiarkan, maka bisa pecah, bernanah (menginveksi peritonium)," papar Andi.

Baca juga: Waspada Kanker Usus yang Mudah Terjadi pada Usus Besar, Ini Penjelasan dr. Kaka Renaldi, Sp.PD, KGEH

Disebut peritonius memiliki beberapa jenis, di antaranya:

1. Peritonitis difus

Adalah peradangan yang ditandai dengan rasa nyeri pada seluruh perut.

2. Peritonitis apendiks

Disebut juga sebagai penderita peritonitos sekunder.

Perbedaan Peritonitis primer dan sekunder

Peritonitis memiliki 2 jenis, yaiti:

- Peritonitis primer

Peritonitid primer merupakan suatu peradangan yang disebabkan oleh peritonium.

ilustrasi letak usus buntu
ilustrasi letak usus buntu (manado.tribunnews.com)

- Serta peritonitis sekunder

Keadaan ini bisa dipicu oleh usus buntu, lambung/ usus kecil yang pecah.

Karena organ berongganya pecah, maka cairan yang seharusnya berada di rongga keluar.

Lalu mengiritasi atau melakukan peradangan hebat pada peritonium.

Baca juga: Konstipasi hingga Seks Anal Bisa Sebabkan Fisura Ani, Robeknya Lapisan Usus Besar Dekat Anus

Maka disimpulkan, penderita usus buntu yang pecah memiliki risiko tinggi terhadap kematian.

Penjelasan dr. Andi Siswandi, Sp.B ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Lampung News Video.

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved