Breaking News:

Psikolog Tekankan Pentingnya Kesiapan Mental sebelum Menikah, Ini Ciri-cirinya

Satu di antara dewasa secara mental adalah memiliki skala prioritas yang jelas, lalu apa lagi?

Pixabay
Ilustrasi pernikahan 

TRIBUNHEALTH.COM - Psikolog Irma Gustiana menekankan pentingnya kesiapan mental dalam sebuah pernikahan.

Hal itu ia paparkan ketika menjadi narasumber dalam program Ayo Sehat Kompas TV edisi Selasa (8/6/2021), tentang pernikahan dini.

"Memang banyak sekali hal-hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan kesiapan mental," katanya, dikutip TribunHealth.com.

Pernikahan dini sendiri pada umumnya terjadi di bawah usia 19 tahun.

Pada usia tersebut, perkembangan psikologis seseorang masih di tahap remaja menengah sampai remaja akhir.

Tahapan tersebut bisa dibilang merupakan tahapan yang masih labil.

Artinya, kemampuan untuk mengambil keputusan, berpikir logis, hingga regulasi emosi masih terbatas.

Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan (Pixabay)

Baca juga: Jelaskan Bahaya Pernikahan Dini, Dokter: Organ Reproduksi Perempuan Belum Sempurna sebelum 20 Tahun

Baca juga: Sayangkan Melonjaknya Pernikahan Dini, Psikolog Tekankan Pentingnya Edukasi Seksual

"Sehingga ketika ada isu dalam rumah tangga akan memicu persoalan yang berbeda," kata Irma.

"Nah, sehingga pernikahan dini ini juga memicu yang namanya perceraian dini dan kemungkinan ke arah yang namanya KDRT," tandasnya.

"Itu sangat-sangat potensial terjadi," lanjutnya.

Lalu apa yang menjadi indikator kesiapan mental?

Terkait hal ini, Irma membedakan usia kronologis dan usia mental.

"Usia kronologis itu usia kalender ya."

"Jadi katakanlah usianya 25, tapi secara mental bisa saja umur 30," contohnya.

Baca juga: Pernikahan Dini Melonjak 3 Kali Lipat selama Pandemi, Padahal Punya Sederet Risiko Ini

Baca juga: Dokter Sebut Usia Suami dan Istri yang Terpaut Jauh Bisa Picu Masalah Kehidupan Seksual

Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan (Pixabay)

Usia mental terkait dengan kemampuan untuk berpikir rasional.

Artinya, individu tersebut sudah mampu meregulasi emosi hingga memiliki skala prioritas yang jelas.

"Lalu yang paling utama, punya anger management yang baik," tegas Irma.

Dengan demikian, ketika menghadapi suatu masalah dia tetap berpikir tenang.

Akibatnya, dia akan responsif terhadap masalah tersebut, bukan reaktif.

Pencapaian kesiapan mental bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Hal ini sangat bergantung dengan pengalaman, karakter personal, juga interaksinya dengan lingkungan sosial.

"Seperti pola asuh orangtua salah satunya," contoh Irma.

Baca artikel lain seputar kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved