Breaking News:

Merck Klaim Obat Molnupiravir Bisa Atasi Semua Varian Virus Corona, Termasuk Delta

Hingga kini molnupiravir masih menjadi kandidat obat covid yang paling digadang-gadang

kompas.com
ilustrasi obat Covid-19 

TRIBUNHEALTH.COM - Perusahaan pembuat obat Merck & Co telah berhasil mengembangkan molnupiravir, obat yang disebut efektif melawan Covid-19.

Molnupiravir diklaim bisa mengurangi angka rawat inap dan kematian akibat Covid-19 hingga 50 persen.

Tak hanya itu saja, studi laboratorium menunjukkan bahwa molnupiravir efektif melawan semua jenis virus corona, tak terkecuali varian delta.

Namun, molnupiravir dinilai efektif jika diberikan di awal infeksi, dilansir TribunHealth.com dari Independent.

“Karena molnupiravir tidak menargetkan protein lonjakan virus (target semua vaksin Covid-19 saat ini, yang menentukan perbedaan antara varian)obat harus sama efektifnya karena virus terus berkembang,” kata Jay Grobler, kepala penyakit menular dan vaksin di Merck.

Baca juga: Ketahui Prosedur Persalinan Jika Dinyatakan Terpapar COVID-19, Begini Ulasan dr. Bayu Winarno, Sp.OG

Baca juga: dr. Tan Sebut Kebiasaan Pakai Masker Tak Hanya Lindungi dari Covid, tapi Juga Penyakit Menular Lain

Tenaga kesehatan melakukan vaksinasi Covid-19 yang dilakukan secara door to door atau rumah ke rumah di kawasan Sunter Agung, Sunter, Jakarta Utara, Senin (16/8/2021). Vaksinasi yang dilakukan secara door to door itu dilakukan untuk sebagai langkah percepatan vaksinasi bagi lansia dan yang mengalami kelumpuhan.
Tenaga kesehatan melakukan vaksinasi Covid-19 yang dilakukan secara door to door atau rumah ke rumah di kawasan Sunter Agung, Sunter, Jakarta Utara, Senin (16/8/2021). Vaksinasi yang dilakukan secara door to door itu dilakukan untuk sebagai langkah percepatan vaksinasi bagi lansia dan yang mengalami kelumpuhan. (Warta Kota/henry lopulalan)

Molnupiravir menargetkan polimerase virus, enzim yang dibutuhkan virus untuk membuat salinan dirinya sendiri, kata perusahaan itu.

Ini dirancang untuk bekerja dengan memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus, kata Merck.

Merck menguji obat antivirusnya terhadap sampel swab hidung yang diambil dari pasien yang berada dalam tahap awal uji coba obat.

Analisis data terbaru dipresentasikan selama Infectious Disease Week, pertemuan tahunan semua organisasi penyakit menular di Amerika.

Merck mengatakan awal tahun ini bahwa uji coba kecil tahap menengah menemukan bahwa setelah lima hari pengobatan molnupiravir, tidak ada pasien yang memakai berbagai dosis obat tersebut dinyatakan positif terkena virus, sementara 24 persen pasien plasebo memiliki tingkat virus yang terdeteksi.

Baca juga: dr. Bayu Winarno, Sp.OG Paparkan Gejala dan Penanganan Pasien Ibu Hamil yang Terpapar COVID-19

Baca juga: Covid-19 Bisa Serang Pankreas, Penyintas Dapat Alami Diabetes karena Produksi Insulin Terganggu

ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama.
ILUSTRASI - Petugas medis menunjukkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) saat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Sejumlah pejabat menerima suntikan vaksin Covid-19 di antaranya yakni Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna dan Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya. Seusai divaksin, mereka menerima Kartu Vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan suntikan dosis kedua setelah dua minggu dari suntikan pertama. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Merck saat ini sedang melakukan dua uji coba Fase III dari antivirus yang dikembangkannya dengan Ridgeback Biotherapeutics, satu untuk mengobati Covid-19 dan satu lagi untuk mencegahnya.

Uji coba tersebut mendaftarkan pasien Covid-19 yang tidak dirawat di rumah sakit yang memiliki gejala tidak lebih dari lima hari dan berisiko terkena penyakit parah.

Studi pengobatan Fase III diharapkan selesai pada awal November, kata Grobler.

“Antivirus oral berpotensi tidak hanya mengurangi durasi sindrom Covid-19, tetapi juga berpotensi membatasi penularan ke orang-orang di rumah Anda jika Anda sakit,” Timothy Sheahan, ahli virologi di University of North Carolina-Chapel Hill, kepada NBC News.

Carl Dieffenbach, direktur Divisi AIDS di Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan bahwa setidaknya tiga antivirus "menjanjikan" untuk Covid-19 saat ini sedang diuji, dan hasilnya diharapkan keluar pada musim dingin.

Selain molnupiravir Merck, dua lainnya diproduksi oleh Roche and Atea Pharmaceuticals, dan Pfizer, katanya.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved