Breaking News:

Terlalu Lama di Rumah Saja, Pakar Psikologi Sebut Wajar Alami Kecemasan Jelang New Normal

Setelah terbiasa beraktivitas virtual, kecemasan bisa muncul saat kembali menyesuaikan dengan aktivitas tatap muka

Surya/Ahmad Zaimul Haq
Ilustrasi New Normal - Pengunjung menikmati makanan di meja makan yang diberi partisi atau sekat pembatas di food court Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/6/2020). Pengelola Tunjungan Plaza memasang partisi atau sekat pembatas berbahan akrilik (acrylic) di setiap meja makan dalam rangka penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona (Covid-19) pada masa transisi new normal (tatanan normal baru). 

TRIBUNHEALTH.COM - Profesor psikologi di University of Otawa, Allison Ouimet mengatakan, kecemasan jelang aktivitas new normal wajar dirasakan.

Dulu, tiap orang cemas terhadap Covid-19, serta dampaknya yang telah membatasi hubungan sosial, dilansir TribunHealth.com dari CBC.

"Sekarang kita menuju lebih banyak pembukaan kembali, masalah yang sama akan muncul," kata Ouimet, yang berspesialisasi dalam gangguan kecemasan.

Meskipun demikian, kebanyakan orang akan "bisa kembali bersosialisasi ke tingkat pra-pandemi" dengan cukup mudah, menurut Ouimet.

Meski tak dipungkiri, awalnya mungkin terasa canggung ketika harus berinteraksi kembali secara langsung.

Baca juga: Terlalu Lama WFH, Pekerja Wajar Alami Kecemasan Jelang Bekerja di Kantor, Apa yang Bisa Dilakukan?

Baca juga: Duduk Terlalu Lama saat Bekerja Bisa Sebabkan Naiknya Gula Darah dan Kadar Kolesterol

ILUSTRASI New Normal - Pengunjung mengenakan face shield atau alat pelindung wajah saat berbelanja di Plaza Marina Surabaya, Rabu (3/6/2020). Plaza Marina Surabaya menerapkan protokol penerapan normal baru atau new normal secara ketat bagi setiap pengunjung seperti wajib memakai pelindung wajah, masker dan melalui pengecekan suhu tubuh saat masuk mal. Semua karyawan di salah satu pasar telekomunikasi ini juga diwajibkan menggunakan sarung tangan untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19.
ILUSTRASI New Normal - Pengunjung mengenakan face shield atau alat pelindung wajah saat berbelanja di Plaza Marina Surabaya, Rabu (3/6/2020). Plaza Marina Surabaya menerapkan protokol penerapan normal baru atau new normal secara ketat bagi setiap pengunjung seperti wajib memakai pelindung wajah, masker dan melalui pengecekan suhu tubuh saat masuk mal. Semua karyawan di salah satu pasar telekomunikasi ini juga diwajibkan menggunakan sarung tangan untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. (SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ)

"Tidak apa-apa untuk merasa cemas ... khawatir .... Membiarkan itu, alih-alih menghakimi, itu adalah langkah nomor satu."

Selanjutnya, Ouimet mengatakan ketahui apa yang membuar diri sendiri menjadi takut.

"Apakah itu, 'Saya tidak tahu harus berkata apa? Saya tidak tahu apakah saya harus memeluk atau tidak? ... Saya takut sakit?'" katanya.

Lihatlah ketakutan itu dan buat rencana, sarannya.

Itu bisa berarti membaca statistik dan saran ahli tentang transmisi saat ini dan mengukur tingkat kenyamanan, atau bahkan bertanya kepada seseorang "haruskah kita berpelukan?"

Baca juga: Pembagian WFH dan WFO Bisa Picu Presenteeism, Kerja Overtime tapi Tak Produktif

Baca juga: Tips Pakar Agar Stres Hilang saat Libur Kerja, Bangun Kebiasaan Baru yang Positif

Ilustrasi lingkungan kerja di era new normal
Ilustrasi lingkungan kerja di era new normal (Pixabay.com)

Mulailah dari yang kecil, seperti berjalan-jalan atau duduk di teras, lalu beralih ke apa yang membuat nyaman, saran Ouimet.

Bagi mereka yang berjuang dengan gangguan kecemasan, seperti fobia sosial, pandemi mungkin memperburuk gejala mereka, katanya.

Strategi coping untuk mereka yang mengalami gangguan kecemasan adalah sama, tetapi kemajuannya akan terlihat berbeda.

"Langkahnya mungkin jauh lebih kecil," katanya.

"Anda mungkin memerlukan bantuan, seperti berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental lainnya."

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved