Breaking News:

dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ: Cara Menangani Body Shaming dan Bullying, Stand Up dan Speak Up

Seseorang yang mengalami body shaming atau bullying akan cenderung memiliki kerentanan atau insecure pada dirinya.

Boldsky.com
Ilustrasi seorang remaja yang mengalami body shaming dan mengalami kecemasan 

TRIBUNHEALTH.COM - dr. Zulvia Oktanida Syarif sebut body shaming merupakan salah satu bentuk dari bullying yang dilakukan oleh orang lain yang terfokus pada bentuk fisik.

Seseorang yang mengalami body shaming atau bullying, tentunya akan mempunyai persepsi terhadap apa yang disampaikan orang lain terhadapnya.

Kondisi ini akan mempengaruhi body image pada seseorang yang menerima body shaming atau bullying tersebut.

Dilansir TribunHealth.com, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ memberikan penjelasan dalam tayangan YouTube Kompas Tv program Ayo Sehat.

dr. Zulvia Oktanida Syarif memberikan penjelasan, jika seseorang yang mengalami body shaming atau bullying akan cenderung memiliki kerentanan atau insecure pada dirinya.

Ia akan merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya atau body imagenya.

Hal ini akan memunculkan kondisi rasa yang tidak percaya diri, muncul rasa kecemasan akibat tidak nyaman dengan tubuhnya.

Baca juga: dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ: Kesehatan Mental Tak Hanya Satu Penyebabnya, tapi Multifactorial

Ilustrasi anak yang sedang sedih dan depresi
Ilustrasi anak yang sedang sedih dan depresi (Gambar oleh Lysogsalt dari Pixabay)

Korban body shaming tersebut akan mulai cemas untuk berinteraksi, cemas untuk beraktivitas, dan dalam tahap yang parah ia akan merasa putus aja hingga mengalami gejala depresi.

"Jadi body shaming ini hanya pencetusnya, gejala gangguan mental pada setiap orang juga bervariasi. Kondisi ini akan mengarah pada kecemasan atau depresi," terang dr. Zulvia.

Oleh sebab itu, dr. Zulvia memaparkan cara penanganan pada remaja atau siapapun yang mengalami body shaming.

Menurut dr. Zulvia, korban body shaming perlu melakukan stand up dan speak up ketika ia mengalami body shaming atau bullying.

Korban tersebut perlu menunjukkan sikap bahwa ia tidak suka diperlakukan seperti itu.

Remaja yang mengalami body shaming atau bullying perlu belajar komunikasi asertivitas atau asertif, bukan hanya pasif diam saja ataupun agresif melawan, namun harus asertif.

Asertivitas atau asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang ia inginkan, yang ia rasakan, dan yang ia pikirkan kepada orang lain, namun tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain.

Baca juga: dr. Zulvia Oktanida Syarif Ungkap Dampak yang Terjadi Bila Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental

Ilustrasi seorang remaja yang mengalami body shaming dan mengalami kecemasan
Ilustrasi seorang remaja yang mengalami body shaming dan mengalami kecemasan (bustle.com)

"Misalnya bilang, aku gasuka kamu ngomong seperti itu tentang fisik aku."

"Lebih ke arah jujur dan menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan apa yang pihak lain katakan, namun dengan komunikasi yang baik," papar dr. Zulvia.

"Ini adalah hal yang perlu dipelajari oleh remaja atau siapapaun yang mengalami body shaming."

"Kalian perlu speak up, karena sering kali orang yang di bully itu cenderung diam saja," lanjutnya.

dr. Zulvia menyarankan untuk korba body shaming atau korban bully untuk menceritakan masalahnya kepada orangtua atau guru atau orang dewasa yang memiliki peran utama di tempat tersebut.

"Jadi stand up dan speak up yang perlu dilakukan oleh remaja yang menerima bullying atau body shaming," jelas dr. Zulvia.

Penjelasan ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ dalam tayangan YouTube Kompas Tv program Ayo Sehat pada 13 Agustus 2021.

Baca berita lain seputar kesehatan di sini

(Tribunhealth.com/Irma)

Penulis: Irma Rahmasari
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved