TRIBUNHEALTH.COM - Faktor modifikasi bukan hanya sebatas plak dan predisposisi, tetapi ada hubungannya diataranya adalah kondisi sistemik.
Artinya kesehatan umum dari pemilik raga terbagi atas 2 hal baik sistem endoktrin atau hormonal.
Misalkan kejadian pubertas, siklus menstruasi, kontrasepsi secara oral, dan kehamilan.
Faktor sistemik pada mereka yang memiliki kelainan diabetes melitus, leukimia, dan kelianan darah juga memiliki peran pada kejadian cepatnya terjadi gingivitis.
drg. Anastasia menyampaikan bahwa medikasi terkait dengan pemakaian kontrasepsi oral.
Terkadang terjadinya gingivitis sering kali tidak disadari.

Baca juga: NHS Sebut Orangtua Tak Perlu Ciptakan Suasana Sunyi saat Bayi Tidur Siang
Ketika gingivitis terjadi dan derajatnya masih ringan, secara umum pasien kurang menyadarinya.
Umumnya baru berlangsung pada fase awal di hari ke dua hingga hari ke empat sejak plak tidak terbersihkan secara sempurna.
Biasanya yang dialami adalah gingivitis ringan, dimana sang pemilik raga belum menyadarinya.
Apabila berlangsung terus menerus dalam jangka panjang, bisa menyebabkan kejadian kronis yang bisa berlanjut parah.
Bahkan pada beberapa kasus, kalau sampai terjadi karang pada per,mukaan gigi, baik supra-gingiva maupun sub-gingiva bisa memicu kejadian kerusakan yang lebih luas.
Bukan hanya gingivitis, bahkan pada area jaringan keras pendukung gigi.
Baca juga: Stunting Bisa Pengaruhi Otak dan Berdampak pada Tahap Perkembangan Anak
Radang gusi pada fase selanjutnya, atara 4 sampai 7 hari, apabila tidak dibersihkan dengan tuntas, terutama dialami pada kasus-kasus gigi berjejal atau crowding yang dialami adalah kasus-kasus yang lebih parah.
Lebih parah dimana sudah mulai ada kejadian bengkak pada gusi.
Pada kasus lanjut, antara 15 sampai 21 hari, proses perdarahan yang berlangsung akan dikeluhkan bisa menjadi semakin parah, bahkan bisa sampai terjadi kejadian rusaknya perlekatan antara gingiva yang sehat dengan gigi.
Dokter akan mengukur seberapa dalam kantong gusi yang terbentuk akibat kejadian rusaknya jaringan pendukung gigi.
Jaringan pendukung gigi tidak hanya gusi, tetapi juga ada tulang penyangga gigi.
Baca juga: Cara Pemenuhan Nutrisi yang Tepat pada Masa Pubertas menurut Dokter Spesialis Anak
Apabila kejadian kantong gusi sampai rusak, diakibatkan olrh gingivitis maka dokter akan menggunakan alat untuk mendeteksi keparahan kasus yang dialami.
Gingivitis ada yang bersifat tiba-tiba dan gingivitis yang berulang.
Yang paling sering tidak disadari tetapi mempunyai imbas yang luar biasa adalah gingivitis kronis.
Pada fase awal tidak disadari oleh pasien karena tidak menimbulkan gejala nyeri.
Hanya ketika sudah parah atau terjadi proses gigivitis berulang barulah muncul rasa atau keluhan nyut-nyutan.
Terutama dialami oleh pasien yang mengalami food impaction.
Ini disampaikan pada channel YouTube Tribunnews, dan disampaikan oleh drg. R. Ngt. Anastasia Ririen Pramudyawati. Seorang dokter gigi. Jumat (9/4/2021)
(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)