Breaking News:

Makin Banyak Penyakit Kardiovaskular yang Diderita, Makin Mungkin Alami Penurunan Kinerja Otak

Orang dengan penyakit kardiovaskular lebih berisiko alami masalah kognitif pada masa paruh baya

bangka.tribunnews.com
Ilustrasi otak manusia 

TRIBUNHEALTH.COM - Memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler berkaitan dengan buruknya kinerja kognitif otak di usia paruh baya.

Semakin banyak faktor risiko kardiovaskular yang dimiliki seseorang, seperti obesitas, tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi, maka semakin rendah mereka melakukan tes memori dan berpikir.

Hasil itu diungkap dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation American Heart Association, dilansir TribunHealth.com dari CNN.

"Sepertiga anak-anak AS kelebihan berat badan atau obesitas yang menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi di masa kanak-kanak dan risiko penyakit jantung dan stroke yang lebih tinggi di masa dewasa," kata Dr. Eduardo Sanchez.

Dia adalah kepala petugas medis untuk pencegahan di American Heart Association, dalam sebuah pernyataan.

Wawasan seperti ini penting untuk deteksi dini dan pencegahan, kata studi Mei 2021 tersebut.

Baca juga: dr. Tan Shot Yen Jelaskan Berbagai Penyebab Obesitas, Sarankan Temui Dokter untuk Konsultasi

Baca juga: dr. Asih Anggraeni, Sp.OG: Obesitas dan Penyakit Paru Kronis Tingkatkan Risiko Alami Turun Peranakan

ilustrasi penderita obesitas
ilustrasi penderita obesitas (tribunnews.com)

Pasalnya saat ini tidak ada obat untuk Alzheimer atau penyebab utama demensia lainnya.

“Jika kita dapat mengatasi beberapa masalah ini sejak dini, telah terbukti bahwa hal itu tidak hanya mengarah pada kehidupan kognitif yang jauh lebih baik tetapi juga kehidupan kardiovaskular yang jauh lebih baik saat Anda mencapai usia paruh baya dan seterusnya,” kata juru bicara AHA Dr. Thuy Bui, rekan direktur medis departemen darurat di Children's Healthcare of Atlanta, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Studi jangka panjang

Penelitian dimulai pada tahun 1980 ketika sekitar 3.600 anak laki-laki dan perempuan Finlandia yang dipilih secara acak, mulai dari usia 3 hingga 18 tahun.

Mereka dipilih untuk menjadi bagian dari penelitian Risiko Kardiovaskular pada Orang Muda Finlandia.

Ini dirancang untuk mempelajari risiko kardiovaskular dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Anak-anak, semuanya berkulit putih, diikuti setiap tiga tahun sampai usia 12 tahun, kemudian secara berkala selama rentang 31 tahun.

Baca juga: Gula, Garam, dan Lemak Menjadi Penyebab Utama Terjadinya Obesitas, Begini Ulasan dr. Tan Shot Yen

Baca juga: Bukan Makan Ayam Ras, dr. Tan Shot Yen Ingatkan Makanan Kemasan Bisa Jadi Penyebab Obesitas

Ilustrasi otak manusia
Ilustrasi otak manusia (Pixabay)

Pada setiap kunjungan, para peneliti memeriksa berat badan, kolesterol, tekanan darah dan kadar insulin, sambil juga melihat faktor gaya hidup seperti merokok, penggunaan alkohol, diet dan aktivitas fisik.

Pada tahun 2011, lebih dari 2.000 peserta penelitian, mulai dari usia 34 hingga 49 tahun, menjalani tes fungsi kognitif terkomputerisasi yang mengukur memori episodik, memori kerja jangka pendek, waktu reaksi, pemrosesan visual, dan perhatian.

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh menjadi orang dewasa dengan tekanan darah sistolik tinggi yang konsisten atau kolesterol total dan kolesterol LDL (jahat) yang tinggi, memiliki kinerja yang buruk dalam tes memori dan pembelajaran di usia paruh baya.

Orang yang mengalami obesitas sejak masa kanak-kanak hingga dewasa memiliki kecepatan pemrosesan visual yang lebih rendah dan lebih banyak masalah dalam perhatian.

Orang-orang yang memiliki ketiga faktor risiko - tekanan darah tinggi, kolesterol, dan obesitas - sejak mereka masih anak-anak mendapat skor buruk di banyak bidang.

Mereka memiliki ingatan yang lebih buruk, pemrosesan visual dan keterampilan belajar asosiatif yang lebih buruk, rentang perhatian yang berkurang, dan kecepatan reaksi yang lebih lambat.

Intervensi kesehatan otak baiknya dilakukan sejak masa anak-anak

ilustrasi anak belajar berbicara
ilustrasi anak belajar berbicara (health.kompas.com)

Baca juga: Mengenal Penyebab dan Gejala Muntaber yang Kerap Dialami Oleh Anak-anak

Baca juga: Tanda Pubertas pada Anak Perempuan, Tumbuh Lebih Cepat hingga Muncul Gejolak Emosional

Halaman
12
Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved