Breaking News:

Studi Sebut Tidur Kurang dari 4,5 Jam dan Lebih dari 6,5 Jam Bisa Picu Penurunan Fungsi Kognitif

Meski penting untuk tubuh, tidur terlalu lama ternyata juga memiliki dampak negatif bagi tubuh

freepik.com
ilustrasi tidur 

TRIBUNHEALTH.COM - Tidur malam merupakan aktivitas penting yang dibutuhkan untuk menunjang keehatan tubuh.

Tidur membantu tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri dan bisa berfungsi optimal.

Selain itu, tidur ideal juga berkaitan dengan kesehatan mental dan rendahnya risiko kesehatan lain, termasuk diabetes dan penyakit jantung.

Lalu berapa durasi tidur yang ideal?

Penelitian menyebut tidak cukup tidur dikaitkan dengan penurunan kognitif dan kondisi seperti penyakit Alzheimer, dilansir TribunHealth.com dari Independent, Selasa (16/11/2021).

Tetapi lebih banyak tidur belum tentu menjadi solusi lebih baik, seperti yang ditemukan oleh satu penelitian baru-baru ini.

Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington telah menerbitkan sebuah makalah yang menunjukkan bahwa seperti halnya terlalu sedikit tidur, tidur terlalu banyak juga dapat dikaitkan dengan penurunan kognitif.

Baca juga: Penyebab Kualitas Tidur yang Buruk menurut Dokter Praktisi Kesehatan Tidur, Rimawati Tedjasukmana

Baca juga: Durasi Waktu Tidur yang Sesuai Berdasarkan Usia menurut Dokter Praktisi Kesehatan Tidur

ilustrasi seseorang yang tidur
ilustrasi seseorang yang tidur (freepik.com)

Tim peneliti ingin tahu berapa lama durasi tidur yang bisa menyebabkan penurunan fungsi kognitif dalam jangka panjang.

Untuk melakukan ini, mereka mengamati rata-rata 100 orang dewasa pertengahan hingga akhir 70-an, dan melacak mereka selama empat hingga lima tahun.

Pada saat penelitian mereka, 88 orang tidak menunjukkan tanda-tanda demensia, sementara 12 orang menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif (satu dengan demensia ringan dan 11 dengan tahap pra-demensia gangguan kognitif ringan).

Sepanjang penelitian, peserta diminta untuk menyelesaikan serangkaian tes kognitif dan neuropsikologis biasa untuk mencari tanda-tanda penurunan kognitif atau demensia.

Skor tes ini kemudian digabungkan menjadi satu angka, yang disebut skor Preclinical Alzheimer Cognitive Composite (PACC).

Baca juga: Kualitas Tidur Tidak Hanya Ditentukan dengan Durasi, Simak Informasi Dokter Praktisi Kesehatan Tidur

Baca juga: Apakah Tidur Siang Bisa Picu Insomnia? dr. Andreas Prasadja Beri Penjelasan Sebaliknya

Ilustrasi tidur
Ilustrasi tidur (Pixabay)

Semakin tinggi angkanya, semakin baik kognisi mereka dari waktu ke waktu.

Tidur diukur menggunakan perangkat single-electrode encephalography (EEG), yang dikenakan di dahi mereka saat tidur, selama empat hingga enam malam.

Pencatatan tersebut dilakukan sekali, tiga tahun setelah orang menyelesaikan tes kognitif tahunan mereka.

EEG ini memungkinkan para peneliti untuk secara akurat mengukur aktivitas otak, yang akan memberi tahu mereka apakah seseorang tertidur, berapa lama, dan seberapa nyenyak tidur itu.

Meskipun tidur diukur hanya pada satu periode selama penelitian, ini masih memberikan indikasi yang baik tentang kebiasaan tidur normal peserta.

Baca juga: dr. Rimawati Tedjasukmana Jelaskan Beberapa Penyakit yang Dapat Memengaruhi Kualitas Tidur Seseorang

Baca juga: Penelitian Sebut Waktu Tidur yang Tepat Bisa Kurangi Risiko Kardiovaskuler, Kapan Baiknya?

ilustrasi tidur
ilustrasi tidur (tribunnews.com)

Namun menggunakan EEG untuk mengukur aktivitas otak mungkin agak mengganggu tidur pada malam pertama.

Karena orang sudah mulai terbiasa dengan peralatan itu, tidur cenderung kembali normal pada malam berikutnya.

Ini berarti tidur dilacak dari malam kedua dan seterusnya, dianggap bisa menjadi representasi yang baik dari kebiasaan tidur normal seseorang.

Halaman
12
Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved