Breaking News:

Booster Vaksin Terbukti Aman, Efek Sampingnya Mirip Suntikan Dosis Kedua

Beberapa keluhan efek samping dilaporkan terjadi setelah suntikan ketiga vaksin

Tribunnews/Jeprima
Ilustrasi Vaksinasi - Petugas medis menunjukkan botol vaksin Covid-19 Pfizer di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/8/2021). 

TRIBUNHEALTH.COM - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut efek samping booster vaksin Covid-19 mirip seperti dosis kedua.

Hal itu diungkapkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Selasa (28/9/2021).

Laporan tersebut menemukan bahwa efek samping sebagian besar dianggap ringan atau sedang, diberitakan NBC, Rabu (29/9/2021).

Nyeri lengan, kelelahan, dan sakit kepala adalah gejala yang paling sering dilaporkan setelah suntikan ketiga.

Efek samping umumnya muncul sehari setelah injeksi, dan 28 persen orang mengatakan mereka tidak dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari karena itu.

Baca juga: CDC Sebut Efektivitas Vaksin Pfizer dan Moderna Melemah dari Waktu ke Waktu, Terutama pada Lansia

Baca juga: Satgas Covid-19 Sebut Beberapa Faktor yang Menyebabkan Vaksinasi terhadap Lansia Berjalan Lambat.

Ilustrasi vaksinasi Covid-19
Ilustrasi vaksinasi Covid-19 (Pexels.com)

Laporan itu melihat data dari 22.191 orang yang menerima dosis booster dan menjawab pertanyaan pada aplikasi smartphone yang dijalankan CDC yang disebut v-safe.

Sebagian besar responden melaporkan awalnya mendapatkan vaksin Pfizer atau Moderna, dan hampir semua mendapat vaksin booster yang sama dengan vaksin awal mereka.

Nyeri lengan sedikit lebih umum setelah suntikan ketiga daripada yang kedua, laporan itu menemukan, dan reaksi sistemik, seperti sakit kepala atau kelelahan, sedikit lebih jarang terjadi setelah suntikan ketiga dibandingkan dengan yang kedua.

"Laporan terbaru ini mencakup beberapa data dari pengalaman awal kami dengan dosis ketiga," kata Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky pada hari Selasa selama pengarahan gugus tugas Covid Gedung Putih.

"Frekuensi dan jenis efek samping serupa dengan yang terlihat setelah dosis vaksin kedua, dan sebagian besar ringan atau sedang dan berumur pendek," tambahnya.

Baca juga: BPOM Amerika Tak Beri Rekomendasi Booster Vaksin untuk Masyarakat Umum, Khusus Kelompok Berisiko

Baca juga: Presiden Moderna Sorot Kemampuan Penularan Varian Delta, Ingatkan Perlindungan Vaksin Bisa Melemah

ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama.
ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Dr Helen Keipp Talbot, seorang profesor kedokteran di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, mengatakan dia tidak terkejut dengan keamanan dosis ketiga.

Talbot adalah anggota panel independen CDC, yang disebut Komite Penasihat Praktik Imunisasi, yang berkumpul minggu lalu untuk membahas dosis booster Pfizer.

Dia mencatat bahwa kelompok tersebut telah melihat dan mendiskusikan data yang baru diterbitkan selama pertemuan dua hari.

"Kami sangat nyaman dengan keamanan vaksin ini. Mereka telah diberikan kepada jutaan dan jutaan dan jutaan dan jutaan orang," katanya.

"Tapi itu tidak berarti kita akan berhenti memantau dan berhenti mencari" efek samping, katanya.

"Kami akan selalu berhati-hati dan berhati-hati."

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved