Breaking News:

Penyebab Kanker Rahim dan Serviks Sama, Begini Penjelasan dr. G. Iranita Dyantika

Di Indonesia kanker serviks menempati peringkat ke-2 sebagai jenis kanker yang sering menyerang wanita.

pixabay.com
ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika 

TRIBUNHEALTH.COM - Kanker serviks merupakan kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim, kanker ini adalah salah satu kanker yang mematikan.

Secara umum, kanker ini berkembang perlahan dan baru menunjukkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Kanker serviks menduduk peringkat ke-2 yang sering menyerang wanita

Di Indonesia kanker serviks menempati peringkat ke-2 sebagai jenis kanker yang sering menyerang wanita.

Biasanya pengobatan kanker serviks dilakukan dengan tindakan bedah atau kemoterapi.

Namun adapula pengobatan tanpa operasi yaitu dengan menggunakan metode dr. Ibnu Sina.

Baca juga: Waspada, Dokter Sebut Kurun Waktu Seseorang Bisa Alami Penyakit Paru Akibat Bekerja di Malam Hari

ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika
ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika (tribunnews.com)

Baca juga: Stres Dapat Memicu Seseorang untuk Makan Berlebihan atau Stress Eating, Dokter Paparkan Alasannya

Pernyataan ini disampaikan oleh Praktisi Kesehatan, dr. G. Iranita Dyantika dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Kita.

Perbedaan antara metode operasi dan metode dr. Ibnu Sina

dr. G. Iranita Dyantika menjelaskan perbedaan antara pengobatan yang menggunakan metode operasi dan metode dr. Ibnu Sina.

"Pada dasarnya untuk pengobatan awalnya mendiagnosa pasien sama dengan dokter-dokter spesialis yang lain," terang dr. G. Iranita Dyantika.

2 dari 4 halaman

"Yang membedakan adalah dimana tidak menggunakan operasi dan kemoterapi," timpal dr. G. Iranita Dyantika.

Obat yang digunakan dalam metode dr. Ibnu Sina adalah kimia organik dimana menggunakan bahan-bahan alami.

Metode tersebut memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Baca juga: Daftar Gejala Omicron pada Orang yang Telah Divaksin Penuh, Kelelahan dan Pilek Jadi yang Teratas

ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika
ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika (kompas.com)

Baca juga: dr. Feni Fitriani, Sp.P(K) Bagikan Tips Agar Terhindar dari Dampak Buruk Polusi Udara

Dimana jika beberapa zat digabungkan menjadi satu mampu untuk memutus sel kanker serviks.

Karena pada dasarnya kanker gemar membuat pembuluh darah baru dimana sel kanker akan terus berkembang.

Pasalnya pada metode dr. Ibnu Sina dapat memutus penyebaran sel kanker agar sel kanker tidak lagi mendapat suplai makanan kembali.

Tentunya dalam proses memutus penyebaran sel kanker memanfaatkan bahan-bahan alami.

Berdasarkan penuturan dr. G. Iranita Dyantika, metode ini tidak menggunakan kimia buatan, namun menggunakan kimia organik.

Selain menggunakan kimia organik, pada awalnya metode dr. Ibnu Sina juga bebarengan dengan ilmu kedokteran yang berkembang saat ini yakni terintegrasi.

Yang mana pasien awalnya akan mengalami rasa nyeri, sehingga dokter akan memberikan atau meresepkan obat anti nyeri.

Baca juga: Sering Bekerja di Malam Hari? Waspada Beragam Penyakit yang Rentan Dialami

ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika
ilustrasi kanker serviks, berikut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika (tribunnews.com)

Baca juga: Kekurangan Zat Besi Dapat Sebabkan Rambut Rontok, Bisa Tumbuh Lagi dengan Perawatan Tepat

3 dari 4 halaman

Penyebab kanker rahim dan serviks

dr. G. Iranita Dyantika menerangkan jika penyebab kanker rahim dan kanker serviks adalah sama, yaitu disebabkan oleh human papillomavirus atau HPV.

Awal mula terjadinya kanker rahim dan kanker serviks adalah disebabkan oleh virus.

Menurut penjelasan dr. G. Iranita Dyantika. dalam pengobatan kanker rahim dan kanker serviks memerlukan terapi khusus.

Hal ini karena dokter fokus pada 2 hal.

Pertama, dokter harus menghilangkan virus HPV.

Kedua, dokter harus mencegah agar kanker tidak berkembang atau menyebar.

Inilah alasan mengapa dokter harus fokus akan 2 hal tersebut.

Baca juga: Waspada, Penyakit Gusi Bisa Jadi Tanda Kadar Gula Darah yang Buruk dan Tak Terkontrol

Penjelasan Praktisi Kesehatan, dr. G. Iranita Dyantika dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube KOMPASTV program Bincang Kita edisi 08 November 2021.

(Tribunhealth.com/DN)

4 dari 4 halaman

Baca berita lain tentang kesehatan di sini.

Selanjutnya
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved