Breaking News:

Benarkah PPOK Tak Bisa Disembuhkan? Simak Penjelasan Ahli Berikut Ini

Dua ahli kesehatan paru-paru menjelaskan mengenai peluang kesembuhan PPOK

Kompas.com
ilustrasi penyakit PPOK 

TRIBUNHEALTH.COM - Ada sejumlah mitos yang berkembang terkait dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), salah satu di antarnya adalah anggapan bahwa PPOK tak bisa disembuhkan.

PPOK sendiri merupakan nama sekelompok kondisi paru-paru yang menyebabkan kesulitan bernapas.

Di antara gangguan yang termasuk dalam PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis, dilansir TribunHealth.com dari NHS Inggris, Minggu (20/3/2022).

Pandangan bahwa PPOK tak bisa disembuhkan ternyata hanyalah mitos.

Setidaknya, gejala masih bisa dikontrol sehingga tak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan oleh Dr. Neil Schachter pada Medical News Today (MNT).

Dr. Neil Schachter adalah profesor kedokteran paru, perawatan kritis, kedokteran lingkungan, dan kesehatan masyarakat di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York.

“Ada banyak terapi dan strategi yang dapat memperbaiki perjalanan penyakit,” kata Dr. Schachter kepada MNT.

Baca juga: Waspada, Kanker Paru Seringkali Tidak Menunjukkan Gejala Awal yang Spesifik

Baca juga: dr. Ginanjar Arum Jelaskan Beberapa Pemeriksaan untuk Mengetahui Kesehatan dan Fungsi Paru

ilustrasi pemeriksaan paru paru
ilustrasi pemeriksaan paru paru (freepik.com)

"(Pengobatan yang dimaksud) termasuk obat-obatan, rehabilitasi, diet, dan vaksin yang melindungi terhadap infeksi pernapasan yang mempercepat perjalanan penyakit.”

Shahryar Yadegar, spesialis pengobatan perawatan kritis, ahli paru, dan direktur medis ICU di Pusat Medis Providence Cedars-Sinai Tarzana, CA, juga menambahkan sejumlah perawatan yang bisa dilakukan.

2 dari 3 halaman

“Dengan spektrum presentasi, pasien dapat mengambil manfaat dari bronkodilator inhalasi, antikolinergik, kortikosteroid, dan oksigen tambahan.” Katanya.

“Pasien tertentu juga dapat mengambil manfaat dari augmentasi antitripsin alfa-1 atau bahkan transplantasi paru-paru,” tambahnya.

Tak hanya serang perokok

Ilustrasi berhenti merokok
Ilustrasi berhenti merokok (Freepik)

Baca juga: Gejala dan Faktor Risiko Aneurisma Aorta Abdominalis, Perokok dan Pengidap Hipertensi Lebih Rawan

Baca juga: Tips Cegah Terjadinya Gusi Turun, Rutin Kontrol ke Dokter Gigi hingga Berhenti Merokok

Memang benar bahwa merokok tembakau adalah penyebab utama PPOK.

Namun Dr. Schachter memberikan catatan kepada MNT.

Dia menegaskan orang yang bukan perokok juga bisa terkena PPOK.

“Ada banyak faktor risiko lain yang berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ini, termasuk polusi udara, polusi terkait pekerjaan, infeksi, dan beberapa bentuk asma.”

Dr. Yadegar juga memberikan pandangannya terkait hal ini.

“Sekitar 10-20% pasien PPOK tidak pernah merokok," paparnya.

ilustrasi seseorang yang mengalami PPOK
ilustrasi seseorang yang mengalami PPOK (kids.grid.id)

Baca juga: Berikut Ini Gejala, Penyebab, dan Pencegahan Kanker Paru-paru yang Termasuk Penyakit Berbahaya

Baca juga: dr. Mukhtar: Upaya Berhenti Merokok Umumnya Memerlukan Bantuan Dokter Spesialis Paru dan Psikolog

"Beberapa dari mereka yang tidak pernah merokok termasuk paparan asap rokok yang signifikan; kecenderungan genetik, terutama melalui defisiensi antitripsin alfa-1; atau paparan substansial terhadap polusi udara.”

3 dari 3 halaman

Alpha-1 antitrypsin adalah enzim yang melindungi tubuh dari serangan kekebalan.

Beberapa orang memiliki mutasi pada gen yang mengkode enzim ini; ini menyebabkan defisiensi antitripsin alfa-1.

Kekurangan antitripsin alfa-1 meningkatkan risiko mengembangkan PPOK dan kondisi lain yang mempengaruhi berbagai sistem tubuh.

Gejala

Ilustrasi dada terasa sesak saat bernapas
Ilustrasi dada terasa sesak saat bernapas (Pexels)

Baca juga: Waspada, Ispa dapat Menimbulkan Peradangan pada Saluran Pernapasan

Baca juga: Cara Mengatasi Alergi pada Saluran Napas, Berikut Ulasan dari dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A

Dilansir TribunHealth.com dari NHS Inggris, berikut ini gejala PPOK.

  • Meningkatkan sesak napas, terutama saat aktif
  • Batuk berdahak terus-menerus dengan dahak – beberapa orang mungkin menganggap ini hanya sebagai "batuk perokok"
  • Infeksi dada yang sering
  • Mengi terus-menerus
  • Tanpa pengobatan, gejala biasanya semakin memburuk.
  • Mungkin juga ada periode ketika mereka tiba-tiba menjadi lebih buruk, yang dikenal sebagai flare-up atau eksaserbasi.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Selanjutnya
Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved