TRIBUNHEALTH.COM - Praktisi kesehatan tidur, dr Andreas Prasadja, memaparkan berbagai dampak buruk kurang tidur.
Hal itu ia sampaikan dalam program Sapa Dokter, yang tayang di YouTube Kompas TV.
Menurut dr Andreas, waktu ideal untuk tidur antara tujuh sampai sembilan jam.
Dia menjelaskan penelitan membuktikan perempuan membutuhkan tidur setengah jam lebih banyak dari pada pria.
"Kecukupan tidur jangan dianggap remeh," katanya, dikutip TribunHealth.com.
Baca juga: Solusi untuk Penderita Hipertensi yang Susah Tidur ketika Puasa Ramadhan
Baca juga: Apakah Ada Hubungannya Hipertensi dan Sulit Tidur di Bulan Puasa? Ini Penjelasan Dokter

"Pertama pada performa, pada produktivitas kita. Karena semua ini dibangun ketika tidur."
Dampak berikutnya adalah pada kesehatan tubuh.
dr Andreas merujuk penelitian yang menjelaskan wanita kurang tidur memiliki risiko 47 persen untuk menderita kanker payudara.
Hal serupa juga terjadi pada laki-laki.
Pria yang kurang tidur lebih berisiko terkena gangguan prostat.
"Karena daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh manusia kan hanya dibangun ketika tidur," tambahnya.

Baca juga: 4 Mitos Seputar Kesehatan ketika Berpuasa, Tidur setelah Sahur Tak Merusak Organ Hati
Baca juga: Jangan Salah Kira, Ini Beda Insomnia dengan Susah Tidur Biasa
Dalam forum tersebut, dr Andreas juga menyorot obat tidur.
Menurutnya tindakan tersebut hanya bisa diambil untuk jangka pendek.
"Jangan untuk jangka panjang," tandasnya.
Pasalnya gangguan tidur pun bisa diperbaiki tanpa obat.
dr Andreas mencontohkan cognitive behavior theraphy untuk insomnia.
"Dimana kita mengatur perilaku tidur, jadwal tidurnya, selama satu minggu, kita atur kembali. Itu. Bukan dengan obat tidur," pungkasnya.
Baca artikel lain seputar kesehatan umum di sini.
(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)