Breaking News:

Apakah Delirium Berhubungan dengan Psikotik? Berikut Penjelasan Dokter

Kondisi psikotik fungsional murni dari masalah kejiwaan atau masalah mental. Beberapa gejala psikotik yang dialami pasien seperti halusinasi, delusi.

orami.co.id
ilustrasi seseornag yang mengalami delirium 

TRIBUNHEALTH.COM - dr. Danardi menyampaikan, delirium biasanya dikaitkan dengan panas yang tinggi dan infeksi.

Situasi mengalami demam tinggi dan infeksi, maka kesadaran menjadi sangat berubah.

Pada kondisi delirium sangat mungkin ditemukan halusinasi atau delusi.

dr. Danardi menyampaikan, munculnya halusinasi atau delusi karena infeksi dan demam yang tinggi sangat mungkin berdekatan dengan psikotik.

Perlu diketahui bahwa psikotik dan covid berdiri sendiri atau covid sekunder karena psikotik.

Apabila gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi sekunder karena covid, maka ketika covid sudah dinyatakan negatif dan gejala klinisnya menurun harusnya menurun.

ilustrasi seseornag yang mengalami delirium
ilustrasi seseornag yang mengalami delirium (orami.co.id)

Baca juga: Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Harus Mengonsumsi Obat Harian? Begini Penjelasan Dokter

Ketika gejala sudah membaik tetapi gejala psikotik masih menyertai, dr. Danardi menyampaikan bahwa rasanya psikotik dan covid tidka saling berhubungan.

Bisa juga psikotik sebagai pemicu riwayat sebelumnya atau oemantik.

Pemicu dari halusinasi dan delusi bisa dikarenakan seseorang mengalami depresi berat, mengalami kekacauan proses pikir yang berat, bahkan bisa karena mengonsumsi narkotika dan psikotropika.

Trauma bisa memicu terjadinya halusinasi dan delusi, apabila murni pada masalah kesehatan jiwa tentu sifatnya berat.

dr. Danardi menyampaikan cara mengobati peikotik, dalam tata laksana psikiatri pemberian obat maupun pemberian konseling pendampingan psikoterapi atau terapi perilaku dan bisa juga terapi keluarga.

Baca juga: Pengobatan Kanker Lambung Tergantung dari Stadium yang Ditemukan pada Pasien

Karena masalah kesehatan jiwa tentu saja akan menjadi permasalahan disuatu keluarga.

Bisa saja salah satu pengobatan diberikan dan bisa saja kombinasi 1, 2 dan bisa saja diberikan 3 kombinasi pengobatan tersebut.

Tetapi bagaimana memilih tata laksana dan bagaimana memilih pengobatan yang tepat adalah dengan mencari gangguan antara psikotik dan covid bersamaan atau tidak, mana yang primer dan sekunder atau benar-benar terpisah.

dr. Danardi menjelaskan, digambarkan bahwa covidlah yang menimbulkan psikotik, ketika dilakukan terapi covidnya maka psikotik relatif akan menurun.

Meskipun sekunder bisa juga diberikan pengobatan, maupun pendampingan.

Tetapi yang primer tetap harus didahulukan untuk melakukan pengobatan.

Baca juga: Apakah Patahan Gigi bisa Ditempel Kembali? Berikut Penjelasan drg. R. Ngt. Anastasia

Jika didapatkan informasi bahwa covid sudah mereda dan gejala klinis covid sudah menurun tetapi gejala psikotik tinggi, artinya bahwa sangat mungkin terdapat penyebab lain.

Penyebab lain seperti trauma masa lalu, maupun trauma keluarga.

Pada seseorang dengan gejala covid yang sudah mereda tetapi gejala psikotik tinggi treatment yang dilakukan akan berbeda dengan treatment yang disertai primer maupun sekunder.

Terdapat 3 pengobatan yaitu dengan pemberian obat, pendampingan individu dan pendampingan keluarga.

Ini disampaikan pada channel YouTube KompasTV bersama dengan dr. Danardi Sosrosumihardjo Sp.KJ. Seorang dokter spesialis kedokteran jiwa.

(TribunHealth.com/Putri Pramesti Anggraini)

Penulis: Putri Pramestianggraini
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved