Breaking News:

Endemi Bukan Berarti Tidak Ada Kasus, Jubir Vaksin Ungkap Sejumlah Indikator yang Harus Dipenuhi

Jubir Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi menyebut pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki Endemi

tribunnews.com
Ilustrasi seseorang terpapar virus corona-Jubir Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi menyebut pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki Endemi 

TRIBUNHEALTH.COM - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki endemi.

Pasalnya proses transisi menuju normalisasi endemi itu artinya bukan berarti kasus COVID-19 tidak ada sama sekali, tapi tetap kasus itu akan ada.

"Untuk menghilangkan sebuah penyakit itu membutuhkan waktu yang lebih panjang."

"Tentunya kita harus bersiap untuk terus berdampingan dengan COVID-19," katanya dilansir Tribunhealth.com dari situs resmi sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Baca juga: Kemenkes Luncurkan Fitur Pelacakan Kontak Erat COVID-19 melalui Aplikasi PeduliLindungi

Saat ini Indonesia masih dalam kondisi pandemi COVID-19, dengan banyaknya tren indikator pengendalian pandemi yang terus menunjukkan ke hal yang positif.

Indonesia sudah mulai bersiap-siap membuat langkah menuju ke arah endemi.

Ilustrasi Pandemi akan berakhir.
Ilustrasi Pandemi akan berakhir. (Freepik.com)

Transisi endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator.

Antara lain:

- Laju penularan harus kurang dari 1

Baca juga: Pandemi Membaik, Pemerintah Lakukan Pelonggaran Mobilitas dalam Menuju Endemi Covid-19

- Angka positivity rate harus kurang dari 5%

- Tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5%

- Angka fatality rate harus kurang dari 3%

Ilustrasi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit
Ilustrasi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit (Freepik.com)

- dan level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1.

Kondisi–kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu, misalnya 6 bulan.

Tentunya indikator maupun waktunya masih terus dibahas oleh pemerintah bersama dengan para ahli untuk menentukan indikator yang terbaik untuk kita betul-betul mencapai ke arah kondisi endemi.

Baca juga: 2 Tahun Penanganan Pandemi, Jubir Vaksin Tekankan Kolaborasi dan Penguatan Layanan Kesehatan

"Yang paling penting pada saat endemi, walaupun kasusnya ada, dia tidak akan mengganggu kehidupan kita seperti saat ini."

"Di mana hampir aktivitas – aktivitas kehidupan kita, kehidupan sosial, kehidupan beragama, pariwisata ini tidak terganggu dengan adanya kasus COVID-19," ucap dr. Nadia.

Baca juga: dr. Siti Nadia Tarmizi Berharap Masyarakat Tak Menghindari Testing untuk Mengendalikan Penularan

Saat ini Indonesia sudah dalam proses transisi perubahan pandemi menjadi endemi. Proses transisi itu sejalan dengan kebijakan pelonggaran-pelonggaran yang diputuskan pemerintah.

Ilustrasi melawan Covid-19
Ilustrasi melawan Covid-19 (Freepik.com)

Baca juga: dr. Hemastia Manuhara Harbai Tak Sarankan Tes Swab Tanpa Bantuan Tenaga Kesehatan, Begini Alasannya

Pelonggaran tersebut dilakukan dengan menurunkan level PPKM menjadi level 2, menghapuskan antigen dan PCR sebagai syarat melakukan perjalanan domestik menggunakan transportasi laut, darat, maupun udara bagi masyarakat yang sudah vaksin hingga dosis ke-2.

Pemerintah juga menurunkan jangka waktu karantina bagi masyarakat yang melakukan perjalanan luar negeri.

Dari yang sebelumnya karantina 14 hari menjadi 7 hari, kemudian 3 hari, hingga saat ini menjadi 1 hari.

Baca juga: Sebuah Laporan Rilis Daftar Gejala Covid-19 Siluman Omicron, Sakit Tenggorokan hingga Pusing

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved