TRIBUNHEALTH.COM - Asma merupakan salah satu jenis penyakit jangka panjang atau kronis yang terjadi pada saluran pernapasan.
Asma biasanya ditandai dengan adanya peradangan dan penyempitan pada saluran napas yang mengakibatkan sulit bernapas atau sesak napas.
Penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk, dan mengi.
Lalu bagaimana cara penanganan penderita asma yang sering mengalami sesak napas dan bahkan ngos-ngosan ketika berjalan?
Dilansir TribunHealth.com, Dokter Spesialis Paru, dr. Fariz Nurwidya menanggapi pertanyaan @dayat mengenai penanganan pada penyakit asma dalam tayangan YouTube Kompas Tv program Sapa Indonesia Pagi.
Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang menyebabkan penderitanya sering mengalami sesak napas.
Baca juga: Apakah Pengidap Asma Bronkitis Boleh Divaksin, Dok?
Baca juga: Mengenal Penyakit Asma dan Efek Samping Obat Asma

"Target terapi pada penyakit asma adalah untuk mempertahankan paal paru dan mencegah serangan yang mengancam jiwa," jelas dr. Fariz.
dr. Fariz menjelaskan salah satu penyakit penyerta yang sering menjadi pemicu serangan asma adalah penyakit saluran cerna.
"Penyakit saluran cerna misalnya asam lambung. Asam lambung yang naik ke tenggorokan biasanya memicu serangan asma," terang dr. Fariz.
"Kondisi ini membuat saluran napasnya menjadi mengecil dan muncul mengi," lanjutnya.
dr. Fariz mengungkapkan bahwa ketika di masa non pandemi, penderita asma akan melakukan spirometri setiap 3 bulan.
Spirometri adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur secara objektif kapasitas atau fungsi paru (ventilasi) pada pasien dengan indikasi medis, sehingga dapat diketahui ada tidaknya gangguan yang terjadi pada paru-paru dan saluran pernapasan.
Baca juga: Pengobatan Plasmaphereis atau Intraveba Imunoglobulin (IVIG) Itu Seperti Apa Dok?
"Ketika kontrol dalam jangka waktu 3 bulan memiliki hasil yang baik dan penggunaan obatnya jarang, maka bisa mencegah obat," terang dr. Fariz.

"Namun, pada masa pandemi ini mungkin yang bisa dilakukan pada penderita asma adalah pemberian arus puncak espirasi (APE) yang bisa dilakukan dengan personal divice milik paasien," lanjut dr. Fariz menjelaskan.
"Jadi dengan menggunakan APE ini bisa diperiksa di rumah, dan device itu milik pasien untuk dibawa pulang dan tidak dipertukarkan dengan pasien lain," jelas dr. Fariz.
"Sehingga dokter bisa menilai bagaimana derajat dalam diameter saluran napas melalui hasil arus puncak espirasi (APE) tersebut," lanjutnya.
Baca juga: Dok, Penyakit Apa yang Saya Alami Jika Saya Sering Sesak Napas?
Apabila penderita asma memiliki masalah kembung pada perut, maka membutuhkan penatalaksana khusus dan butuh dilakukan evaluasi.
"Karena kalau masalah saluran cerna yang kembung tidak bisa diatasi, bisa menyumbang peningkatan frekuensi pada serangan penderita asma," terang dr. Fariz.
Asma harus ditanggulangi secara detail agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
Penjelasan ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Paru, dr. Fariz Nurwidya dalam tayangan YouTube Kompas Tv program Sapa Indonesia Pagi pada 18 Agustus 2020.
Baca juga: Gejala dan Cara Mengatasi Ispa pada Anak yang Disampaikan oleh Dokter
Baca juga: Penderita Gangguan Kelenjar Getah Bening Bisa Alami Sesak Napas, Dokter Jelaskan Penanganannya