Breaking News:

Operasi Kanker Payudara dengan Mengangkat Kelenjar Getah Bening Berisiko Alami Limfedema

Menurut dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk operasi kanker payudara secara konvensional mengharuskan pengangkatan kelenjar getah bening.

m.tribunnews.com
Ilustrasi ciri-ciri kanker payudara, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk ungkap pemeriksaan yang bisa dilakukan 

TRIBUNHEALTH.COM - Terdapat berbagai pemeriksaan oleh dokter untuk mendiagnosis kanker payudara.

Pemeriksaan maupun tes payudara sendiri melalui teknik SADARI sangat penting dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

Apalagi kanker payudara seringkali tidak menimbulkan gejala terutama saat stadium awal.

Pasalnya dengan mendeteksi kanker payudara lebih dini, maka pengobatan kanker payudara pun akan lebih efektif dan kemungkinan sembuh pun masih sangat besar.

Apabila setelah melakukan teknik SADARI dan ditemukan benjolan di payudara maupun gejala kanker payudara lainnya maka perlu untuk segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Sehingga dengan begitu bisa dipastikan penyebab munculnya gejala tersebut.

Baca juga: Dibutuhkan Kerja Sama Pentahelix Bersifat Multinasional dalam Mencegah Pandemi di Masa Depan

Antisipasi kanker payudara dengan teknik sadari, begini penjelasan dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk
Antisipasi kanker payudara dengan teknik sadari, begini penjelasan dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk (jateng.tribunnews.com)

Hal ini disampaikan oleh Chairman of Eka Tjipta Widjaja Cancer Center, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS dan Konsultan Bedah Onkologi Eka Hospital BSD, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Sehat edisi 23 April 2022.

Baca juga: Begini Strategi Fase Baru Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito: Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ketika di rumah sakit, umumnya dokter akan melakukan beberapa cara atau tes untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami pasien berkaitan dengan kanker payudara atau tidak.

Jika terdiagnosis kanker payudara, tes tambahan pun dibutuhkan untuk mengetahui stadium kanker payudara yang dialami pasien sehingga mendapatkan pengobatan yang tepat.

dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk menuturkan jika untuk diagnosis kanker payudara bisa menggunakan ultrasonografi (USG), mammografi, MRI, atau biopsi.

2 dari 3 halaman

Pemeriksaan tersebut dilakukan dari sisi radiologinya.

Kemudian dari sisi pemeriksaan histopatologi dokter juga bisa menentukan tumor yang diidap jinak atau ganas serta karakteristik tumornya seperti apa.

Pemeriksaan histopatologi merupakan pemeriksaan mikroskopis terhadap sampel jaringan yang didapatkan dari operasi, biopsi, atau kerokan (curettage) yang bertujuan untuk melihat perubahan morfologi jaringan sehingga diagnosis pasti suatu penyakit bisa ditegakkan.

Baca juga: Dokter Anjurkan Tak Enggan Berbicara Jujur Kepada Dokter jika Merasa Sakit setelah Penarikan Behel

ilustrasi kanker payudara, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk jelaskan mengenai pemeriksaan histopatologi
ilustrasi kanker payudara, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk jelaskan mengenai pemeriksaan histopatologi (kompas.com)

Baca juga: Perlunya Menghindari Makanan Junk Food Tinggi Natrium yang Sebabkan Seseorang Memiliki Double Chin

Menurut dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk untuk pemeriksaan tersebut diperlukan pemeriksaan biopsi.

dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk menambahkan jika dokter bisa melakukan pemeriksaan biopsi tanpa harus operasi.

"Kita lakukan biopsi di poliklinik pun bisa," tegasnya.

"Tentu hal ini kemudian akan membuat suatu pengalaman atau mengurangi beban mental atau beban biaya bagi pasien," terang dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk.

"Kita lakukan biopsi jarum besar disana di poliklinik dalam 5 menit atau 10 menit hasilnya sudah dapat dan kemudian kita periksakan, itu juga mampu kita lakukan," sambungnya.

"Sedangkan untuk operasi, semua jenis operasi kanker payudara mulai dari untuk menyelamatkan payudaranya sampai dengan kita juga bisa melakukan operasi dengan tidak harus mengangkat kelenjar getah beningnya," terang dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk sembari menjelaskan.

Pasalnya pada operasi kanker payudara yang konvensional, kelenjar getah bening di bawah ketiak harus di angkat.

3 dari 3 halaman

"Itu ada risikonya, namanya limfedema," pungkasnya.

Perlu menjadi informasi bahwa salah satu fungsi kelenjar getah bening adalah mengatur keseimbangan jumlah cairan limfe yang beredar dalam pembuluh darah getah bening.

Baca juga: Ternyata Warna Bibir Hitam Bisa Disebabkan Suatu Penyakit, Begini Penuturan dr. Satya Perdana

Ilustrasi penyebaran kanker payudara, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk paparkan risiko operasi payudara adalah limfedema
Ilustrasi penyebaran kanker payudara, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk paparkan risiko operasi payudara adalah limfedema (jabar.tribunnews.com)

Baca juga: Ketahui Penyebab Seseorang Memiliki Warna Bibir Hitam, Begini Penjelasan dr. Satya Perdana

Limfedema yang tidak ditangani dengan tepat bisa mengakibatkan komplikasi.

Komplikasi tersebut seperti infeksi, misalnya selulitis atau infeksi pada kulit dan limfangitis atau infeksi pada pembuluh limfe.

Dokter mengatakan jika tangan pasien bisa mengalami pembengkakan.

"Itu sekitar 25-30% lah kemungkinannya," ungkapnya.

Baca juga: dr. Henny Kartika Sp.OG Paparkan Waktu Penyembuhan yang Dibutuhkan Pasien setelah Eracs dan Caesar

Penjelasan Chairman of Eka Tjipta Widjaja Cancer Center, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid, MARS dan Konsultan Bedah Onkologi Eka Hospital BSD, dr. Febriyanto Kurniawan, Sp. B (K) Onk dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Sehat edisi 23 April 2022.

(Tribunhealth.com/DN)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved