Breaking News:

Tak Hanya Orang Dewasa, Depresi Juga Bisa Dialami Anak-anak, Simak Ulasan dr. Hary Purwono, Sp.KJ

Menurut Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ pada anak-anak dengan kondisi tertentu dan memiliki risiko genetik bisa berisiko alami depresi.

kompas.com
ilustrasi anak alami depresi, menurut Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ bisa dipengaruhi faktor genetik 

TRIBUNHEALTH.COM - Depresi merupakan gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai proses berpikir, berperasaan dan berperilaku seseorang.

Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ mengatakan jika pada negara berkembang seperti Indonesia, seseorang yang berusia 24 tahun rentan mengalami depresi.

Secara teori, usia 24 tahun atau di atas 24 tahun adalah usia dewasa muda.

Di mana terjadi peralihan dari usia remaja ke masa dewasa muda.

Pada fase ini, orang mulai memasuki fase tuntutan kehidupan lebih besar dari sebelumnya.

Kemudian tuntutan terhadap produktivitas, tuntutan terhadap gaya hidup, dan tuntutan pola pikir menjadi lebih besar dari sebelumnya yang pernah dialami.

Baca juga: Jangan Cemas, Gangguan Skizofrenia Bisa Disembuhkan, Begini Kata Adib Setiawan, S.Psi., M.Psi

ilustrasi seorang anak yang mengalami depresi, menurut Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ sangat mungkin terjadi pada anak-anak
ilustrasi seorang anak yang mengalami depresi, menurut Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ sangat mungkin terjadi pada anak-anak (lifestyle.kompas.com)

Hal ini disampaikan oleh Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk edisi 02 Juli 2022.

Baca juga: Jika Dokter Gigi Menganjurkan Dilakukan Odontektomi, Haruskah Segera Dilakukan? Begini Kata Dokter

Pada masa-masa remaja mungkin tanggung jawab akan hal tersebut tidak terlalu signifikan dibandingkan pada masa usia dewasa muda.

"Seseorang itu biasanya mulai lulus dari masa itu sekitar usia 23 sampai 25 tahun. Mungkin rata-rata di rentang usia tersebut," ujar Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

"Nah, pada saat di usia tersebut dari masa kuliah S1 kemudian dia mulai bekerja ini adalah memasuki dunia baru yang signifikan dalam melatih kekuatan mental baru akan berinteraksi dengan banyak kebijakan-kebijakan baru," sambungnya.

2 dari 3 halaman

Di mana kebijakan-kebijakan tersebut mungkin tidak sepenuhnya bisa diterima.

"Dalam artian pada masa SMA, remaja, kemudian kuliah dia masih bisa hidup tanpa harus memikirkan dirinya itu harus menjalani kebijakan yang ditetapkan oleh orang lain," kata Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

"Mungkin hanya berinteraksi dengan teman dan dengan orang tuanya," pungkas Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

Akan tetapi pada saat dia sudah mulai menjalani masa-masa bekerja, orang lain menuntut dengan banyak sekali tanggung jawab, hal inilah yang membuat seseorang menjadi lebih berat dalam menetralisir konflik dan menetralisir permasalahan yang ada di lingkungannya.

Baca juga: Beberapa Orang Enggan Datang ke Psikolog Karena Takut Dianggap Gila, Begini Tanggapan Psikolog

ilustrasi depresi, Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ paparkan alasan pada usia 24 tahun berisiko alami depresi
ilustrasi depresi, Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ paparkan alasan pada usia 24 tahun berisiko alami depresi (kompas.com)

Baca juga: Cegah Keparahan Skoliosis, dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine Bagikan Beberapa Tips untuk Pencegahannya

Bisa disimpulkan jika hal ini terjadi akibat proses peralihan, dimana pada usia 24 tahun kemungkinan seseorang akan mendapatkan tanggung jawab baru.

Seseorang yang tidak kuat menghadapi kondisi ini akan rentan mengalami depresi.

Lantas apakah mungkin jika depresi dialami pada masa anak-anak?

Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ mengatakan jika hal ini sangat memungkinkan terjadi.

Jadi pada anak-anak dengan kondisi tertentu, misalnya memiliki risiko genetik seperti gangguan bipolar maka akan sangat memengaruhi.

"Misalnya salah satu orang tuanya, pernah punya riwayat gangguan bipolar terutama ibu itu kecenderungannya lebih besar pada anak," ungkap Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

3 dari 3 halaman

"Kemudian sekarang juga sering kita ketahui adanya disebutkan mungkin di lingkungan sekolah itu pembulian," terang Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

"Mungkin kondisi-kondisi tertentu yang ada di sekolahnya itu mungkin kurang nyaman di buli oleh teman-temannya ataupun mungkin tidak bisa ikut satu geng sama teman sekolahnya," tambahnya.

Baca juga: Mochi Infus, Treatment yang Memiliki Banyak Manfaat, dari Mengatasi Jerawat Hingga Anti Aging

Ilustrasi depresi akibat bullying, simak penjelasan Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ
Ilustrasi depresi akibat bullying, simak penjelasan Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ (Tribunnews.com)

Baca juga: Tak Hanya Sebabkan Hasrat Seksual Menurun, Merosotnya Testosteron Juga Picu Berbagai Hal Berikut

"Itu pada kondisi anak-anak dengan kepribadian tertentu misalnya itu bisa cenderung mengalami gangguan depresi. Mulai dia merasa sedih, merasa tidak berguna, merasa tidak dianggap, seperti itu," lanjut Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ.

Penjelasan Mayor Kes dr. Hary Purwono, Sp.KJ dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk edisi 02 Juli 2022.

(Tribunhealth.com/DN)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved