Breaking News:

Belum Ada Tanda Pandemi Covid-19 Segera Berakhir, Benarkah Virus Corona Tak Akan Pernah Hilang?

Ada satu teroi dari para ahli bahwa virus corona tak akan pernah hilang dan bisa menjadi endemi

Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Ilustrasi hidup berdampingan dengan Pandemi Covid -19 - Foto: Penurunan menjadi level II pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berimbas terhadap dibukanya kembali kawasan pariwisata, ruang publik di sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (3/9/21). Sejumlah wisatawan terlihat mengunjungi kawasan kota lama yang menjadi favorit anak muda untuk mengenal wisata sejarah di Semarang. Walau sudah ditetapkan menjadi level II semua pengunjung wajib menerapkan 5 M. 

TRIBUNHEALTH.COM - Virus corona sudah hampir dua tahun ada di muka bumi sejak dilaporkan pertama kali pada akhir 2019 lalu di China.

Namun, hingga kini pandemi akibat virus ini belum menemui tanda akan segera berakhir.

Ada keyakinan bahwa virus ini tak akan hilang dan akan menjadi epidemi seperti influenza, dilansir TribunHealth.com dari berita CNN, Senin (8/11/2021).

Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologis Badan Pengawas Obat dan Makanan AS dan Profesor Epidemiologi University of Michigan, Dr. Arnold Monto memberikan penjelasan.

Dia menyebut sebenarnya, tak ada batas resmi antara pandemi dan epidemi.

"Bahkan tidak ada ukuran untuk mengatakan bahwa sesuatu adalah epidemi atau pandemi. Semua ini ada di mata yang melihatnya -- dan itu bagian dari masalah," kata Dr. Arnold Monto.

"Jadi, semua ini tidak berdasarkan aturan. Ini biasanya didasarkan pada apa yang harus Anda lakukan untuk mengendalikan wabah," kata Monto.

Baca juga: Indonesia Dinyatakan Memiliki Tingkat Penularan Rendah, Jubir Vaksin Ingatkan Varian Baru Covid-19

Baca juga: NHS Inggris Sebut Rutin Buka Jendela Bisa Bantu Kurangi Risiko Penularan Covid-19 di Rumah

ILUSTRASI New Normal - Pengunjung mengenakan face shield atau alat pelindung wajah saat berbelanja di Plaza Marina Surabaya, Rabu (3/6/2020). Plaza Marina Surabaya menerapkan protokol penerapan normal baru atau new normal secara ketat bagi setiap pengunjung seperti wajib memakai pelindung wajah, masker dan melalui pengecekan suhu tubuh saat masuk mal. Semua karyawan di salah satu pasar telekomunikasi ini juga diwajibkan menggunakan sarung tangan untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19.
ILUSTRASI New Normal - Pengunjung mengenakan face shield atau alat pelindung wajah saat berbelanja di Plaza Marina Surabaya, Rabu (3/6/2020). Plaza Marina Surabaya menerapkan protokol penerapan normal baru atau new normal secara ketat bagi setiap pengunjung seperti wajib memakai pelindung wajah, masker dan melalui pengecekan suhu tubuh saat masuk mal. Semua karyawan di salah satu pasar telekomunikasi ini juga diwajibkan menggunakan sarung tangan untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. (SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ)

Virus corona tak bisa diprediksi pasti

Kabar baiknya, menurut Monto, adalah kekuatan vaksin.

"Apa yang sangat berbeda di sini adalah bahwa vaksin kami jauh lebih efektif daripada yang biasa kita lihat."

Berita buruk datang dengan kekuatan virus untuk berubah dan berkembang.

Tidak ada yang bisa memprediksi seperti apa masa depan Covid-19.

Apa lagi munculnya varian virus corona, seperti Delta, telah menggeser lintasannya, katanya.

“Dengan perubahan pola transmisi, seiring munculnya varian – saya menyebutnya parade varian – kita sekarang melihat transmisi yang jauh lebih luas dan penyebaran yang lebih seragam secara global."

"Ini membuat deklarasi akhir pandemi menjadi lebih sulit,” kata Monto.

"Karena seluruh pola penyebaran telah berubah, dan mungkin masih ada kantong yang benar-benar belum melewati jenis gelombang yang telah dilalui seluruh dunia."

Tunggu dan lihat

Ilustrasi New Normal - Pengunjung menikmati makanan di meja makan yang diberi partisi atau sekat pembatas di food court Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/6/2020). Pengelola Tunjungan Plaza memasang partisi atau sekat pembatas berbahan akrilik (acrylic) di setiap meja makan dalam rangka penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona (Covid-19) pada masa transisi new normal (tatanan normal baru).
Ilustrasi New Normal - Pengunjung menikmati makanan di meja makan yang diberi partisi atau sekat pembatas di food court Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/6/2020). Pengelola Tunjungan Plaza memasang partisi atau sekat pembatas berbahan akrilik (acrylic) di setiap meja makan dalam rangka penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona (Covid-19) pada masa transisi new normal (tatanan normal baru). (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Baca juga: Berbagai Organisasi Kesehatan Tegaskan Vaksin Covid-19 Tak Pengaruhi Pubertas dan Kesuburan Anak

Baca juga: Tanya Jawab Vaksin Covid-19 pada Anak, Apakah Dosis yang Diberikan Sama seperti Orang Dewasa?

Monto dan para pemimpin kesehatan masyarakat lainnya mengantisipasi bahwa di masa depan, dunia dapat melacak penyebaran SARS-CoV-2, virus corona yang menyebabkan Covid-19, dengan cara yang mirip dengan bagaimana flu musiman dipantau.

"Kami tidak tahu apakah kami akan melihat pola musiman semacam itu dengan SARS-CoV-2, tetapi itu mengingatkan kami bahwa sebagian besar virus pernapasan mulai berperilaku sebagai peristiwa musiman," kata Monto.

"Ada preseden untuk pola yang sangat musiman untuk beberapa virus corona yang telah menginfeksi orang," tambahnya.

"Apakah SARS-CoV-2 mulai berperilaku seperti itu, kita tidak tahu, tetapi setidaknya itu memberi kita satu skenario bahwa ia mungkin mulai berperilaku seperti itu."

Seperti yang dikatakan Monto, dunia harus "menunggu dan melihat dan menahan napas" untuk membuka seperti apa fase endemik virus corona.

Baca berita lain tentang Covid di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved