Breaking News:

dr. Edward Menjelaskan Jangka Waktu Vaksinasi Setelah Terpapar Covid-19

Dokter mengatakan amannya untuk melakukan vaksin adalah setelah 14 hari sampai dengan 3 bulan terinfeksi sudah bisa dilakukan vaksin.

kompas.com
ilustrasi vaksin sinovac 

TRIBUNHEALTH.COM - Seseorang yang pernah terinfeksi Covid-19 sebenarnya tidak ada larangan untuk melakukan vaksin.

Sebaiknya setelah terinfeksi virus Covid-19 memeriksakan antibodi dan bisa langsung vaksin.

Amannya untuk melakukan vaksin adalah setelah 14 hari sampai dengan 3 bulan terinfeksi sudah bisa dilakukan vaksin.

Apabila memiliki peyakit paru misalnya selain covid disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter apakah penyakit yang diderita bisa berdampak atau terjadi perburukan setelah vaksin atau tidak.

ilustrasi vaksin sinovac
ilustrasi vaksin sinovac (kompas.com)

Baca juga: dr. Zulvia Oktanida Syarif Ungkap Dampak yang Terjadi Bila Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental

Dokter Edward menjelaskan misalkan seseorang memiliki asma dan hendak melakukan vaksin, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Jangan sampai setelah vaksin justru malah memperburuk penyakit asmanya.

Seseorang yang memiliki penyakit atau gangguan pada pernapasan harus sering-sering utnuk berkonsultasi dengan dokter.

Orang yang bergejala ringan semisal gejalanya adalah batuk, dan rasa jenga pada dada harus diperiksakan ke dokter.

Sebenarnya orang yangsembuh dari positif Covid-19 dan bergejala ringan yang harus dilakukan adalah selalu mengecek saturasi.

Baca juga: Alami Nyeri Rahang, Sebaiknya Berkunjung ke Dokter Gigi atau Dokter Tulang? Ini Kata drg. Anastasia

Selain selalu mengecek saturasi, juga disarankan untuk selalu mengecek suhu tubuh dan frekuensi pernapasan.

Apabila saturasi tidak bagus, batuk secara terus menerus dan dada terasa berat merupakan hal yang harus mengecek diri sendiri.

Dokter Edward menyampaikan WHO (world health organization) pernah mengatakan bahwa rokok bukan sebagai media penyebaran Covid -19, tetapi tangan yang selalu dekat dengan mulut.

Seorang perokok cenderung tidak akan terkena infeksi virus Covid-19 juga tidak mungkin, akrena banyak sekali kasus di Indonesia justru kebanyakan perokok yang positif Covid-19.

Baca juga: Ketahui Berbagai Faktor Penyebab Penyakit Usus Buntu menurut dr. Andreas Cahyo Nugroho Sp.B.

Dikarenakan asap rokok menurunkan kemampuan fisiologi paru-paru, apalagi seseorang tersebut telah bertahun-tahun merokok.

Sangat disarankan untuk menjaga kesehatan paru dengan cara berhenti merokok.

Anggapan bahwa merokok justru memperkecil resiko terpapar Covid-19 hanya menjerumuskan seseorang kedalam hidup yang tidak sehat.

Tidak memperkecil resiko terpapar virus Covid-19 malah menimbulkan penyakit lain pada paru-paru.

Ini dikutip dari channel YouTube Tribun Health dan disampaikan oleh dr. Edward Pandu Wiriansya Sp.P(K). Seorang dokter spesialis pulmonologi & respirasi. Senin (23/8/2021)

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved