Breaking News:

Tujuan Utama Pemberian MPASI adalah untuk Memenuhi Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Bayi

Menurut Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) memperkenalkan makanan padat kepada anak diawali dengan memberikannya sedikit demi sedikit

Pixabay.com
Ilustrasi makanan pendamping ASI (MPASI) ketika berusia 6 bulan, simak pemaparan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) 

TRIBUNHEALTH.COM - Makanan Pendamping ASI (MPASI) diberikan ketika bayi berusia 6 bulan.

Makanan Pendamping ASI (MPASI) agar tumbuh kembang bayi menjadi lebih optimal karena rupanya pemberian ASI saja tidak cukup.

Tujuan utama pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi pada bayi.

Perkembangan otak, penambahan berat ataupun tinggi badan, serta daya tahan tubuh harus diperoleh dalam jumlah yang cukup dari Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Baca juga: Bahaya jika Gigi Bermasalah Tak Segera Lakukan Rekonstruksi Gigi, Simak drg. Hendra Nur Sp. Pros

Pernyataan ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Anak Konsultan, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk.

ilustrasi pemberian MPASI, simak penjelasan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K)
ilustrasi pemberian MPASI, simak penjelasan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) (grid.id)

Baca juga: Perubahan Jenis Kulit hingga Penuaan Kulit Terjadi Seiring Bertambahnya Usia, Berikut Ulasan Dokter

Untuk memperkenalkan makanan padat kepada anak, awali dengan memberikannya sedikit demi sedikit, setidaknya 3 kali sehari.

Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) mengimbau untuk jangan terlalu memaksa apabila anak tidak mau mengonsumsi makanan yang diberikan.

Perlunya menghindari memaksa anak untuk mengonsumsi dan menghabiskan makanannya.

Jika anak belum tertarik dengan suatu makanan, bukan berarti anak tidak tertarik untuk mengonsumsi makanan tersebut seterusnya.

Dokter Spesialis Anak Konsultan, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) menerangkan jika tidak boleh memberikan makanan terus-menerus kepada anak.

2 dari 3 halaman

"Tidak boleh (memberikan makanan terus-menerus). Jadi kalau antara jarak antara memberi susu dan makanan selanjutnya adalah 2 jam," ucap Dokter Spesialis Anak Konsultan, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

Baca juga: Kenali 4 Faktor Pencetus Penyimpangan Seksual Terjadi menurut dr. Binsar Martin Sinaga FIAS

ilustrasi MPASI untuk anak, begini kata Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K)
ilustrasi MPASI untuk anak, begini kata Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) (kompas.com)

Baca juga: Tak Semua Pengobatan Pasien Ejakulasi Dini Sama, Bersifat Individualis dan Butuh Kerjasama Pasangan

"Kalau susu kan lebih cepat dicerna, tapi kalau habis memberi makan, akan memberi makan lainnya jaraknya 3 jam. Karena kalau makanan padat nasi tim ataupun nasi lemes itu 3 jam kemudian baru bisa dicerna, baru habis, baru perutnya kosong," timpal Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

"Kalau perutnya kosong, secara refleks akan timbul rasa laparnya. Nah, berarti kalau setelah habis makan 3 jam kemudian baru boleh diberi minum susunya atau memberi makanan yang berikutnya begitu," kata Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

Hal ini lantaran setelah anak konsumsi makanan yang berat tentu saja perutnya terasa kenyang sehingga anak tidak mau langsung diberi susu setelah makan berat.

Apabila setelah konsumsi makanan berat anak masih mau untuk mengonsumsi susu, artinya anak masih belum kenyang.

"Jadi berikutnya makannya bisa ditambah lagi, jadi betul-betul kenyang sehingga dia sudah tidak doyan lagi (tidak mau lagi) waktu diberi minum susu," pungkas Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

"Jadi sekali lagi untuk anak-anak, terutama 2 tahun ya sekali lagi tidak boleh diberi minum air putih itu. Air putihnya sudah dimasukkan ke dalam makannya," lanjut Dokter Spesialis Anak Konsultan, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

Baca juga: 6 Mitos dan Disinformasi tentang Penyakit Jantung: Tak Boleh Olahraga setelah Kena Serangan Jantung?

Ilustrasi ibu memberikan MPASI kepada si kecil, simak ulasan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K)
Ilustrasi ibu memberikan MPASI kepada si kecil, simak ulasan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) (lifestyle.kompas.com)

Baca juga: Apa Penyebab Seseorang Lakukan Penyimpangan Seksual? Ini Pandangan Medical Sexologist

"Jadi kalau membuat nasi tim, itu berasnya itu dicampur dengan air putih sebanyak 200 cc. Jadi pada waktu makan nasi tim, anak tersebut sudah secara tidak langsung sudah minum air putih," papar Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

"Sehingga setelah selesai makan nasi tim, tidak boleh diberi minum air putih lagi karena air putihnya sudah dicampurkan pada waktu membuat masakan nasi timnya," timpal Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K).

Baca juga: Gandeng Kemenkes, Johnson & Johnson Selenggarakan Webinar tentang Depresi dan Perilaku Bunuh Diri

Penjelasan Dokter Spesialis Anak Konsultan, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A (K) dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Tribun Health program Healthy Talk edisi 21 Mei 2022.

3 dari 3 halaman

(Tribunhealth.com/DN)

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved