Breaking News:

Stres Psikologis Berisiko Picu Terjadinya Serangan Jantung

Stres mental dapat mengalahkan stres fisik sebagai pemicu potensial serangan jantung fatal dan nonfatal

health.kompas.com
ilustrasi seseorang yang mengalami serangan jantung 

TRIBUNHEALTH.COM - Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik, telah diketahui secara luas sebagai faktor risiko serangan jantung.

Namun studi terbaru menemukan bahwa stres psikologis kronis, mungkin sama pentingnya atau bahkan lebih penting untuk kesehatan jantung, dilansir TribunHealth.com dari Channel News Asia (CNA).

Faktanya, pada orang dengan jantung yang kurang sehat, stres mental mengalahkan stres fisik sebagai pemicu potensial serangan jantung fatal dan nonfatal.

Stres mental kejadian kardiovaskular lainnya, menurut laporan terbaru itu.

Studi tersebut diterbitkan pada bulan November di JAMA, menilai 918 pasien yang diketahui memiliki penyakit jantung yang mendasari, tetapi stabil.

Baca juga: Penyebab Berat Badan Turun Drastis, Bisa karena Stres hingga Sederet Kondisi Medis Serius

Baca juga: dr. Erickson Arthur Siahaan, Sp.KJ Berikan Tips Dalam Mengatasi Burn Out atau Stres Berat

Ilustrasi stres akibat pekerjaan
Ilustrasi stres akibat pekerjaan (Pixabay)

Mereka bertujuan untuk melihat bagaimana tubuh mereka bereaksi terhadap tekanan fisik dan mental.

Para peserta menjalani tes stres fisik dan mental standar untuk melihat apakah jantung mereka mengembangkan iskemia miokard selama mengalami salah satu atau kedua bentuk stres.

Iskemia miokard merupakan kondisi ketika aliran darah berkurang secara signifikan ke otot-otot jantung, yang dapat menjadi pemicu kejadian kardiovaskular.

Kemudian para peneliti mengikuti mereka selama empat sampai sembilan tahun.

Di antara peserta penelitian yang mengalami iskemia selama satu atau kedua tes, stres mental mengambil korban yang jauh lebih besar pada jantung dan kehidupan pasien daripada stres fisik.

Mereka lebih mungkin menderita serangan jantung yang tidak fatal atau meninggal karena penyakit kardiovaskular di tahun-tahun berikutnya.

Temuan baru ini menggarisbawahi hasil studi sebelumnya yang mengevaluasi hubungan antara faktor risiko dan penyakit jantung pada 24.767 pasien dari 52 negara.

Baca juga: dr. Erickson Arthur Siahaan, Sp.KJ Berikan Tips Agar Tidak Stres Selama Pembatasan Pandemi Covid-19

Baca juga: Psikolog Sampaikan Cara Mengelola Stress Akibat Hilangnya Pekerjaan

ilustrasi seseorang yang mengalami stress
ilustrasi seseorang yang mengalami stress (pixabay.com)

Ditemukan bahwa pasien yang mengalami tingkat stres psikologis yang tinggi selama setahun sebelum mereka memasuki penelitian lebih dari dua kali lebih mungkin untuk menderita serangan jantung selama rata-rata tindak lanjut lima tahun, bahkan ketika faktor risiko tradisional diperhitungkan.

Studi, yang dikenal sebagai Interheart itu, menunjukkan bahwa stres psikologis merupakan faktor risiko independen untuk serangan jantung.

Stres psikologis memiliki efek merusak jantung, serupa dengan risiko kardiovaskular yang lebih umum diukur, jelas Dr Michael T Osborne, ahli jantung di Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Tapi bagaimana dengan efek stres pada orang yang jantungnya masih sehat?

Stres psikologis datang dalam berbagai bentuk.

Ini dapat terjadi secara akut, yang disebabkan oleh insiden seperti kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, atau kehancuran rumah seseorang dalam bencana alam.

Baca juga: Terlalu Banyak Konsumsi Garam Bisa Sebabkan Penyakit Jantung hingga Risiko Kanker Lambung

Baca juga: dr. Gadih: Penting untuk Mengetahui Kelainan Jantung, Karena Pengobatannya Berbeda-beda

ilustrasi usia muda yang mengalami penyakit jantung
ilustrasi usia muda yang mengalami penyakit jantung (pop.grid.id)

Sebuah studi baru-baru ini di Skandinavia menemukan bahwa dalam seminggu setelah kematian seorang anak, risiko orang tua terkena serangan jantung lebih dari tiga kali lipat dari yang diharapkan.

Stres emosional juga bisa menjadi kronis,.

Misalnya, dari ketidakamanan ekonomi yang berkelanjutan, tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi, atau mengalami depresi atau kecemasan yang tak henti-hentinya.

Orang tua yang berduka dalam studi Skandinavia terus mengalami peningkatan risiko jantung bertahun-tahun kemudian.

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved