Breaking News:

Temui Dokter atau Psikolog jika Tantrum Anak Disertai Perilaku Merusak dan 3 Hal Berikut

Tantrum anak yang disertai perilaku merusak dapat menandakan adanya masalah lain, seperti ADHD

Freepik.com
Ilustrasi - anak sering tantrum lebih dari 10 kali sehari 

TRIBUNHEALTH.COM - Anak tantrum disertai perilaku merusak dan sejumlah hal ini bisa mengindikasikan adanya masalah lain, baik fisik atau psikologis.

Memang, pada dasarnya tantrum merupakan suatu hal normal pada anak.

Bisa dikatakan, tantrum adalah cara anak mengkomunikasikan keinginannya pada orangtuanya, serupa dengan bayi yang menangis saat lapar.

Meskipun tantrum adalah perilaku balita yang normal, kerewelan yang ekstrem dapat mengindikasikan masalah mendasar yang lebih serius, dilansir TribunHealth.com dari New York Times.

Karenanya orangtua perlu peka terhadap tantrum anak.

Apabila anak mengalami tantrum dengan kriteria berikut, tidak ada salahnya untuk segera mencari bantuan profesional medis, seperti dokter atau psikolog.

Dilansir TribunHealth.com dari NY Times, berikut ini kriterianya.

Terjadi berulang

ILUSTRASI - Meredakan tantrum anak dengan menunjukkan empati dan kepedulian
ILUSTRASI - Meredakan tantrum anak dengan menunjukkan empati dan kepedulian (Pexels)

Menurut Dr. Potegal, orang tua harus mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional jika tantrum anak terjadi lima hingga 10 kali sehari, seringkali berlangsung lebih dari 10 menit, atau termasuk agresi dan perilaku merusak.

Asisten Profesor Psikologi Klinis di Columbia University Irving Medical Center, Vasco Lopes, Psy.D., memberi keterangan.

Baca juga: Psikolog Keluarga Adib Setiawan Sarankan Pola Asuh Autoritative untuk Hadapi Balita Tantrum

2 dari 3 halaman

Dr. Lopes menyebut, pada saat anak telah berada di taman kanak-kanak, tantrum seharusnya terjadi tidak lebih dari sekali seminggu atau lebih.

Jika khawatir mengenai tantrum anak, orangtua dapat meminta dokter anak untuk merujuk ke spesialis, seperti psikolog anak.

Disebabkan masalah psikologis

Ilustrasi anak yang sedang tantrum
Ilustrasi anak yang sedang tantrum (Pixabay)

Penyebab paling umum dari tantrum berlebihan adalah psikologis.

Terkadang tantrum adalah gejala dari masalah internal, seperti kecemasan atau depresi, yang mudah dilewatkan pada anak kecil.

Anak-anak yang memiliki kecemasan di sekitar lingkungan tertentu dapat mengekspresikan kecemasan itu melalui tantrum, jelas Michael Potegal, Ph.D., seorang psikolog dan profesor di University of Minnesota yang meneliti tantrum.

Baca juga: 5 Fakta Gatal pada Anak Akibat Ulat Bulu, Manfaatkan Selotip untuk Bersihkan Bulu yang Menempel

“Contoh klasiknya adalah anak yang fobia sekolah,” kata Dr. Potegal.

"Anda memasukkannya ke dalam bus ... (dan terjadi) kehancuran (tantrum) besar," tandasnya.

Disertai perilaku merusak

Ilustrasi anak tantrum disertai perilaku merusak
Ilustrasi anak tantrum disertai perilaku merusak (Pixabay)

Jika tantrum berlebihan anak adalah bagian dari pola perilaku buruk yang diarahkan ke luar, seperti bertindak atau menjadi terlalu agresif - termasuk menyakiti orang lain, dirinya sendiri atau properti - ia mungkin menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

3 dari 3 halaman

Seperti yang dicatat oleh National Institutes of Health, ADHD dapat muncul sejak usia 3 tahun, ketika gejala yang paling umum adalah hiperaktif.

Jika ADHD dicurigai, dokter anak dapat membuat rujukan untuk evaluasi psikiatri.

Baca juga: Psikolog Ungkap Terapi yang Dilakukan untuk Anak dengan ADHD

Ilustrasi anak yang sedang tantrum
Ilustrasi anak yang sedang tantrum (PixabayIlustrasi anak yang sedang tantrum)

Berbarengan dengan masalah fisik

Tantrum yang berlebihan tidak selalu merupakan gejala dari masalah kesehatan mental.

Masalah yang mendasarinya bisa fisik.

Dr. Potegal menangani seorang anak yang tantrumnya bersamaan dengan refluks yang menyakitkan.

"Dan saya perhatikan bahwa amukan putri saya sendiri meningkat ketika dia mengalami masalah pencernaan yang berkepanjangan," katanya.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Selanjutnya
Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved