Breaking News:

Sindrom Peradangan Multisistem, Komplikasi Serius pada Anak yang Terinfeksi Covid-19

Anak yang mengalami sindrom ini banyak yang mengalami komplikasi jantung dan membutuhkan perawatan segera

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
ILUSTRASI Isolasi Mandiri Anak -- FOTO: Kader PKK, Lia Nur Jauharatul Mardiah (42) mengenakan APD baju hazmat melambaikan tangan kepada anak kecil dari balik kaca jendela saat membawa makanan untuk dibagikan kepada warga yang terpapar Covid-19 di Gang Cisitu Lama 1, RW 11, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (22/2/2021). Langkah proaktif yang dilakukan pengurus dan kader PKK RW 11 membagikan makanan kepada warga yang sedang melakukan isolasi mandiri ini sebagai kebersamaan saling membantu dalam menangkal penyebaran Covid-19. Selain itu, warga juga membatasi akses jalan gang dan mendirikan posko Covid-19 selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). 

TRIBUNHEALTH.COM - Anak-anak yang terinfeksi virus corona banyak mengembangkan kondisi bernama sindrom peradangan multisistem atau MIS-C.

MIS-C merupakan salah satu komplikasi Covid-19 yang bisa mengancam nyawa.

Pada kondisi ini, kekebalan menjadi hiperaktif dan justru menyerang anak, dilansir TribunHealth.com dari NBC News, Kamis (21/10/2021).

Gejala utama yang nampak antara lain demam, sakit perut, muntah, diare, mata merah, ruam dan pusing

Biasanya gejala muncul dua hingga enam minggu setelah infeksi ringan atau bahkan tanpa gejala.

Lebih dari 5.200 dari 6,2 juta anak-anak AS yang didiagnosis dengan Covid telah mengembangkan MIS-C.

Baca juga: Muncul Virus Corona AY.4.2, Sub Varian Delta yang Kini Mulai Menyebar di Inggris Raya

Baca juga: Ilmuwan Oxford Dikabarkan Mulai Modifikasi Vaksin Corona, Bakal Targetkan Varian Delta Secara Khusus

Ilustrasi Covid-19 - FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung.
Ilustrasi Covid-19 - FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Sekitar 80 persen pasien MIS-C dirawat di unit perawatan intensif, 20 persen memerlukan ventilasi mekanis, dan 46 orang meninggal.

Unit perawatan intensif anak AS – yang merawat ribuan pasien muda selama gelombang akhir musim panas varian delta virus corona – kini sedang berjuang untuk menyelamatkan putaran terakhir anak-anak yang sakit parah.

Di Rumah Sakit Anak Universitas Kedokteran Carolina Selatan Shawn Jenkins, misalnya, dokter bulan lalu merawat 37 anak dengan Covid dan sembilan dengan MIS-C.

Angka ini menjadi angka bulanan tertinggi sejak pandemi dimulai.

Dokter tidak memiliki cara untuk mencegah MIS-C, karena mereka masih belum tahu persis apa penyebabnya, kata Dr. Michael Chang, asisten profesor pediatri di Children's Memorial Hermann Hospital di Houston.

Baca juga: Post Covid-19 Condition, Definisi WHO untuk Gejala Infeksi Virus Corona yang Bertahan Berbulan-bulan

Baca juga: AstraZeneca Kembangkan Injeksi Antibodi Virus Corona, Terbukti Bisa Cegah dan Obati Covid-19

ILUSTRASI - Petugas kesehatan melakukan aktivitas di ruang ekstraksi laboratorium biomolekuler Rumah Sakit Pelindo Husada Citra (PHC), Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/5/2020). Laboratorium biomolekuler PCR itu untuk melakukan uji laboratorium virus corona (Covid-19) melalui metode tes swab dengan kapasitas 500 tes per hari.
ILUSTRASI - Petugas kesehatan melakukan aktivitas di ruang ekstraksi laboratorium biomolekuler Rumah Sakit Pelindo Husada Citra (PHC), Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/5/2020). Laboratorium biomolekuler PCR itu untuk melakukan uji laboratorium virus corona (Covid-19) melalui metode tes swab dengan kapasitas 500 tes per hari. (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Yang bisa dilakukan dokter hanyalah mendesak orang tua untuk memvaksinasi anak-anak yang memenuhi syarat.

Untuk anak yang belum memenui syarat usia, upaya yang bisa dilakukan adalah memvaksinasi semua orang terdekat yang memenuhi syarat.

Mengingat skala pandemi yang sangat besar, para ilmuwan di seluruh dunia sedang mencari jawaban terkait hal ini.

Sebagian besar anak yang mengembangkan MIS-C sehat, 80 persen mengalami komplikasi jantung.

Salah satunya adalah Dante, asal Massachusetts.

Baca juga: Ilmuwan Singapura Kembangkan Pendeteksi RNA Virus Corona di Udara, Diklaim Lebih Efektif dari Swab

Baca juga: Ilmuwan Jelaskan Penyebab Covid Toe, Peradangan Jari Kaki Akibat Infeksi Virus Corona

ilustrasi virus corona
ilustrasi virus corona (Kompas.com)

Arteri koroner Dante menjadi melebar, membuat jantungnya lebih sulit untuk memompa darah dan mengirimkan nutrisi ke organ-organnya.

Jika tidak segera ditangani, anak bisa mengalami syok.

Beberapa pasien mengalami kelainan irama jantung atau aneurisma, di mana dinding arteri menggelembung dan mengancam akan pecah.

“Itu traumatis,” kata DeMaino, ibu Dante.

Halaman
12
Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved