Breaking News:

Pasca Omicron Muncul, Satgas Himbau Masyarakat Terus Memantau akurasi alat uji diagnostik

Ketersediaan alat uji yang murah cepat dan efektif merupakan Kunci keberhasilan aktivitas masyarakat yang produktif aman Covid-19.

Freepik.com
Ilustrasi test Covid-19. 

TRIBUNHEALTH.COM - Ketersediaan alat uji yang murah cepat dan efektif merupakan Kunci keberhasilan aktivitas masyarakat yang produktif aman Covid-19.

Namun, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengingatkan jangan sampai alat uji yang digunakan berpeluang meloloskan orang yang positif.

Terlebih lagi jika orang tersebut positif Covid-19 varian Omicron.

Baca juga: dr. Erickson Arthur Siahaan, Sp.KJ Berikan Tips Menghadapi Rasa Takut Akibat Dampak Pandemi Covid-19

"Karenanya, munculnya varian Omicron pun seyogyanya menjadi pelajaran bagi dunia dan Indonesia untuk terus memantau akurasi alat uji diagnostik yang beredar," ungkap Wiku dilansir Tribunhealth.com dari situs resmi covid19.go.id.

Saat ini Indonesia menggunakan setidaknya 2 jenis alat uji.

Ilustrasi berbagai metode tes COVID-19
Ilustrasi berbagai metode tes COVID-19 (health.grid.id)

Yaitu rapid antigen yang banyak digunakan untuk keperluan skrining, dan uji berbasis NAAT seperti PCR, LAMP dan TCM yang banyak digunakan sebagai alat peneguhan diagnosa.

Sebagai informasi tambahan, varian Omicron merupakan varian yang memiliki tingkat mutasi yang tinggi pada gen bagian S atau spike.

Baca juga: Pakar Penyakit Menular: Kemungkinan Vaksin Covid-19 Tak Perlu Dimodifikasi untuk Lawan Omicron

Hal ini berdampak pada kemampuan deteksi alat uji diagnostik, terutama yang menggunakan target gen S untuk mendeteksi virus.

Varian Omicron, ternyata berdampak terhadap hasil alat uji tersebut.

Ilustras virus omicron
Ilustras virus omicron (tribunnews.com)

Pertama pada rapid test antigen. Hal ini merujuk pernyataan dari berbagai organisasi kesehatan seperti WHO, CDC dan FDA di Amerika serta publikasi ilmiah terkini.

Seperti Poudel S dan kawan-kawan, Fere VM dan kawan-kawan pada Desember 2021.

Publikasi tersebut menyebutkan kemampuan rapid antigen dalam mendeteksi varian Omicron masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Baca juga: Dokter Tak Sarankan Lakukan Tes Swab Tanpa Bantuan Nakes, Berisiko Mengalami Kebocoran Cairan Otak

Karena metode ini masih bisa mendeteksi adanya infeksi namun akurasinya bisa berkurang.

Kedua, alat uji berbasis NAAT seperti PCR, LAMP, dan TCM yang bekerja dengan mendeteksi material genetik dari virus.

Sejak awal pandemi, organisasi kesehatan dunia menyarankan alat uji berbasis NAAT yang memiliki target gen lebih dari 1.

Ilustrasi virus Covid-19
Ilustrasi virus Covid-19 (kompas.com)

Mengingat mudahnya virus Covid-19 bermutasi dan menghasilkan varian baru.

Dalam kasus Omicron yang memiliki banyak perubahan pada gen S, penggunaan alat uji NAAT yang hanya menargetkan gen s berpotensi gagal dalam mendeteksi varian Omicron.

Sedangkan alat uji NAAT yang menargetkan lebih dari satu gen disamping gen S dapat memunculkan hasil terdeteksi pada gen lainnya namun gagal mendeteksi gen S.

Baca juga: Belajar dari 3 Negara dengan Kasus Omicron Tinggi, Masyarakat Dihimbau Terus Terapkan Prokes

Hasil NAAT yang demikianlah yang disebut dengan S Gene Target Failure (SGTF) atau S Gene dropout.

"Penting untuk diingat, tes NAAT yang hasilnya gagal mendeteksi gen S atau SGTF tersebut belum tentu merupakan varian Omicron."

"Dan etap harus dilanjutkan dengan sekuensing atau lebih dikenal dengan WGS," tegasnya.

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved