Breaking News:

Gejala Covid-19 Lebih Berbahaya jika Seseorang Terinfeksi 2 Varian Virus Sekaligus

Karena hal ini, ahli menyebut kembali ke kebiasaan pra pandemi masih belum aman dilakukan

Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Ilustrasi Covid-19 --- FOTO: Sejumlah tenaga medis sedang menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang penuh hingga sebagian pasien harus dirawat di selasar depan IGD RSUP Dr Kariadi, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/6/2021). Kondisi tersebut juga terjadi pada sejumlah rumah sakit di Kota Semarang bersamaan dengan meningkatnya kasus Covid-19. 

TRIBUNHEALTH.COM - Gejala Covid-19 yang lebih parah bisa terjadi jika dua varian virus menginfeksi satu orang dalam waktu bersamaan.

Fakta itu terungkap dalam penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Sage, diberitakan TribunHealth.com dari The Sun.

"Sebuah varian yang menyebabkan penyakit yang lebih parah dapat muncul melalui rekombinasi, di mana ia diproduksi pada individu yang terinfeksi dengan dua varian terpisah atau memperoleh materi genetik lain dari virus lain atau virus tuan rumah (kemungkinan realistis)," tulis dalam makalah tersebut.

Para peneliti masih percaya vaksin akan memberikan perlindungan terhadap virus corona.

Namun perlu diingat, saat ini belum ada vaksin yang benar-benar efektif.

Baca juga: Penelitian Terbaru Ungkap Vaksinasi Bisa Turunkan Risiko Long Covid

Baca juga: Ahi Gizi R. Radyan Yaminar, S.Gz. Jelaskan Asupan Gizi yang tepat pada Pasien Covid-19

ILUSTRASI Orang terpapar virus corona atau Covid-19 ---- FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung.
ILUSTRASI Orang terpapar virus corona atau Covid-19 ---- FOTO: Tenaga medis melakukan simulasi alur masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). Simulasi dari mulai pasien terduga Covid-19 datang ke RSHS, diperiksa di ruang Isolasi IGD, hingga dibawa ke Ruang Khusus Isolasi Kemuning tersebut, dilakukan untuk melatih kesiapan tenaga hingga sarana medis dalam menangani dan merawat pasien terduga virus corona yang masuk ke RSHS Bandung. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Karenanya, masih ada kemungkinan peningkatan morbiditas dan mortalitas dari berbagai varian yang ada.

Para peneliti mengatakan masih berisiko jika masyarakat kembali ke kebiasaan pra-pandemi sekarang.

Varian Mu

Salah satu penyebab kembali ke kebiasaan lama belum aman adalah hadirnya berbagai varian virus corona.

Satu di antara varian baru yang menjadi perhatian baru adalah varian Mu, yang diidentifikasi sebagai B.1.621, diberitakan TribunHealth.com dari The Guardian, Rabu (1/9/2021).

Mu ditambahkan ke daftar pantauan WHO pada 30 Agustus setelah terdeteksi di 39 negara dan ditemukan memiliki sekelompok mutasi yang mungkin membuatnya kurang rentan terhadap perlindungan kekebalan yang telah diperoleh banyak orang.

Menurut buletin mingguan WHO tentang pandemi, varian Mu "memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan".

Data awal menunjukkan Mu mungkin menghindari pertahanan kekebalan dengan cara yang mirip dengan varian Beta yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, tambah laporan itu.

Tetapi dugaan ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Anak-anak dan balita mengikuti rapid test dan swab test Covid-19 massal gratis yang digelar Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) RI, di halaman Gedung Siola, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2020). Ratusan warga yang mengikuti tes Covid-19 tersebut merupakan warga yang telah ditentukan sebelumnya. Tidak hanya orang dewasa, namun juga anak kecil dan lansia turut menjadi peserta.
Anak-anak dan balita mengikuti rapid test dan swab test Covid-19 massal gratis yang digelar Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) RI, di halaman Gedung Siola, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2020). Ratusan warga yang mengikuti tes Covid-19 tersebut merupakan warga yang telah ditentukan sebelumnya. Tidak hanya orang dewasa, namun juga anak kecil dan lansia turut menjadi peserta. (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Baca juga: Tips Agar Tubuh Sehat dan Bugar saat Pandemi Covid-19, Dijelaskan oleh dr. Alfan Nur Asyhar.

Baca juga: R. Radyan Yaminar, S. Gz: Pasien COVID-19 yang Tak Mau Konsumsi Apapun Dapat Menambah Beban Penyakit

Varian Mu pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.

Sejak itu, kasus sporadis dan beberapa wabah yang lebih besar telah dicatat di seluruh dunia.

Di luar Amerika Selatan, kasus telah dilaporkan di Inggris, Eropa, AS, dan Hong Kong.

Sementara varian tersebut membuat kurang dari 0,1% dari infeksi Covid secara global.

Sementara di Kolombia dan Ekuador masing-masing menyumbang 39% dan 13% dari kasus Covid.

Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved