Breaking News:

Gandeng Kemenkes, Johnson & Johnson Selenggarakan Webinar tentang Depresi dan Perilaku Bunuh Diri

Perusahaan farmasi Johnson & Johnson Indonesia mengadakan webinar bertajuk 'Major  Depressive Disorder with Suicidal Ideation and/or Behavior (MDSI)'

Johnson & Johnson
Para narasumber dan panelis dalam acara Webinar Awam Depresi Dengan Pikiran Hingga Perilaku Bunuh Diri (10/9) yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson Indonesia dan didukung oleh Kementerian Kesehatan (KESWA). Dari kiri – kanan : dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ., Dr. Nova Rianty Yusuf, Sp.KJ., Nurul Eka H., M.Si, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, Benny Prawira, M.Psi, dan Tri Agung Kristanto. Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Gandeng Kemenkes RI, PT Johnson & Johnson Indonesia Selenggarakan Webinar Awam, https://jogja.tribunnews.com/2022/09/11/gandeng-kemenkes-ri-pt-johnson-johnson-indonesia-selenggarakan-webinar-awam?page=3. Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti 

TRIBUNHEALTH.COM - Saat ini kesehatan jiwa menjadi salah satu tantangan terbesar di  masyarakat dalam skala global.

Kurangnya akses untuk perawatan kesehatan jiwa dan stigma di  masyarakat menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi kondisi kesehatan jiwa pasien yang dapat menyebabkan tindakan bunuh diri.  

Kesehatan jiwa berdampak pada kesehatan fisik, sosial, dan ekonomi individu dan masyarakat di  seluruh dunia.

Lebih dari tiga perempat orang yang menderita penyakit jiwa tinggal di negara  berpenghasilan rendah dan menengah dimana akses untuk perawatan kesehatan jiwa yang  berkualitas sangat terbatas.

Bahkan lebih dari 75 persen orang dengan gangguan jiwa tidak  mendapatkan perawatan sama sekali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setiap tahun 703.000 orang bunuh diri dan masih  banyak lagi orang yang melakukan percobaan bunuh diri.

Setiap tindakan bunuh diri adalah tragedi  yang mempengaruhi keluarga, komunitas dan seluruh negara dan memiliki efek jangka panjang  pada orang-orang yang ditinggalkan.

Kasus bunuh diri terdapat di seluruh rentang usia dan  merupakan penyebab kematian keempat di antara usia 15-29 tahun secara global pada tahun  2019.  

Bunuh diri tidak hanya terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi merupakan fenomena  global di seluruh wilayah dunia.

Faktanya, lebih dari 77 persen kasus bunuh diri global terjadi di negara negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019. 

Baca juga: Cegah Bunuh Diri, Kemenkes Ajak Masyarakat untuk Peka terhadap Tanda Depresi

2 dari 3 halaman

Selama lebih dari 60 tahun, Johnson & Johnson telah berdedikasi untuk meningkatkan tingkat  kesembuhan penderita gangguan jiwa.

Selama lebih dari setengah abad terakhir, Janssen Pharmaceutical Companies of Johnson & Johnson telah menemukan, mengembangkan, dan  meluncurkan banyak perawatan inovatif untuk kondisi yang memengaruhi otak dan sistem saraf  pusat.

Dan memperluas akses ke perawatan kesehatan mental untuk populasi yang paling rentan  dan kurang terlayani di dunia, dimulai di Rwanda.

Selain itu, Johnson & Johnson mendukung  program kesehatan mental yang menyediakan sumber daya untuk mendukung petugas kesehatan  garis depan di seluruh dunia.

Melanjutkan komitmennya, PT Johnson & Johnson Indonesia bekerja sama dengan Kementerian  Kesehatan pada tanggal 10 September 2022 menyelenggarakan Public Webinar on Major  Depressive Disorder with Suicidal Ideation and/or Behavior (MDSI): “Lighting the Hope for  Depressive Suicidal Individuals Through Collaborative Action”. 

Para narasumber dan panelis dalam acara Webinar Awam Depresi Dengan Pikiran Hingga Perilaku Bunuh Diri (10/9) yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson Indonesia dan didukung oleh Kementerian Kesehatan (KESWA). Dari kiri – kanan : dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ., Dr. Nova Rianty Yusuf, Sp.KJ., Nurul Eka H., M.Si, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, Benny Prawira, M.Psi, dan Tri Agung Kristanto. 


Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Gandeng Kemenkes RI, PT Johnson & Johnson Indonesia Selenggarakan Webinar Awam, https://jogja.tribunnews.com/2022/09/11/gandeng-kemenkes-ri-pt-johnson-johnson-indonesia-selenggarakan-webinar-awam?page=3.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti
Para narasumber dan panelis dalam acara Webinar Awam Depresi Dengan Pikiran Hingga Perilaku Bunuh Diri (10/9) yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson Indonesia dan didukung oleh Kementerian Kesehatan (KESWA). Dari kiri – kanan : dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ., Dr. Nova Rianty Yusuf, Sp.KJ., Nurul Eka H., M.Si, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, Benny Prawira, M.Psi, dan Tri Agung Kristanto. Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Gandeng Kemenkes RI, PT Johnson & Johnson Indonesia Selenggarakan Webinar Awam, https://jogja.tribunnews.com/2022/09/11/gandeng-kemenkes-ri-pt-johnson-johnson-indonesia-selenggarakan-webinar-awam?page=3. Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti (Johnson & Johnson)

Acara ini dibuka oleh drg Vensya Sitohang, M.Epid, Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian  Kesehatan Republik Indonesia, serta melibatkan moderator, pembicara dan panelis yang  mewakili berbagai kalangan yaitu dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ, dr. Lahargo Kembaren SpKJ, Prof  Budi Anna Keliat, (Ikatan Perawat Klinis), Ratih Ibrahim (Psikolog Klinis), dr Edu, SpKJ (Direktorat  Kesehatan Jiwa Kemenkes RI), Tri Agung (Ketua Komisi III Dewan Pers Indonesia), Benny  Perwira (Into The Light Indonesia), Nurul Eka (Pekerja Sosial Independen Indonesia).

Acara ini  juga dihadiri oleh masyarakat umum termasuk para orangtua dan keluarga, komunitas orangtua  dan/atau ibu-ibu, mahasiswa dan pelajar, kalangan akademisi, organisasi pasien dan NGO yang  bergerak di ranah kesehatan jiwa, media, dan karyawan swasta.  

Dalam sambutannya, drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid mengatakan, ”Hari Pencegahan Bunuh  Diri Sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 September bertujuan untuk meningkatkan  kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya menjaga kesehatan jiwa untuk mencegah pikiran  atau tindakan bunuh diri. Bunuh diri dapat dicegah, oleh karena itu perlu dilakukan upaya  pencegahan bunuh diri yang komprehensif melibatkan peran serta berbagai pihak baik pemerintah  maupun masyarakat.” 

Baca juga: Depresi dan Kecemasan Picu Kelalahan Berkepanjangan, Ini Bedanya dengan Lelah Biasa

dr. Rospita Dian, Head of Medical Affairs, PT. Johnson & Johnson Indonesia menambahkan,  “Sebagai suatu peyakit, gangguan depresi mayor dengan pikiran hingga perilaku bunuh diri dapat  ditangani dengan benar oleh tenaga medis atau tenaga kesehatan jiwa profesional. Selain itu  keluarga dan pendamping berperan penting dalam kesembuhan pasien.”  

Selain menghadirkan Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ dan Prof. Dr.  Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc, acara webinar MDSI ini juga mengundang 4 (empat) orang  panelis, yaitu: Tri Agung Kristanto selaku Ketua Komisi Pendidikan dan Pengembangan Profesi  Pers – Dewan Pers, Benny Prawira, M.Psi – Into The Light Indonesia Founder dan Nurul Eka H.  – Ketua II Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia.  

3 dari 3 halaman

Devy Yheanne, Communications & Public Affairs Leader of Johnson & Johnson Pharmaceutical  Indonesia & Malaysia menjelaskan, “Sangat penting untuk memberikan edukasi pada masyarakat  awam untuk meningkatkan pengetahuan mengenai Gangguan Depresi Mayor (Major Depressive  Disorder/MDD) dengan keinginan untuk bunuh diri. Sehingga dapat menurunkan stigma negatif di  masyarakat, agar lebih banyak pasien yang berani untuk berkonsultasi dengan tenaga medis  profesional di bidang kesehatan jiwa.” 

Pendidikan dan pengetahuan mengenai kesehatan jiwa sangat diperlukan untuk menghapus  stigma negatif yang ada di masyarakat untuk mendukung kesembuhan pasien.

Baca juga: Fakta-fakta Seputar Tidur Berlebih, Dikaitkan dengan Penyakit Jantung hingga Depresi

Pasien kesehatan  mental terjadi di berbagai kalangan dan banyak penderita berusia produktif.  

Berdasarkan temuan utama dari dokumen White Paper di wilayah Asia Pasifik bertajuk “Rising  Social and Economic Cost of Major Depression: Seeing the Full Spectrum” yang disponsori oleh  Johnson & Johnson Pte. Ltd. dan dilakukan oleh KPMG di Singapura, terdapat kurang dari separuh  pasien yang berjuang melawan Gangguan Depresi Mayor (Major Depressive Disorder / MDD) di  kawasan Asia Pasifik menerima diagnosis, yang tepat, dengan 71 persen pasien MDD menderita gejala  yang memburuk karena pengobatan tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Devy menambahkan, “Data dari White Paper tersebut mengungkapkan bahwa Asia Pasifik  memiliki tingkat penyakit depresi dan penyakit jiwa yang jauh lebih tinggi daripada bagian lain  dunia. Dokumen tersebut menyoroti bahwa orang yang hidup dengan depresi 40 persen kurang  produktif daripada individu yang sehat, sedangkan harapan hidup seseorang dengan MDD adalah  20 tahun lebih pendek dari rata-rata.” 

Baca juga: Keterbukaan Jadi Langkah Awal Cegah Depresi, Simak Cara Lain dari dr. Hary Purwono, Sp. KJ.

ilustrasi seseorang yang mengalami insomnia
ilustrasi seseorang yang mengalami insomnia (freepik.com)

Dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri, untuk mendiagnosis seseorang mengalami gangguan  depresi mayor perlu diketahui apa saja gejala-gejala yang dialami.

Gangguan depresi mayor tidak  hanya merupakan gangguan emosional atau suasana hati, namun umumnya juga menunjukkan  gejala, fisik, psikis dan sosial yang khas.

Beberapa gejala gangguan depresi mayor adalah rasa  sedih yang terus menerus, pesimis, rasa tidak berdaya, gampang tersinggung, insomnia, sulit  makan, menarik diri hingga melakukan usaha untuk bunuh diri.  

Jika Anda atau keluarga atau teman Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas  dan mencurigai adanya gangguan depresi mayor, terutama bila ada niat untuk melukai diri  sendiri dan atau bunuh diri, segeralah berkonsultasi pada tenaga kesehatan jiwa professional,  seperti psikiater, dokter umum, atau psikolog.

(TribunHealth.com)

Selanjutnya
Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved