Breaking News:

Kenali Beragam Tanda-tanda Alergi dari dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A

Berikut ini simak penjelasan dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A mengenai tanda-tanda alergi.

nakita.grid.id
Ilustrasi anak yang sakit-simak penjelasan dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A mengenai tanda-tanda alergi. 

TRIBUNHEALTH.COM - Alergi adalah suatu respon imun yang tidak pada tempatnya atau berlebihan.

Seseorang yang mengalami alergi, bisa merasakan sejumlah manifestasi atau keluhan tertentu, mulai dari ringan hingga berat.

Manifestasi tersebut tentu bisa menganggu sang penderita alergi.

Baca juga: Berikut Proses Terjadinya Alergi Makanan, Bisa Berakibat Fatal jika Picu Anafilaksis

Dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Lampung News Video, dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A membagikan sejumlah tanda alergi yang bisa dikenali.

Antara lain:

- Sulit buang air besar (konstipasi)

ilustrasi seseorang yang mengalami masalah saat BAB
ilustrasi seseorang yang mengalami masalah saat BAB (pixabay.com)

- Diare

- Muntah

- BAB disertai darah

Baca juga: Dokter Sebut Jika Perdarahan saat Buang Air Besar Kemungkinan Disebabkan Ada Gangguan Saluran Cerna

- Merah-merah di kulit atau eritema

2 dari 4 halaman

- Pilek tapi bukan karena infeksi (Rhinitis)

Ilustrasi pilek
Ilustrasi pilek (freepik.com)

- Asma

- Batuk

- Hipersekresi

Baca juga: Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp. A (K) Ungkap Alasan Terjadinya Batuk Meskipun Sudah Negatif Covid-19

Berbagai tanda di atas bisa disebabkan oleh berbagai pencetus alergi (alergen).

Alergen atau benda yang menyebabkan alergi, itu bisa berupa:

- Inhalat (sesuatu yang dihirup), misalnya: debu, tungau, serbuk sari tanaman.

Ilustrasi alergi serbuk sari bunga
Ilustrasi alergi serbuk sari bunga (Pexels)

- Ingasiant (sesuatu yang tertelan), misalnya: protein yang ada di dalam makanan tertentu.

- Sesuatu yang kontak dengan kulit atau mukosa di dalam tubuh.

Cara Mengatasi Alergi

3 dari 4 halaman

Berdasarkan keterangan Roro, jika seseorang mengalami alergi, perlu segera berkonsultasi dengan dokter.

Karena kita tidak bisa menentukan sendiri penyebab alergi tersebut timbul.

Sehingga dalam penanganannya, perlu dibutuhkan pengawasan dari dokter.

Ilustrasi resep dokter
Ilustrasi resep dokter (Pixabay)

Selain itu, jika penanganan dilakukan sendiri bisa-bisa menghindari semua jenis makanan yang dianggap bisa mencetuskan alergi.

Hal ini tentu sangat berisiko jika terjadi pada usia anak-anak.

"Kasihan jika anak harus tidak makan semuanya, sementara itu masa-masa pertumbuhan yang butuh zat gizi yang lengkap," papar Roro.

Baca juga: Gemuk Belum Tentu Sehat, Waspada Dampak Buruk yang Bisa Terjadi pada Anak menurut Ahli Gizi

Selanjutnya, jika ingin mengsonsumsi suatu obat, maka perlu resep dari dokter.

Terdapat obat-obat yang mampu mengurangi gejala alergi. Misalnya Antihistamin.

Histamin adalah zat di dalam tubuh yang mampu merangsang manifestasi alergi.

Menentukan Penyebab Alergi

Ilustrasi alami alergi
Ilustrasi alami alergi (tribunnews.com)
4 dari 4 halaman

Berdasarkan penuturan Roro, langkah utama dalam mengatasi alergi yang tidak diketahui penyebabnya adalah melakukan prinsip penghindaran sementara waktu.

Bisa dilakukan dengan menghindari hal-hal yang dicurigai menyebabkan alergi.

"Misalnya setelah makan telur, muncul merah-merah di sekitar mulut atau gatal. Kita curigai alergi terhadap protein di dalam telur itu."

"Artinya untuk memastikan kecurigaan tersebut, kita coba dulu menghindari makan telur," terang Roro.

Baca juga: Apakah Seseorang yang Mengalami Alergi Dingin Perlu Mengonsumsi Obat? Simak Penjelasan dr. Tan

Penghindaran ini bisa dilakukan selama kurun waktu 2 hingga 4 minggu.

Jika ditemukan perbaikan setelah penghindaran, kemungkinan besar hal tersebut adalah faktor pencetus yang menyebabkan alergi.

Karena alergi akan muncul jika ada paparan.

Ilustrasi - Pria memakai masker karena alergi debu
Ilustrasi - Pria memakai masker karena alergi debu (Pexels)

Dengan demikian, bila paparan tersebut dihindari seharusnya alergi tidak muncul.

Selanjutnya, jika telah mengalami perbaikan dan tidak muncul respon alergi, maka bisa mencoba lagi untuk mendekati faktor yang dicurigai sebagai pencetus alergi tersebut.

Upaya ini disebut dengan Challenge.

Baca juga: Jangan Alergi ke Dokter Gigi, Simak Pesan drg. Ummi Kalsum, MH.Kes.,Sp.KG

Bila dicontohkan di atas, pencetus alergi adalah protein di dalam telur, maka bisa kembali lagi mengonsumsi telur tersebut.

Bila setelah mengonsumsi kembali, timbul gejala alergi yang sama seperti sebelumnya, maka dapat dipastikan bahwa pencetus alergi adalah protein di dalam telur tersebut.

Ilustrasi - Makanan yang dapat menyebabkan alergi
Ilustrasi - Makanan yang dapat menyebabkan alergi (Lifealth)

Kendati demikian, jangan pernah melakukan Challenge ini jika manifestasi yang dialami berat.

Jika manifestasinya berat, maka bisa berisiko mengancam nyawa. Misalnya Anafilaksis atau syok.

"Tidak disarankan untuk dicoba lagi, jika manifestasinya adalah syok anafilaktik. Karena bisa menyebabkan kematian" imbuh Roro.

Selanjutnya, meskipun manifestasi yang dialami ringan dan sedang, sebaiknya Challenge dicoba kembali di bawah pengawasan dokter.

Ilustrasi resep dokter
Ilustrasi resep dokter (Pixabay)

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi respon yang berat.

Karena jika pada awalnya manifestasi ringan, bisa saja respon selanjutnya menimbulkan manifestasi sedang hingga berat.

Bahkan bisa juga, jika awalnya belum muncul manifestasi alergi, bisa timbul kembali pada waktu berikutnya.

Baca juga: dr. Ekawaty Yasinta Larope Sebut Alergi pada Anak Bisa Dicegah Sejak Masa Kehamilan

"Misalnya pertama kali makan udang nggak papa, eh makan udang kedua, ketiga, keempat muncul."

"Sebenarnya nggak papa itu karena belum muncul manifestasi, tetapi respon imun di dalam tubuh sebenarnya sudah ada," jelas Roro.

Ilustrasi meningkatkan sistem imun
Ilustrasi respon imun (lifes)

Sehingga jika kita menerima protein yang sama, dalam hal ini adalah protein udang, akhirnya muncul lagi respon alergi.

Ketika respon tersebut sudah banyak dan memuncak, barulah bermanifestasi.

"Jadi kalau kita mau coba lagi hati-hati, karena yang tadinya ringan bisa aja nanti jadi berat," pesan Roro.

Baca juga: Beragam Penyakit yang Bisa Timbul Jika Tidak Pernah Melakukan Imunisasi sejak Lahir

Penjelasan dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp. A ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Lampung News Video(3/2/2021)

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved