Breaking News:

Risiko Peradangan Jantung Meningkat Akibat Vaksin Ini, tapi Masih Lebih Baik dari Tertular Covid-19

Sebuah penelitian, riisko peradangan yang disebabkan Covid-19 lebih tinggi dibanding vaksin

kompas.com
ilustrasi vaksin covid-19 

TRIBUNHEALTH.COM - Sebuah penelitian besar melibatkan hampir 2 juta orang di Israel.

Diberitakan CNN, penelitan tersebut menunjukkan vaksin virus corona Pfizer/BioNTech sedikit meningkatkan risiko peradangan jantung, pembengkakan kelenjar getah bening, dan herpes zoster.

Tetapi juga menemukan bahwa infeksi Covid-19 meningkatkan risiko peradangan jantung, bahkan lebih tinggi.

Ditambah lagi, infeksi Covid-19 meningkatkan risiko pembekuan darah, serangan jantung, dan kejadian mematikan lainnya.

Ini adalah studi besar pertama yang membandingkan risiko vaksinasi versus infeksi head to head pada populasi yang sama selama waktu yang sama.

Hasil penelitian menunjukkan risiko infeksi jauh lebih besar daripada risiko dari vaksin.

Baca juga: BPOM Keluarkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Sputnik-V, Berikut Tingkat Efikasi dan Efek Sampingnya

Baca juga: Viral Load Covid-19 pada Orang yang Telah Divaksin Sama dengan Orang yang Tak Divaksin, Apa Artinya?

Ilustrasi Vaksinasi - Petugas medis menunjukkan botol vaksin Covid-19 Pfizer di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/8/2021).
Ilustrasi Vaksinasi - Petugas medis menunjukkan botol vaksin Covid-19 Pfizer di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/8/2021). (Tribunnews/Jeprima)

"Dalam penelitian ini dalam pengaturan vaksinasi massal nasional, vaksin BNT162b2 tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko sebagian besar efek samping yang diperiksa," Dr. Ran Balicer dari Clalit Research Institute di Tel Aviv dan rekannya dalam laporan mereka, yang diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran New England.

Mereka memang menemukan kasus tambahan berupa miokarditis, sejenis peradangan jantung yang dikaitkan dengan kedua vaksin mRNA, yang dibuat oleh Moderna dan Pfizer.

Ini menambahkan hingga sekitar tiga kasus tambahan per 100.000 orang yang divaksinasi, dan terlihat hampir seluruhnya di antara pria muda.

"Efek samping potensial utama yang diidentifikasi termasuk risiko kelebihan limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), infeksi herpes zoster (herpes zoster), radang usus buntu, dan miokarditis," tulis mereka, dikutip TribunHealth.com dari CNN.

Baca juga: Menurut Hasil Studi, Perlindungan 2 Vaksin Ini terhadap Varian Delta Melemah dari Waktu ke Waktu

Baca juga: dr. Reisa Broto Asmoro: Semua Jenis Vaksin yang Tersedia di Indonesia Aman, Bermutu, dan Berkhasiat

Sebanyak 17 tenaga medis yang terdiri dari 5 tenaga medis dari Puskemas Gambir dan 12 tenaga medis dari Dinas Kesehatan menerima vaksin Covid-19 Sinovac di Puskesmas Gambir, Cideng, Jakarta Pusat , Kamis (14/1/2021). Mereka yang dapat divaksin Covid-19 adalah kelompok umur 18-59 tahun. Dan Yang tak boleh disuntuk Vaksin Covid-19 mereka yang masih berusia dibawah 18 tahun, Ibu hamil dan menyusui, mengalami gejala ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) seperti batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir, pernah terpapar dan dalam pasien Covid-19 yang dalam perawatan.
ILUSTRASI - FOTO: Sebanyak 17 tenaga medis yang terdiri dari 5 tenaga medis dari Puskemas Gambir dan 12 tenaga medis dari Dinas Kesehatan menerima vaksin Covid-19 Sinovac di Puskesmas Gambir, Cideng, Jakarta Pusat , Kamis (14/1/2021). Mereka yang dapat divaksin Covid-19 adalah kelompok umur 18-59 tahun. Dan Yang tak boleh disuntuk Vaksin Covid-19 mereka yang masih berusia dibawah 18 tahun, Ibu hamil dan menyusui, mengalami gejala ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) seperti batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir, pernah terpapar dan dalam pasien Covid-19 yang dalam perawatan. (Wartakota/Henry)

"Untuk menempatkan risiko ini dalam konteks, kami juga memeriksa data pada lebih dari 240.000 orang yang terinfeksi untuk memperkirakan efek dari infeksi SARS CoV-2 yang terdokumentasi pada kejadian efek samping yang sama," tambah mereka.

"Infeksi SARS-CoV-2 tidak diperkirakan memiliki efek yang berarti pada kejadian limfadenopati, infeksi herpes zoster, atau radang usus buntu, tetapi diperkirakan menghasilkan risiko miokarditis yang berlebihan."

Infeksi Covid-19 meningkatkan risiko miokarditis lebih dari tinggi dari vaksin, sekitar 11 kasus per 100.000 orang yang divaksinasi, mereka menemukan.

Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.

(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)

Penulis: anrosikin
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved