Breaking News:

Pentingnya Memahami "Golden Periode", Waktu yang Tepat dalam Penanganan Stroke

Stroke sebenarnya bukanlah penyakit yang mengintai usia senja saja, tetapi usia muda juga bisa beresiko mengalaminya.

lifestyle.kompas.com
ilustrasi seseorang yang mengalami stroke 

TRIBUNHEALTH.COM - Tanpa disadari, penyakit stroke bisa mengintai siapa saja.

Sering kali penyakit stroke dianggap hanya bisa terjadi pada usia lanjut saja.

Nyatanya banyak usia muda mengalami gejala stroke maupun stroke ringan.

Stroke merupakan kondisi medis yang menakutkan dan mengancam jiwa.

Stroke merupakan penyakit yang datangnya tiba-tiba atau mendadak pada pembuluh darah diotak.

Terdapat beberapa anggapan dari masyarakat bahwa stroke merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

dr. Lilir Amalini menyampaikan bahwa penyakit stroke sebenarnya bisa disembuhkan.

ilustrasi seseorang yang mengalami stroke
ilustrasi seseorang yang mengalami stroke (lifestyle.kompas.com)

Baca juga: Waspada, Khusus Usia Muda Penyakit Stroke Banyak Diderita oleh Perempuan

Sepertiga dari penderita stroke sembuh tanpa cacat.

Sepertiga lainnya sembuh dengan kecacatan dan sepertiga lainnya yang memang tidak tertangani atau memang meninggal.

dr. Lilir Amalini mengatakan bahwa angkanya termasuk cukup besar, dari 50 persen penderita stroke sebenarnya bisa hidup tetapi dengan syarat waktu penanganan harus cepat dan tepat.

2 dari 3 halaman

Stroke memiliki waktu yang bernama golden periode, dan golden periodenya hanya 4.5 jam.

Dalam waktu 4.5 jam, pasien harus mendapat pertolongan medis yang cepat dan tepat.

dr. Lilir Amalini menyampaikan, mini stroke agar tidak berkembang menjadi stroke harus segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Baca juga: Kenali Kumpulan Gejala Stroke Lewat Slogan Segera ke RS

Meskipun pasien hanya mengalami tanda-tanda bibir miring, maka pasien harus segera mendapatkan perawatan.

dr. Lilir Amalini menyampaikan, dari penelitian ada yang mengaitkan, berasosiasi tidur dengan kejadian stroke.

Tidur kurang dari 7 jam sehari disosiasikan dengan peningkatan kejadian stroke perdarahan hampir sebanyak 21 persen.

Tetapi tidur lebih dari 9 jam sehari juga meningkatkan risiko stroke sumbatan, kelainan jantung dan pembuluh darah.

dr. Lilir Amalini mengatakan, jam tidur dalam sehari harus pas dan tidak boleh kurang ataupun lebih normalnya 7-8 jam sehari.

Tidur dalam beberapa waktu saja tidak menjadi masalah, namun dalam waktu yang tidak panjang dan hanya sesekali.

Baca juga: Menkes Susun Strategi agar Prevalensi Stroke di Indonesia Menurun

Tentunya tidur kurang dari 7 jam akan mengakibatkan risiko-risiko penyakit seperti stroke, jantung dan pembuluh darah yang meningkat.

3 dari 3 halaman

Stroke merupakan penyakit yang datangnya tiba-tiba atau mendadak pada pembuluh darah diotak.

dr. Lilir Amalini menyampaikan, sekitar 15-25 persen dari penderita stroke merasakan gejalanya 7 hari sampai 1 bulan sebelumnya, dan kejadian tersebut dinamakan TIA (Transient Ischemic Attack).

TIA (Transient Ischemic Attack) semacam mini stroke.

Gejala dari TIA (Transient Ischemic Attack) sangat mirip dengan penyakit stroke seperti mulut yang tidak simetris, lemah sebelah, sulit berbicara, linglung, dan kesemutan.

Tetapi bedanya TIA (Transient Ischemic Attack) dalam beberapa menit biasanya kurang dari 1 jam ataupun 24 jam, gejala yang dirasakan sudah hilang.

dr. Lilir Amalini menegaskan, seharusnya apabila sudah mengalami TIA harus memahami penyebabnya agar tidak berkembang menjadi penyakit stroke.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV bersama dengan dr. Lilir Amalini, Sp.S. Seorang dokter spesialis saraf.

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Selanjutnya
Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved