Breaking News:

Laboratorium Wuhan Kedapatan Borong PCR Kit sebelum Laporkan Covid, Berupaya Sembunyikan Kemunculan?

Sebuah perusahaan keamanan siber menemukan data pembelian PCR Kit di China

Hector RETAMAL / AFP
Foto dari udara menunjukkan laboratorium BSL-4 di Institut Virologi Wuhan di Wuhan di Provinsi Hubei Tengah Cina pada 17 April 2020. Terbaru, Tim WHO Kunjungi Lab Virus Wuhan, Sumber Spekulasi Asal-usul Covid-19 

TRIBUNHEALTH.COM - Covid-19 sudah hampir dua tahun menyebar di seluruh dunia.

Namun, awal kemunculan penyakit ini masih menjadi teka-teki.

Salah satu pihak yang kerap dicurigai adalah Laboratorium Wuhan, China.

Baru-baru ini ada fakta mengejutkan yang terungkap, dilansir TribunHealth.com dari Independent, Selasa (5/10/2021).

Menurut sebuah laporan, Laboratorium Wuhan meningkatkan pengadaan peralatan tes PCR pada paruh kedua 2019, beberapa bulan sebelum virus corona dilaporkan.

Data yang dikumpulkan oleh Internet 2.0, sebuah perusahaan keamanan siber Australia, menemukan bahwa pemerintah China menghabiskan hampir dua kali lipat jumlah tes PCR – yang digunakan untuk mendeteksi virus tertentu – pada 2019, dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Jelang Persalinan Ibu Hamil Wajib Lakukan Test PCR, Begini Penjelasan dr. Bayu Winarno, Sp.OG

Baca juga: Merck Klaim Obat Molnupiravir Bisa Atasi Semua Varian Virus Corona, Termasuk Delta

TES SWAB PCR UNTUK WARTAWAN -Sebanyak 150 orang wartawan mengikuti tes swab PCR yang digelar oleh Dewan Pers bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta. di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2020). Kegiatan yang merupakan wujud kepedulian terhadap wartawan ini sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, mengingat para wsrtawan menjadi salah satu garda terdepan dalam memberitakan hal yang berkaitan dengan wabah Covid-19 yang bersinggungan dengan banyak orang di lapangan.
TES SWAB PCR UNTUK WARTAWAN -Sebanyak 150 orang wartawan mengikuti tes swab PCR yang digelar oleh Dewan Pers bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta. di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2020). Kegiatan yang merupakan wujud kepedulian terhadap wartawan ini sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, mengingat para wsrtawan menjadi salah satu garda terdepan dalam memberitakan hal yang berkaitan dengan wabah Covid-19 yang bersinggungan dengan banyak orang di lapangan. (WARTA KOTA/NUR ICHSAN)

Sementara China membeli peralatan PCR seharga 36,7 juta yuan (£ 4,1 juta) pada 2018, mereka menghabiskan 67,7 juta yuan (£ 7,6 juta) pada 2019.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa total kontrak pengadaan PCR naik dari 89 pada 2018 menjadi 135 pada 2019.

Peningkatan pembelian yang “mencolok, signifikan, dan tidak normal” terutama berasal dari empat institusi — Rumah Sakit Tentara Lintas Udara Tentara Pembebasan Rakyat, Institut Virologi Wuhan, Universitas Sains dan Teknologi Wuhan, serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Hubei. .

Robert Potter, kepala eksekutif dan pendiri Internet 2.0, mengatakan kepada Australia bahwa beberapa data pengadaan mungkin tidak berbahaya.

"Tetapi secara bersama-sama itu memberi kita tren yang secara komprehensif menantang narasi resmi bahwa pandemi dimulai pada bulan Desember," kata Potter, yang juga salah satu penulis penelitian ini.

Baca juga: Di Beberapa Negara Muncul Varian Baru Virus Corona saat Lonjakan Kasus Covid-19

Baca juga: Virus Corona Lebih Banyak Serang Anak dan Remaja di AS, Pakar Sebut Ada Kaitan dengan Perilaku

Ilustrasi kelelawar sempat dicurigai sebagai penyebar virus corona
Ilustrasi kelelawar sempat dicurigai sebagai penyebar virus corona (Pixabay)

“Ini juga menunjukkan ada sejumlah besar pengadaan dari tingkat pemerintah, PLA dan Pusat Pengendalian Penyakit, serta laboratorium sensitif yang ada di provinsi Hubei,” tambahnya.

China melaporkan kelompok kasus pertama pada 31 Desember 2019, sementara WHO menerbitkan nasihat pertamanya tentang kasus tersebut pada 5 Januari 2020.

Menurut penelitian Internet 2.0, peningkatan pengeluaran terlihat pada awal Mei 2019.

Namun, penelitian tersebut dibantah oleh Kementerian Luar Negeri China.

“Ketertelusuran virus adalah masalah ilmiah serius yang harus ditangani oleh para ilmuwan,” kata seorang juru bicara kepada Bloomberg.

Pakar medis lainnya juga mendekati kesimpulan yang diambil dari penelitian dengan hati-hati.

Dr Amesh Adalja, seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins mengatakan bahwa dia tidak tahu alasan spesifik di balik peningkatan pembelian di provinsi Hubei pada waktu itu.

Namun dia menambahkan bahwa peningkatan pembelian peralatan PCR secara umum tidak mengherankan karena telah menjadi “metodologi pilihan untuk deteksi patogen”, bahkan sebelum pandemi.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved