Breaking News:

Apakah Pemicu Psikotik Pasien Covid-19 yang Tidak Memiliki Riwayat Gangguan Kejiwaan?

Gejala psikotik disebut sebagai gejala terbaru pasien covid-19. Pasien yang sudah sembuh dari covid-19, belakangan memiliki gejala yang tidak biasa.

freepik.com
ilustrasi gangguan prikotik pada pasien covid-19 

TRIBUNHEALTH.COM - dr. Danardi menyampaikan, dalam pemahaman psikiatri psikotik terdiri dari 2 jenis apakah yang bersifat organik disebabkan oleh penyakit lain atau kondisi fisik seseorang dan psikotik fungsional.

Kondisi psikotik fungsional murni dari masalah kejiwaan atau masalah mental.

Pasien yang mengalami beberapa gejala psikotik seperti halusinasi, delusi, gangguan perilaku, mood yang sering berubah termasuk gejala yang lazim ditemukan dan bisa diapatkan dari psikotik organik maupun fungsional.

Gangguan delusi merupakan gangguan yang tidak rasional atau keyakinan yang sebenarnya tidak nyata tetapi penderita sulit sekali atau dikatakan tidak bisa disampaikan kenyataannya.

Halusinasi ialah persepsi pikir yang dikaitkan dengan panca indera, seperti halusinasi dengar, halusinasi penglihatan, penciuman, pengecapan dan halusinasi perabaan.

ilustrasi gangguan prikotik pada pasien covid-19
ilustrasi gangguan prikotik pada pasien covid-19 (freepik.com)

Baca juga: Kebiasaan Anak Menghisap Jari Perlukah Dihentikan oleh Orangtua? Ini Kata drg. Wiwik Elnangti Sp.KGA

dr. Danardi menyampaikan, banyak dilaporkan halusinasi visual atau halusinasi penglihatan lebih mengarahkan bahwa psikosis yang dialami pasien adalah organik.

Tetapi pada psikosis fungsional, pasien lebih banyak mengalami halusinasi pendengaran.

dr. Danardi mengatakan, covid-19 tergolong masih baru dan yang yang dilaporkan hanya secara klinis saja bahwa mereka merawat pasien covid-19 tetapi muncul gejala psikotik, tentu hal ini memerlukan pendalaman.

"Apakah penyakit tersebut berbeda atau terpisah atau penyakit yang saling mempengaruhi," katanya.

Apabila penyakit yang saling mempengaruhi tentu bisa "Apakah mengalami suatu peradangan atau sitokin yang membludak."

Atau dikarenakan adanya suatu infeksi ketika demam dan mengalami panas yang tinggi, bisa menimbulkan psikotik organik dan bisa muncul halusinasi.

Baca juga: Tak Hanya Orang Dewasa, Depresi Juga Bisa Dialami Anak-anak, Simak Ulasan dr. Hary Purwono, Sp.KJ

Tetapi secara subjektif atau seseorang lebih ke arah masalah freezer atau stressor bahwa seseorang yang didiagnosis covid-19 merupakan suatu tekanan besar, merupakan stressor yang berat bisa memicu gangguan halusinasi yang sifatnya murni atau berlebihan dan menjadi tidak rasional.

dr. Danardi mengatakan, apabila pasien tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan jiwa dan saat berdekatan dengan diagnosis covid-19 juga diagnosis psikotik, maka mengindikasikan adanya hubungan erat antara gangguan psikotik dan terinfeksi covid-19.

Tentu saja kejadian tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut.

"Hubungannya bagaimana, apakah covid-19 terlebih dahulu atau mungkin begitu pasien mengalami ketakutan saat pandemi sudah mengalami kecemasan yang berlebih, " pungkasnya.

Untuk menentukan kejadian mana yang lebih dulu dialami harus dilakukan penelitian yang panjang.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV bersama dengan dr. Danardi Sosrosumihardjo Sp.KJ. Seorang dokter spesialis kedokteran jiwa.

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved