Breaking News:

Pengaruh Berat Badan pada Kondisi Sleep Apnea, Ini Penjelasan Dokter Praktisi Kesehatan Tidur

Berikut ini simak penjelasan dokter mengenai hubungan berat badan dan Sleep Apnea.

Pixabay
Ilustrasi berat badan-simak penjelasan dokter mengenai hubungan berat badan dan Sleep Apnea. 

TRIBUNHEALTH.COM - Sleep Apnea adalah suatu kondisi yang ditandai dengan henti napas saat tidur.

Kondisi ini seringkali diabaikan di Indonesia.

Lantaran gejala yang dimiliki sangat umum.

Baca juga: Hubungan Sleep Apnea dan Covid-19, Simak Ulasan Dokter Praktisi Kesehatan Tidur, Andreas Prasadja

Diketahui Sleep Apnea sangat berkaitan erat dengan berat badan.

Pernyataan ini dibenarkan oleh Dokter Praktisi Kesehatan Tidur, Andreas Prasadja.

Ilustrasi penderita sleep apnea
Ilustrasi penderita sleep apnea (grid.ID)

Berdasarkan penjelasan Andreas, kondisi Sleep Apnea telah membuat kualitas tidur terganggu, dengan demikian maka akan memicu seseorang mudah untuk mengonsumsi makanan.

Baca juga: Alami Resistensi Insulin dan Pradiabetes? Berikut Ini Tips untuk Kontrol Gula Darah

"Kualitas tidur terganggu, kita ngantuk, bawaanya akan makan. Lalu otak kita kekurangan energi (tenaga)."

"Sumber tenaganya dari otak, cuma ada dua. Oksigen dan gula," terang Andreas.

Ilustrasi mengonsumsi makanan pada penderita Sleep Apnea.
Ilustrasi mengonsumsi makanan pada penderita Sleep Apnea. (freepik.com)

Sehingga tubuh terasa akan mudah lapar, lalu kadar gula menjadi meningkat.

"Akhirnya jadi kemana-mana deh," tambah Andreas.

Cara Mengantisipasi

Seseorang yang mengalami Sleep Apnea dianjurkan sementara waktu untuk tidak berkendara.

Mengingat, selain timbul mendengkur, terdapat gejala lain yang dialami oleh penderita.

Baca juga: Akibat dari Insomnia, saat Bangun Tidur Badan akan Terasa Lelah dan Mengantuk

Ilustrasi pria mengantuk karena kurang tidur
Ilustrasi pria mengantuk karena kurang tidur (Pixabay)

Adalah hipersomnia (kantuk berlebihan di siang hari).

Dengan kondisi demikian, berkendara dengan kondisi mengantuk lebih berbahaya daripada mabuk.

Baca juga: Kenali Durasi Tidur yang Paling Baik, Bisa Berdampak Negatif jika Kekurangan atau Kelebihan

"Sehingga kita harus larang pasien untuk berkendara selama beberapa waktu."

"Sampai kita nyatakan sehat dan bisa berkendara kembali," terang Andreas.

Penjelasan Dokter Praktisi Kesehatan Tidur, Andreas Prasadja, ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube KompasTV, Senin (1/3/2021).

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved