TRIBUNHEALTH.COM - Tentunya pernah melihat beberapa anak memiliki kebiasaan menghisap jari.
Sebagian orangtua ada yang berusaha menghentikan kebiasaan tersebut, namun ada juga yang tidak peduli dengan kebiasaan anak menghisap jari.
Beberapa orang menganggap kebiasaan anak menghisap jari karena pada usia tersebut seorang anak masih belajar mengenal rasa.
Penyebab seorang anak lebih suka menghisap jari yakni :
1. Faktor psikologi
Disaat anak merasa lelah, takut, bingung, sakit atau sedang melakukan penyesuaian dengan lingkungannya ia akan mulai menghisap ibu jarinya.

Baca juga: Apakah Hasil Depigmentasi Gusi Gelap Bisa Bertahan Lama jika Pasien Miliki Riwayat Penyakit Khusus?
Ini juga bisa menjadi kebiasaannya saat menjelang tidur atau saat anak mulai mengantuk.
- Etiologi kebiasaan menghisap jempol atau jari-jari dapat disebabkan balita atau anak-anak dalam kondisi kecemasan, kelaparan, rasa bosan, ketegangan, ketakutan, stress emosional ataupun adanya keinginan yang tidak terpenuhi.
Terkadang balita yang tidak puas menghisap ASI karena ibu terlalu sibuk bekerja, atau produksi ASI kurang menyebabkan bayi menghisap jari atau jempol sebagai pemuasan dan menciptakan perasaan nyaman.
Pada balita yang sering dilarang atau dimarahi orangtuanya ketika memasukkan jari maupun mainan ke dalam mulut, fase oralnya menjadi tidak maksimal dan beresiko mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan kematangan daerah rongga mulut sehingga mengganggu kemampuan berbicara dan makan.
Baca juga: dr. Andi Siswandi Sp.B Paparkan Gejala-gejala Kanker Lambung yang Jarang Disadari
Contohnya, ada anak usia 2 tahun yang belum mampu mengunyah nasi dan harus terus makan bubur.
Pada studi kasus menyatakan anak-anak usia sekolah yang mempunyai kebiasaan buruk menghisap jari memiliki kecenderungan interaksi sosial dan tingkat intelegensia yang rendah.
- Fase oral
Merupakan fase perkembangan psikologis manusia yang memperoleh kepuasan dengan menghisap jari tangannya.
Fase di mana bayi merasa puas melakukan kegiatan dalam mulutnya, bisa dalam bentuk mengemut, mengulum, menggigit atau menghisap – hisap benda tertentu.
Fase oral terjadi bertahap, mulai dari anak memasukkan benda yang di dekatkan padanya, misal payudara ibu, lalu berkembang dengan memasukkan anggota tubuhnya sendiri ke dalam mulutnya.
Baca juga: Apakah Tindakan Bedah pada Gusi Memerlukan Anastesi? Begini Penjelasan drg. Anastasia
Selanjutnya berkembang memasukkan benda yang dipegang untuk mengeksplorasi benda tersebut.
- Fase yang wajar/ normal terjadi pada anak
Dalam fase oral, perlu dpastikan tangan anak dalam keadaan bersih dan kukunya tidak tajam, serta mengatur kedalamaan tangan saat masuk ke dalam mulut sehingga tidak muntah.
Rentang usia : 0 – 24 bulan (terutama 4 bulan).
Jika kebiasaan menghisap jari terus dilakukan sampai setelah rentang usai lebih dari 24 bulan, menunjukkan kebiasaan mulut yang buruk.
Kebiasaan anak menghisap jari apabila dilakukan masih dalam usia fase oral tidak akan membahayakan kesehatan.
Namun, jika kebiasaan terus berlanjut sampai melewati usia fase oral, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak.
Baca juga: Bisakah Hilangkan Bau Badan secara Permanen? Simak Penjelasan dr. Yulia Asmarani Sp.DV
Saat balita atau anak menghisap jari ke dalam mulut dapat menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan pada gigi dan jaringan lunak sekitar dan memicu permasalahan gigi geligi dan rahang berupa perubahan pola pertumbuhan rahang, lengkung gigi, jaringan pendukung gigi, posisi gigi depan dan rahang tampak maju serta munculnya gigitan terbuka sehingga dibutuhkan penanganan lanjut oleh dokter gigi.
Akibat kebiasaan buruk ini dipengaruhi oleh 3 faktor antara lain :
- Durasi atau jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kebiasaan buruk,
- Frekuensi yang menunjukkan berapa kali dalam sehari kebiasaan buruk dilakukan
intensitas yang dinilai dari seberapa kuat kebiasaan buruk dilakukan yaitu masuk dalam kategori ringan, sedang atau berat.
Saat anak memasukkan tangan ke dalam mulutnya, akan membantu kemampuan oromotor (kemampuan mulutnya untuk mengunyah) dengan mendorong sensor lidah yang tadinya hanya aktif di bagian depan, menjadi aktif hingga pangkal lidah.
Baca juga: Pisang Mengandung Kalium, Penting untuk Kinerja Saraf dan Kontrol Tekanan Darah
Kondisi ini menjadi persiapan agar nanti saat waktunya anak makan, anak lebih mudah mengunyah makanan tanpa banyak melepeh.
Apabila menghisap jari dilakukan pada fase oral, orang tua tidak perlu melarang karena jika anak gagap mendapatkan kepuasan pada fase ini, dapat mempengaruhi kepirbadiannya secara psikologi (Freud).
Anak akan cenderung bergantung terhadap sesuatu yang berkaitan dengan mulutnya.
Contohnya, ketika dewasa bisa menjadi orang yang makan terus-menerus saat stres, hobi menggigit jari, hingga kecanduan alkohol dan merokok, dsb.
Bahkan secara psikologi, anak bisa menjadi orang yang sarkastik jika ia gagal melalui fase oral ini.
Alasan anak lebih memilih mengisap jari daripada menyusu :
Secara psikologi, lebih kepada faktor kenyamanan.
Baca juga: Menyusui Bermanfaat untuk Ibu, Bisa Cegah Depresi Postpartum (PPD) hingga Turunkan Berat Badan
Lakukan pemberian ASI sesering mungkin agar anak kembali menemukan sumber kenyamanan dari payudara ibu saat menyusui
Produksi ASI berkurang, menyebabkan anak menjadi kesal dan tidak sabar, sehingga menemukan sumber kenyamanan lain, termasuk dengan menghisap jari.
Hindari pemberian ASI menggunakan botol dot karena akan membuat anak bingung puting dan semakin tidak mau menyusui langsung.
Tidak ada yang lebih baik di antara menghisap jari ataupun menghisap empeng, apalagi kalau dilakukan berkepanjangan melewati batas usia fase oral.
3 faktor yang perlu diperhatikan antara lain :
- Durasi atau jangka waktu
- Frekuensi
- Intensitas
Baca juga: Kenali Manfaat Slimming Treatment, Prosedur Hilangkan Sel Lemak yang Menumpuk di Area Tubuh
Kebiasaan anak menghisap jari perlu dihentikan oleh orang tua apabila dilakukan sampai melewati batas usia fase oral, karena berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang, yang akan mempengaruhi pola pengunyahan dan cara berbicara.
Adakah cara menghilangkan kebiasaan anak menghisap jari?
Begini penjelasan drg. Wiwik Elnangti Wijaya, Sp.KGA.
Ia merupakan seorang spesialis dokter gigi anak.
Sejak 2014 hingga sekarang, Wiwik masih konsisten menjadi staf medis RSUD Salewangang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sebelum bekerja di RSUD Salewangang, pada 2019 ia sempat berprofesi sebagai seorang dosen di Departemen Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
Baca juga: Apakah Pemicu Psikotik Pasien Covid-19 yang Tidak Memiliki Riwayat Gangguan Kejiwaan?
Sembari mengajar, ia juga menjadi Staf Medis Rumah Sakit Gigi Universitas Hasanuddin.
Sebelum menjadi seorang dokter gigi, ia sempat mengenyam sejumlah pendidikan.
Di antaranya:
- Jurusan Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, Bandung (2011-2014)
- Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin Makassar (1999-2006)
- Sekolah Menengah Atas No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1996-1999)
- Sekolah Menengah Pertama No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1993-1996)
- Sekolah Dasar No. 3, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1987-1993).
Baca juga: Penderita Fibromialgia Perlu Atur Pola Makan, Harus Menghindari Konsumsi MSG
Kini ia bergabung dalam dua organisasi kesehatan. Yaitu:
1. Anggota Perhimpunan Dokter Gigi Anak Indonesia.
2. Anggota Ikatan Dokter Gigi Indonesia
Sejumlah peneltian pernah ia lakukan.
Berikut ini beberapa penelitian dan artikel yang pernah ia buat.
Di antaranya:
1. Hubungan Gingivitis dengan Kebersihan Mulut di SDN Kurusumange Kabupaten Maros
2. Perbandingan Efek Inhibisi Aloe Vera dan NaF secara in vitro.
Profil lengkap drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA bisa dilihat disini.
Baca juga: Seringkali Diabaikan, Ternyata Pria Membutuhkan Skin Care untuk Kulit Cenderung Berminyak
Pertanyaan :
Adakah cara menghilangkan kebiasaan anak menghisap jari?
Anggra, Solo
drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA menjawab :
- Mencari tahu penyebabnya
Cari tahu lebihi dulu penyebab anak suka mengisap jari.
Jika anak menghisap jempol saat sedang khawatir atau stres, orang tua bisa mengalihkan ke hal yang bisa membuatnya nyaman, seperti memeluknya, atau mengucapkan kata – kata yang membuatnya tenang.
Jika anak menghisap jempol saat sedang bosan, orang tua dapat memberikan aktivitas yang menyenangkan, seperti mewarnai gambar, melukis atau bermain bola bersama.
- Memberikan reward/ hadiah
Memberikan hadiah saat anak berhasil meninggalkan kebiasaan menghisap jari.
Hadiah tidak harus berbentuk barang, tetapi bisa berupa pelonggaran aturan, misalnya anak boleh bermain di taman jika berhasil tidak menghisap jari selama seharian.
- Memberikan batas waktu
Jika anak sudah cukup besar, orang tua dapat memberikan batasan waktu dalam menghisap jari, misalnya hanya membolehkan anak menghisap jari di sore atau siang hari.
Dengan memberi aturan tersebut, diharapkan anak dapat menghentikan kebiasaan ini secara perlahan - lahan.
- Memberikan pemahaman
Memberikan pemahaman kepada anak tentang akibat buruk dari menghisap jempol dengan cara yang sabar.
- Memakaikan sarung tangan
Bila perlu, orang tua dapat memakaikan anak sarung tangan.
Hal ini akan membuatnya merasa tidak nyaman saat menghisap jempol, sehingga anak akan menghentikan kebiasaan tersebut perlahan – lahan.
(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)