Breaking News:

dr. Theresia Monica Rahardjo, SpAn Jelaskan Metode Plasma Konvalesen (TPK) untuk Pasien Covid-19

TPK sudah digunakan di dunia medis lebih dari 100 tahun, simak penjelasan dr. Theresia Monica Rahardjo, SpAn

TRIBUN LAMPUNG/Deni Saputra
Seorang penyintas Covid 19 mendonorkan plasma konvalesen di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Lampung, Jalan Sam Ratulangi, Penengahan, Tanjungkarang Barat, Jumat (25/6/2021). Dalam artikel mengulas tentang donor plasma konvalesen. 

TRIBUNHEALTH.COM - Terapi Plasma Konvalesen (TPK) merupakan salah satu metode perawatan pada penderita Covid-19.

Nantinya, penderita akan mendapatkan donor plasma dari orang yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Diharapkan hal ini bisa mempercepat penyembuhan karena mendapatkan 'antibodi instan'.

Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo, SpAn., KIC., M.Si.,. MM., MARS memberi penjelasan lebih lanjut.

"Artinya itu adalah plasma sembuh atau plasma yang dimiliki penderita ketika sembuh dari suatau penyakit tertentu," jelasnya, dikutip TribunHealth.com.

Sementara itu TPK merupakan teknik memindahkan antibodi dari penyintas Covid-19 ke pasien yang masih sakit.

Baca juga: Tak Semua Orang Bisa Donorkan Plasma Konvalesen, dr. Theresia Monica Rahardjo Sebut Antibodi Sedikit

Baca juga: Jika Tak Bergejala, dr. S.T. Andreas Sebut Covid-19 Tak Akan Berdampak Parah pada Paru-paru Anak

ILUSTRASI Isolasi Mandiri - Berikut hal-hal yang harus diperhatikan saat jalani isolasi mandiri di rumah menurut Satgas Covid-19.
ILUSTRASI Isolasi Mandiri - Berikut hal-hal yang harus diperhatikan saat jalani isolasi mandiri di rumah menurut Satgas Covid-19. (Pixabay)

"Jadi intinya booster antibodi atau antibodi instan," paparnya dalam program Diginas Tribun Network.

Langkah seperti ini diharapkan bisa meminimalisir dampak buruk yang mungkin terjadi akibat terpapar virus corona.

Metode TPK sudah dikenal lebih dari 100 tahun, ketika ada flu Spanyol.

"Pada saat itu dipakai. Merupakan penelitian pertama yang tercatat dan valid hasilnya," paparnya dikutip TribunHealth.com.

"Pada saat flu Spanyol, ditemukan bahwa penggunaan plasma ini harus 48 jam pertama supaya efektif," lanjutnya.

Artinya kriteria yang digunakan jauh lebih ketat dari pada sekarang.

Baca juga: Long Covid Sebenarnya Penyakit atau Hanya Sugesti? Simak Penjelasan dr. Adityo Susilo, Sp.PD

Baca juga: Kasus Covid-19 Turun, Apakah PPKM Benar-benar Efektif Tekan Penularan Virus? Ini Penjelasan Satgas

ILUSTRAS terpapar virus corona atau Covid-19 ---- FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung.
ILUSTRAS terpapar virus corona atau Covid-19 ---- FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Pasalnya dampak yang buruk bisa terjadi jika diberikan melebihi batas waktu tersebut.

"Namun dulu kan belum ada ICU, belum ada ventilator, meninggal meninggal," katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan sekarang yang sudah bisa ditunjang dengan peralatan.

Selanjutnya, TPK terus dipakai ketika ada wabah tertentu.

"MERS juga dipakai, H1N1 dipakai, SARS juga dipakai."

"Bahkan WHO punya pedoman terapi plasma untuk ebola," tandasnya.

Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved