Breaking News:

Perawatan Penyandang Hemofilia yang Perlu Diketahui, Simak Ulasan dr. Novie Amelia Chozie, Sp. A(K)

Berikut ini simak penjelasan dokter mengenai perawatan penyandang Hemofilia

Freepik.com
Ilustrasi dokter melakukan pemeriksaan kepada pasien. 

TRIBUNHEALTH.COM - Hemofilia adalah salah penyakit kelainan darah.

Seseorang yang menderita Hemofilia biasa disebut sebagai penyandang Hemofilia.

Penyakit Hemofilia tidak bisa dianggap sebelah mata.

Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Tes Darah untuk Prediksi Stroke, Serangan Jantung, dan Gagal Jantung

Seseorang yang menderita Hemofilia harus mendapatkan perawatan yang tepat.

Dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube KompasTV, dr. Novie Amelia Chozie, Sp. A(K) membagikan cara penanganan bagi penyandang Hemofilia.

Berdasarkan penjelasan Novie, penanganan Hemofilia disesuaikan dengan tipe yang diderita.

Ilustrasi Hemofilia
Ilustrasi Hemofilia (Pixabay)

Bila penyandang mengalami Hemofilia dengan tipe A, maka bisa diberikan faktor pembekuan darah 8.

Namun jika penyandang mengalami Hemofilia tipe B, maka akan diberikan faktor pembekuan darah 9.

Baca juga: dr. Olga Rasiyanti Siregar Sebut Jumlah Kantong Darah yang Dibutuhkan oleh Penyandang Talasemia

Pemberian faktor pembekuan darah baik 8 maupun 9 hingga saat ini masih melalui suntikan intra vena (masuk pembuluh darah).

Pemberian suntikan ini idealnya diberikan sejak mengalami pendarahan pertama dan selanjutnya dilakukan secara rutin.

Ilustrasi pemberian suntikan terhadap penderita Hemofilia
Ilustrasi pemberian suntikan terhadap penderita Hemofilia (health.kompas.com)
2 dari 4 halaman

Namun sayangnya penerapan ini masih sulit dilakukan di Indonesia karena tersandung biaya yang cukup tinggi.

"Di kita masih belum bisa, karena harga obat ini mahal."

"Jadi di Indonesia masih diberikan jika diperlukan saja, bila ada pendarahan baru dikasih," ungkap Novie.

Baca juga: Hipertensi Bisa Sebabkan Jantung Jadi Melar, Dokter Tekankan Pentingnya Kontrol Tekanan Darah

Kendati demikian, Novie berharap keadaan ini bisa berubah.

Sehingga penyandang Hemofilia mudah mendapatkan pengobatan secara rutin.

Kasus Hemofilia di Indonesia

Ilustrasi penderita hemofilia
Ilustrasi penderita hemofilia (kompasiana.com)

Penderita Hemofilia umum disebut sebagai penyandang Hemofilia.

Tercatat pada 2021, angka kasus penyandang Hemofilia sekitar 2700 pasien.

Angka ini sudah tercantum pada data Indonesian Hemofilia Society.

Baca juga: Diare Bisa Sebabkan Anak Kencing Berdarah hingga Penurunan Kesadaran, Simak Pemicunya menurut Dokter

Novie mengatakan, seharusnya berdasarkan hitungan statistik angka penderita Hhemofilia lebih dari angka tersebut.

3 dari 4 halaman

Hal ini telah menandakan bahwa masih banyak masyarakat penyandang Hemofilia yang belum tercatat.

ilustrasi seseorang yang mengalami hemofilia
ilustrasi seseorang yang mengalami hemofilia (pixabay.com)

"Seharusnya dengan jumlah penduduk kita 260 jutaan, ada sekitar 25 ribu."

"Jadi memang di Indonesia ini, kita masih menghadapi masalah under diagnosis," ungkap Novie.

Banyaknya penyandang Hemofilia yang belum bisa terdata, lantaran banyak masyarakat yang belum memahami penyakit ini.

Baca juga: Penelitian Ilmiah Sebut Pelihara Hewan Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah Tinggi

Seperti dalam mengenali gejala dan belum ada pemeriksaan yang memadai yang mudah ditemukan di setiap rumah sakit.

Derajat Keparahan Hemofilia

Hemofilia memiliki derajat keparahan.

Tiga derajat itu ialah:

Ilustrasi hemofilia
Ilustrasi hemofilia (Pixabay)

- Derajat Ringan

- Derajat Sedang

4 dari 4 halaman

- dan derajat Berat.

Baca juga: Facial Tools Berfungsi Memperlancar Aliran Darah, Bukan Membentuk Wajah V-Shape

Untuk menentukan klasifikasi derajat Hemofilia yang diderita harus berdasarkan dengan kadar pembekuan darahnya.

Jika seseorang menderita Hemofilia derajat berat, maka sudah bisa dideteksi dari bayi.

Umumnya terdapat lebam pada bayi yang mulai aktif bergerak, terutama pada saat belajar merangkak atau berjalan.

Ilustrasi Hemofilia pada bayi
Ilustrasi Hemofilia pada bayi (health.kompas.com)

"Saat bayi belajar merangkak atau berjalan biasanya akan muncul memar atau lebam."

"Mungkin akan sedikit terbentur, kalau bayi lain tidak apa-apa, tetapi kalau menderita Hemofilia bisa biru besar atau bengkak," papar Novie.

Tipe dan Gejala Hemofilia

Kelainan Hemofilia memiliki 2 jenis, yaitu tipe A dan tipe B.

Pada tipe A, penyandang mengalami kekurangan faktor pembekuan darah 8 .

Baca juga: Mengenal Varises, Pembuluh Darah Berukuran Besar dan Berbentuk seperti Jaring Laba-laba

Biasanya disebut sebagai Hemofilia klasik.

Sementara tipe B, terjadi karena tubuh kekurangan faktor pembekuan darah 9.

Kekurangan faktor pembekuan darah ini bisa terjadi lantaran adanya kerusakan gen.

ilustrasi sel darah
ilustrasi sel darah (kids.grid.id)

Perlu diketahui, bahwa seluruh sistem pada tubuh diatur oleh gen.

Gen yang berfungsi mengatur produksi faktor pembekuan darah 8 dan faktor pembekuan darah 9 ini mengalami kerusakan.

Kerusakan tersebut terjadi karena suatu sebab yang tidak diketahui secara pasti.

Baca juga: Pentingnya Mendapatkan Penanganan yang Tepat ketika Terjadi Perdarahan Otak

Namun ada kemungkinan terjadi kerusakan karena diturunkan (genetik) atau mutasi spontan yang bisa berkaitan dengan proses selama kehamilan.

Sehingga bayi lahir dengan kondisi Hemofilia.

Karena kekurangan faktor pembekuan darah tersebut jika terjadi pendarahan, darah menjadi sukar membeku.

Ilustrasi seorang pria berkonsultasi bersama dokter
Ilustrasi seorang pria berkonsultasi bersama dokter (UPI.com)

"Bayangkan jika seorang anak dengan Hemofilia terjadi pendarahan, lalu darahnya sulit membeku."

"Maka akan terjadi pendarahan yang sulit untuk diatasi dan akhirnya mengancam jiwa," ucap Novie.

Salah satu gejala lain yang perlu dikenali pada penyandang Hemofilia, adalah seringnya pendarahan pada sendi dan otot.

Baca juga: Apakah Penderita Darah Rendah Bisa Berisiko Mengalami Stroke? Ini Kata dr. Fahrulsyah Farid, Sp.BS.

Jika penyandang tidak mendapatkan penanganan yang optimal, maka sendi tersebut berpotensi mengalami kerusakan.

Bila sendi mengalami kerusakan bisa menyebabkan kecacatan.

"Kalau sudah cacat tidak bisa jalan, bergerak, sekolah. Akibatnya tidak bisa bekerja sehingga menganggu kualitas hidupnya," paparnya.

ilustrasi seorang anak yang mengalami hemofilia
ilustrasi seorang anak yang mengalami hemofilia (health.kompas.com)

Berikut ini beberapa tanda lain Hemofilia, di antaranya:

- Pendarahan pada luka, gusi, hidung/mimisan yang sulit berhenti

Baca juga: Memasuki Usia 30 Tahun, Tekanan Darah di Atas 130 mmHg dan Muncul Gejala Perlu Berhati-hati

- Ditemukan darah pada urin dan feses

- Mudah mengalami memar

Penyebab Hemofilia

Seorang ayah penyandang Hemofilia (xx) yang menikah dengan seorang istri tanpa Hemofilia (xy), jika memiliki anak laki-laki, maka kemungkinan anak akan lahir secara normal (xy) tanpa Hemofilia.

Berbeda bila melahirkan anak perempuan (xx), maka anak akan memiliki kromosom x dengan hemofilia yang diturunkan dari ayahnya.

Akhirnya anak menjadi pembawa sifat Hemofilia.

ilustrasi sepasang suami istri yang sedang berkonsultasi dengan dokter
ilustrasi sepasang suami istri yang sedang berkonsultasi dengan dokter (pixabay.com)

"Karena perempuan punya xx, cuma 1 yang rusak. Maka masih bisa tercover dengan x yang normal dari ibunya," jelasnya.

Sementara jika seorang istri yang menderita Hemofilia (xx), sedangkan suami tanpa Hemofilia (xy) lalu melahirkan anak laki-laki, maka anak laki-laki ini akan menerima 1 kromosom (x) dari si ibu.

Baca juga: Waspada, Penyakit Hemofilia Dapat Sebabkan Syok Hipovolemik, Begini Penjelasan Dokter Spesialis Anak

"Disini kita tidak pernah tahu, apakah anak mendapatkan kromosom (x) normal atau kromosom (x) Hemofilia," sambung Novie.

Jadi peluang pada anak laki-laki untuk menjadi Hemofilia sebesar 50% pada setiap kehamilan anak laki-laki.

Penjelasan Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi, Novie Amelia Chozie dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Kompas TV, (26/4/2021)

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved