Breaking News:

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Ungkap Jika Omicron Merupakan Varian Covid-19 yang Dominan Saat Ini

Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid situasi global menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan apakah fase akut pandemi Covid-19.

Pixabay
Ilustrasi virus corona varian omicron, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid benarkan jika varian omicron adalah varian dominan 

TRIBUNHEALTH.COM - Juru Bicara Pemerintah untuk Program Vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menyampaikan situasi penanganan Covid-19.

Situasi nasional berhubungan juga dengan situasi global.

Situasi global menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan apakah fase akut pandemi Covid-19 sudah berakhir atau masih berlanjut.

Di tingkat global sudah terjadi tren penurunan konfirmasi baru dan juga kematian yang terus berlanjut.

Diketahui jika varian Omicron merupakan varian yang dominan saat ini.

Baca juga: Menurut dr. Irmadani Intan Pratiwi Para Pria Juga Perlu Melakukan Perawatan Wajah Seperti Wanita

Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Program Vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid yang dilansir oleh Tribunhealth.com dalam tayangan YouTube Kementerian Kesehatan RI edisi 08 Maret 2022.

Ilustrasi kasus Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid sebut terjadi penurunan kasus
Ilustrasi kasus Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid sebut terjadi penurunan kasus (Pexels)

Meskipun terjadi penurunan kasus, penularan masih tetap terjadi dan kita harus tetap waspada hingga kasus diturunkan sampai level dibawah 5%.

Data nasional menunjukkan bahwa lansia dengan Covid-19 memiliki risiko 3,5 kali lipat untuk meninggal dibandingkan dengan yang bukan lansia.

Serta lebih tinggi lagi pada lansia dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi dan gagal ginjal.

Baca juga: drg. Munawir : Melepas Kawat Gigi Dihitung Saat Masa Retensi Dilakukan dengan Rumus

Jika melihat data kumulatif dari 21 Januari 2022 sampai 06 Maret 2022, 70% dari 8.230 pasien yang meninggal di rumah sakit adalah pasien yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap.

Data menunjukkan jika 56% diantaranya adalah lansia dan 51% adalah mereka yang memiliki komorbid.

Dalam hal ini komorbid yang paling banyak adalah diabetes melitus ataupun kencing manis.

Kita lihat efek perlindungan vaksinasi dibandingkan dengan pasien yang belum divaksin, maka dengan 3 dosis vaksin itu akan mengurangi risiko kematian sebanyak 86%.

Ilustrasi vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid sampaikan efek perlindungan vaksin
Ilustrasi vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid sampaikan efek perlindungan vaksin (Freepik.com)

Dengan 2 dosis vaksin akan mengurangi risiko kematian sampai dengan 60%.

Tetapi apabila kita hanya mendapatkan 1 dosis vaksinasi, risiko kematian hanya berkurang 29%.

Hingga tanggal 07 Maret 2022, cakupan vaksinasi nasional sudah cukup tinggi.

Vaksinasi dosis 1 sudah diberikan sebanyak 192.181.573 atau 92,28%.

Baca juga: Adakah Kondisi Kulit yang Mirip dengan Purging? Begini Penjelasan dr. Adnania Nareswari, Sp.DV

Dosis kedua sudah diberikan sebanyak 148.468.837 atau 71,29% dari target 208 juta sasaran.

Vaksinasi booster juga sudah diberikan kepada 12.769.681 sasaran atau 6,13%.

Angka cakupan vaksinasi 2 dosis dan booster perlu dipercepat dan didukung oleh seluruh masyarakat secara luas agar mewujudkan kekebalan kelompok demi menuju fase endemi.

Halaman
12
Penulis: Dhiyanti Nawang Palupi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved