Breaking News:

Pfizer Temukan Efek Samping Tak Terduga dari Suntikan Booster Ketiga, Masih dalam Kategori Aman?

Studi pfizer menemukan efek samping yang tak diduga sebelumnya dari booster vaksin, apa itu?

Tribunnews/Jeprima
Ilustrasi Vaksinasi - Petugas medis menunjukkan botol vaksin Covid-19 Pfizer di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/8/2021). 

TRIBUNHEALTH.COM - Studi terbaru menunjukkan efek samping 'tak terduga' dari suntikan booster vaksin Pfizer.

Penurunan tingkat antibodi setelah dosis kedua vaksin telah mendorong dilakukannya vaksinasi dosis ketiga oleh sejumlah negara.

Dalam data baru yang diserahkan ke Food and Drug Administrations (FDA), Pfizer telah menguraikan berbagai efek samping yang diharapkan dari dosis ketiga vaksin mereka, dilansir TribunHealth.com dari Express.

Data yang diserahkan ke FDA menunjukkan bahwa efek samping setelah dosis kedua vaksin lebih cenderung mempengaruhi orang yang lebih muda.

Statistik terbaru berasal dari sebuah penelitian yang mengambil data dari 300 peserta berusia antara 18 dan 55 tahun.

Baca juga: Studi Ungkap Manfaat Vaksinasi untuk Ibu Menyusui, Antibodi Juga Terbentuk dalam ASI

Baca juga: Vaksin dan Virus Corona Sama-sama Sebabkan Komplikasi Neurologis Serius, Mana yang Lebih Berbahaya?

ILUSTRASI - Seorang petugas kesehatan menyortir sampel darah untuk studi vaksinasi Covid-19 di Center for Pediatrics Infectology Studies (CEIP) di mana perusahaan farmasi Janssen, dari Johnson and Johnson, sedang mengembangkan studi fase 3 vaksin di Cali, Kolombia pada 26 November, 2020. Uji coba vaksin virus corona dapat segera dimulai pada bayi yang baru lahir serta wanita hamil
ILUSTRASI - Seorang petugas kesehatan menyortir sampel darah untuk studi vaksinasi Covid-19 di Center for Pediatrics Infectology Studies (CEIP) di mana perusahaan farmasi Janssen, dari Johnson and Johnson, sedang mengembangkan studi fase 3 vaksin di Cali, Kolombia pada 26 November, 2020. Uji coba vaksin virus corona dapat segera dimulai pada bayi yang baru lahir serta wanita hamil (Luis ROBAYO / AFP)

Dari sampel populasi, peneliti menemukan bahwa 63,7 persen penerima mengalami kelelahan setelah mendapatkan booster.

Selanjutnya 48,4 persen mengalami sakit kepala, dan 39,1 persen mengalami nyeri otot.

Mayoritas efek samping yang tercatat berkisar dari ringan hingga sedang.

Para ahli yang mempelajari 306 penerima booster menemukan bahwa 44 dari mereka mengembangkan efek samping yang tidak terduga, lapor Texas Breaking.

Efek samping yang paling tidak terduga yang diamati adalah pembengkakan kelenjar getah bening, yang muncul pada 16 dari 306 peserta.

Baca juga: Munculnya Reaksi setelah Disuntik Vaksin Covid-19 Belum Tentu Alergi, Perlu Konsultasi Dokter

Baca juga: Perlu Tahu! Ini 3 Alasan Pemberian Vaksin Booster menurut WHO

Ilustrasi vaksinasi. Petugas kesehatan menyuntikan vaksin COVID-19 pada warga.
Ilustrasi vaksinasi. Petugas kesehatan menyuntikan vaksin COVID-19 pada warga. (TRIBUNNEWS/Jeprima)

Lima persen dari subjek penelitian yang mengalami pembengkakan kelenjar getah bening adalah wanita, kata pembuat obat itu.

Efek sampingnya muncul dalam empat hari setelah suntikan, dan semua kecuali satu kasus dari kondisi tersebut dianggap ringan.

Ketika peneliti membandingkan efek samping ini dengan penerima dosis kedua, mereka mencatat efek samping suntikan booster serupa.

Sebuah studi sebelumnya pada penerima dosis kedua berusia antara 16 dan 55 telah menemukan bahwa 61,5 persen mengalami kelelahan, 54 persen menderita sakit kepala dan 39,3 persen mengalami nyeri otot.

FDA belum mengomentari temuan yang diajukan oleh Pfizer.

Baca juga: Meski Telah Divaksin, Seseorang Tetap Bisa Tertular Virus Corona, Profesor Jelaskan Penyebabnya

Ilustrasi vaksin pfizer
Ilustrasi vaksin pfizer (Tribunnews.com)

Aplikasi Pfizer untuk memberikan dosis ketiga vaksinnya kepada orang berusia 16 tahun dan di seluruh AS ditolak oleh komite penasihat FDA.

Anggota komite di panel penasihat FDA menyatakan skeptis bahwa Pfizer telah menyediakan data yang memadai yang mendukung kebutuhan booster pada populasi umum di AS.

Panel berpendapat bahwa tidak ada cukup data tentang keamanan suntikan booster di antara orang yang lebih muda, yang lebih rentan terhadap efek samping dari vaksin seperti miokarditis.

Panel kemudian memutuskan untuk membatasi penggunaan booster di antara populasi yang lebih berisiko terkena infeksi terobosan.

Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved