Breaking News:

Ilmuwan Ragu Varian Delta Plus Lebih Menular, Masih Butuh Bukti Penelitian Ilmiah

Kemenkes India melaporkan varian jenis ini lebih mudah menular, tetapi ilmuwan masih ragu

Pixabay
Ilustrasi virus corona 

TRIBUNHEALTH.COM - Virus corona varian delta plus telah menjadi kekhawatiran baru di tengah pandemi Covid-19.

Mutasi yang lekat dengan varian delta ini disebut-sebut bisa lebih menular.

Kementerian Kesehatan India, menyebut penelitian menunjukkan varian AY.1 ini menyebar lebih mudah, lebih mudah mengikat sel paru-paru dan berpotensi resisten terhadap terapi antibodi monoklonal.

Diberitakan TribunHealth.com dari BBC, Kemenkes India pertama kali menemukan delta plus pada April 2021.

Varian ini terdeteksi di sekitar 40 sampel dari enam distrik di tiga negara bagian, yakni Maharashtra, Kerala dan Madhya Pradesh.

Tak lama setelahnya, delta plus juga teridentifikasi di sembilan negara, Amerika Serikat, Inggris, Portugal, Swiss, Jepang, Polandia, Nepal, Rusia dan China.

Baca juga: 5 Fakta Virus Corona Varian Lambda, Punya Mutasi Tak Biasa yang Sulit Dipahami Ilmuwan

Baca juga: Virus Corona Varian Lambda Disebut Lebih Menular, Apakah Vaksin Masih Efektif untuk Bentuk Antibodi?

Ilustrasi mutasi virus corona
Ilustrasi mutasi virus corona (Pixabay)

Kendati demikian, para ahli masih meragukan apakah virus jenis ini lebih membahayakan, sebagaimana dilaporkan koresponden BBC India, Soutik Biswas, 23 Juni 2021.

“Belum ada data yang mendukung varian dari klaim kekhawatiran tersebut,” kata Dr. Gagandeep Kang, seorang ahli virus dan wanita India pertama yang terpilih sebagai Anggota Royal Society of London.

"Anda memerlukan informasi biologis dan klinis untuk mempertimbangkan apakah itu benar-benar varian yang menjadi perhatian."

"Anda perlu mempelajari beberapa ratus pasien yang sakit dengan kondisi dan varian ini dan mencari tahu apakah mereka memiliki risiko penyakit yang lebih besar daripada varian leluhur," kata Dr. Kang.

Baca juga: Lebih Mudah Menyebar, Virus Corona Varian Delta Diprediksi Dominasi Kasus di Eropa pada Agustus 2021

Baca juga: Simak Penjelasan Dokter soal Penggunaan Masker Dobel, Lebih Efektif Tangkal Virus Corona?

ilustrasi mutasi virus corona
ilustrasi mutasi virus corona (kompas.com)

Bahkan dengan 166 contoh Delta plus yang dibagikan di GISAID, "kami tidak memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa ini lebih berbahaya daripada Delta asli," kata Dr. Jeremy Kamil, ahli virus di Louisiana State University. Pusat Ilmu Kesehatan di Shreveport.

"Delta plus mungkin memiliki sedikit keuntungan dalam menginfeksi dan menyebar di antara orang-orang yang sebelumnya terinfeksi selama pandemi, atau yang memiliki kekebalan vaksin yang lemah atau tidak lengkap," kata Dr. Kamil

"Saya akan tetap tenang. Saya tidak berpikir India atau siapa pun di dunia telah merilis atau mengumpulkan data yang cukup untuk membedakan risiko dari apa yang disebut Delta plus sebagai lebih berbahaya atau mengkhawatirkan daripada varian Delta asli," tandasnya.

Baca artikel lain seputar Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved