Breaking News:

Bos Moderna Sebut Kemungkinan Vaksin Kurang Efektif Lawan Varian Omicron, Bakal Dimodifikasi?

Sejumlah perusahaan pembuat vaksin mulai bersiap untuk memodifikasi vaksin demi lawan varian omicron

Tribunnews/Jeprima
Tampak pada gambar vaksin Covid-19 Moderna yang akan menjadi dosis ketiga atau vaksin booster dan jarum suntik bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (9/8/2021). Penyuntikan dosis ketiga itu dimaksudkan untuk memberikan proteksi tambahan kepada petugas kesehatan, terutama bagi yang merawat pasien Covid-19.?Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan?booster? vaksin untuk tenaga kesehatan (nakes) ditargetkan selesai pada minggu kedua Agustus 2021 dengan jumlah nakes yang menjadi prioritas penerima vaksin sebanyak 1.468.764 orang. 

TRIBUNHEALTH.COM - Kepala Eksekutif Moderna, Stéphane Bancel, memperkirakan vaksin yang telah ada akan kurang efektif dalam melawan varian omicron.

Bos produsen obat asal AS itu menyebut hanya perlu dua minggu untuk mendapatkan data pasti mengenai kinerja vaksin dalam melawan varian baru Covid-19.

Jika memang terbukti kurang efektif, vaksin bisa saja dimodifikasi.

Namun perlu beberapa bulan untuk memodifikasi vaksin sehingga mampu menunjang daya tahan tubuh terhadap varian omicron.

“Tidak ada dunia, saya pikir, di mana [keefektifan] berada pada tingkat yang sama … yang kami miliki dengan Delta,” katanya kepada Financial Times, diberitakan The Guardian, Selasa (30/11/2021).

Sementara itu, ada pula nada optimis bahwa vaksin yang telah beredar bisa melindungi dari varian tersebut, misalnya saja Pfizer dan Oxford.

Baca juga: Pfizer dan Moderna Tengah Kembangkan Vaksin yang Targetkan Varian Covid-19, Termasuk Omicron

Baca juga: Varian Omicron Bisa Infeksi Orang yang Telah Divaksinasi, Ahli Yakin Tetap Efektif Kurangi Keparahan

Ilustrasi vaksin Moderna
Ilustrasi vaksin Moderna (kompas.com)

Kedua pembuat vaksin itu memperkirakan suntikan yang ada akan terus mencegah penyakit parah.

“Kami pikir kemungkinan besar orang akan memiliki perlindungan substansial terhadap penyakit parah yang disebabkan oleh Omicron,” kata U─čur ahin, kepala eksekutif dan salah satu pendiri mitra Jerman Pfizer, BioNTech.

Dalam konteks ini, Ugur mendefinisikan penyakit parah sebagai kasus yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

“Menurut saya, tidak ada alasan untuk khawatir."

"Satu-satunya hal yang membuat saya khawatir saat ini adalah kenyataan bahwa ada orang yang belum divaksinasi sama sekali.”

Ilustrasi vaksin AstraZeneca batch CTMAV547
Ilustrasi vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 (Tribunnews.com)

Baca juga: Data Pemerintah Inggris Tunjukkan Vaksinasi Covid-19 Aman untuk Ibu Hamil

Baca juga: Virus Corona Varian Omricon Masuk Inggris, Ahli Percaya Vaksinasi Tetap Bisa Melindungi dari Infeksi

Kedua perusahaan mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka dapat memproduksi dan mengirimkan versi terbaru dari vaksin mereka dalam waktu 100 hari jika varian Covid baru yang terdeteksi di Afrika selatan terbukti bisa 'mengelabuhi' vaksin yang sudah beredar..

Universitas Oxford, yang membuat vaksin AstraZeneca, mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Kami akan dengan hati-hati mengevaluasi implikasi dari munculnya [Omicron] untuk kekebalan vaksin."

“Meskipun munculnya varian baru selama setahun terakhir, vaksin terus memberikan tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap penyakit parah dan sejauh ini tidak ada bukti bahwa Omicron berbeda.”

Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved