TRIBUNHEALTH.COM - Tentunya pernah melihat pada beberapa anak memiliki kebiasaan menghisap jari.
Sebagai orangtua, beberapa di antaranya ada yang berusaha menghentikan kebiasaan tersebut, namun ada juga yang tidak peduli dengan kebiasaan anak menghisap jari.
Beberapa orang menganggap kebiasaan anak menghisap jari karena pada usia tersebut seorang anak masih belajar mengenal rasa.
Penyebab seorang anak lebih suka menghisap jari yakni :
1. Faktor psikologi
Di saat anak merasa lelah, takut, bingung, sakit atau sedang melakukan penyesuaian dengan lingkungannya ia akan mulai menghisap ibu jarinya.

Baca juga: Mengenal Bipolar, Gangguan Mental yang Kerap Dianggap sebagai Gangguan Keprinadian
Ini juga bisa menjadi kebiasaannya saat menjelang tidur atau saat anak mulai mengantuk.
- Etiologi kebiasaan menghisap jempol atau jari-jari dapat disebabkan balita atau anak-anak dalam kondisi kecemasan, kelaparan, rasa bosan, ketegangan, ketakutan, stress emosional ataupun adanya kinginan yang tidak terpenuhi.
Terkadang balita yang tidak puas menghisap ASI karena ibu terlalu sibuk bekerja, atau produksi ASI kurang menyebabkan bayi menghisap jari atau jempol sebagai pemuasan dan menciptakan perasaan nyaman.
Pada balita yang sering dilarang atau dimarahi orangtuanya ketika memasukkan jari maupun mainan ke dalam mulut, fase oralnya menjadi tidak maksimal dna beresiko mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan kematangan daerah rongga mulut sehingga mengganggu kemampuan berbicara dan makan.
Baca juga: Heboh Hepatitis Misterius Akut yang Menyerang Anak, Ini Penjelasan dr. Ryan Bayusantika Sp.PK
Contohnya, ada anak usia 2 tahun yang belum mampu mengunyah nasi dan harus terus makan bubur.
Pada studi kasus menyatakan anak-anak usia sekolah yang mempunyai kebiasaan buruk menghisap jari memiliki kecenderungann interkasi sosial dan tingkat intelegensia yang rendah.
- Fase oral
Merupakan fase perkembangan psikologis manusia yang memperoleh kepuasan dengan menghisap jari tangannya.
Fase dimana bayi merasa puas melakukan kegiatan dalam mulutnya, bisa dalam bentuk mengemut, mengulum, menggigit atau menghisap – hisap benda tertentu.
Baca juga: Mengenal Faktor Terkait Hiperpigmentasi atau Pewarnaan pada Gingiva
Fase oral terjadi bertahap, mulai dari anak memasukkan benda yang di dekatkan padanya, misal payudara ibu, lalu berkembang dengan memasukkan anggota tubuhnya sendiri ke dalam mulutnya.
Selanjutnya berkembang memasukkan benda yang dipegang untuk mengeksplorasi benda tersebut.
- Fase yang wajar/ normal terjadi pada anak
Dalam fase oral, perlu dpastikan tangan anak dalam keadaan bersih dan kukunya tidak tajam, serta mengatur kedalamaan tangan saat masuk ke dalam mulut sehingga tidak muntah.
Rentang usia : 0 – 24 bulan (terutama 4 bulan).
Jika kebiasaan menghisap jari terus dilakukan sampai setelah rentang usai lebih dari 24 bulan, menunjukkan kebiasaan mulut yang buruk.
Baca juga: Kenali Fungsi Gusi atau Gingiva hingga Faktor-faktor yang Memengaruhi Kejadian Pigmentasi
Apakah kebiasaan menghisap jari dapat membahayakan kesehatan anak?
Begini penjelasan drg. Wiwik Elnangti Wijaya, Sp.KGA.
Ia merupakan seorang spesialis dokter gigi anak.
Sejak 2014 hingga sekarang, Wiwik masih konsisten menjadi staf medis RSUD Salewangang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sebelum bekerja di RSUD Salewangang, pada 2019 ia sempat berprofesi sebagai seorang dosen di Departemen Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
Sembari mengajar, ia juga menjadi Staf Medis Rumah Sakit Gigi Universitas Hasanuddin.
Sebelum menjadi seorang dokter gigi, ia sempat mengenyam sejumlah pendidikan.
Baca juga: Dokter Spesialis Kulit Jelaskan Penggunaan Krim dan Perawatan Kulit yang Benar
Di antaranya:
- Jurusan Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, Bandung (2011-2014)
- Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin Makassar (1999-2006)
- Sekolah Menengah Atas No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1996-1999)
- Sekolah Menengah Pertama No. 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1993-1996)
- Sekolah Dasar No. 3, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (1987-1993).
Kini ia bergabung dalam dua organisasi kesehatan. Yaitu:
1. Anggota Perhimpunan Dokter Gigi Anak Indonesia.
2. Anggota Ikatan Dokter Gigi Indonesia
Baca juga: Simak Ulasan dr. Sigit Setiaji Sp.OG Mengenai Kondisi Ibu Hamil yang Rentan Mengalami Hiperemesis
Sejumlah penelitian pernah ia lakukan.
Berikut ini beberapa penelitian dan artikel yang pernah ia buat.
Di antaranya:
1. Hubungan Gingivitis dengan Kebersihan Mulut di SDN Kurusumange Kabupaten Maros
2. Perbandingan Efek Inhibisi Aloe Vera dan NaF secara in vitro.
Profil lengkap drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA bisa dilihat disini.
Pertanyaan :
Apakah kebiasaan menghisap jari dapat membahayakan kesehatan anak?
Anggra, Solo
Baca juga: Serba-serbi Chemical Peeling: Jenis, Manfaat hingga Resiko Perawatan Hilangkan Sel Kulit Mati
drg. Wiwik Elnangti Wijaya Sp.KGA menjawab :
Kebiasaan anak menghisap jari apabila dilakukan masih dalam usia fase oral tidak akan membahayakan kesehatan.
Namun, jika kebiasaan terus berlanjut sampai melewati usia fase oral, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak.
Saat balita atau anak menghisap jari ke dalam mulut dapat menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan pada gigi dan jaringan lunak sekitar dan memicu permasalahan gigi geligi dan rahang berupa perubahan pola pertumbuhan rahang, lengkung gigi, jaringan pendukung gigi, posisi gigi depan dan rahang tampak maju serta munculnya gigitan terbuka sehingga dibutuhkan penanganan lanjut oleh dokter gigi.
Akibat kebiasaan buruk ini dipengaruhi oleh 3 faktor antara lain :
- Durasi atau jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kebiasaan buruk,
- Frekuensi yang menunjukkan berapa kali dalam sehari kebiasaan buruk dilakukan
intensitas yang dinilai dari seberapa kuat kebiasaan buruk dilakukan yaitu masuk dalam kategori ringan, sedang atau berat.
(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)