Breaking News:

Pakar Sebut Coitus Interruptus Alias 'Ejakulasi di Luar' Tak Bisa Diandalkan untuk Kontrol Kehamilan

Berikut ini penjelasan dokter mengenai 'ejakulasi di luar' untuk kontrol kehamilan

Freepik
Ilustrasi hubungan seksual - Mungkinkan cegah kehamilan dengan coitus interruptus? 

TRIBUNHEALTH.COM - Coitus interruptus alias 'keluar di luar' merupakan salah satu metode yang dianggap banyak pasangan bisa mengatur jarak kehamilan.

Coitus interruptus sendiri merupakan penarikan penis dari vagina sebelum ejakulasi, sebagiamana dilansir TribunHealth.com dari Medical News Today.

Meskipun dapat mengurangi kemungkinan kehamilan, cara ini bukanlah pilihan yang terbaik.

Hal itu disampaikan oleh Dr. Sue Mann, konsultan kesehatan seksual dan reproduksi dan ahli medis kesehatan reproduksi di Public Health England.

“Metode penarikan (coitus interruptus) bukanlah cara yang dapat diandalkan untuk mencegah kehamilan,” kata Dr. Mann.

Baca juga: Berhubungan Seksual Selama Kehamilan Aman Dilakukan, Bahkan Punya Dampak Positif

Baca juga: Penyebab Hubungan Seksual Terasa Menyakitkan bagi Perempuan, Masih Bisa Sembuh Melalui Terapi

ilustrasi coitus interruptus
ilustrasi coitus interruptus (lifestyle.kompas.com)

Ketika digunakan secara akurat, ini dapat mengurangi risiko kehamilan.

Namun tak ada yang bisa menjamin akurasinya ketika pasangan sedang menikmati hubungan.

Artinya, ejakulasi tidak bisa dipastikan tertahan dan bisa saja 'kecolongan'.

Selain itu, penis melepaskan pra-ejakulasi, atau pra-cum, sebelum ejakulasi.

Dalam beberapa kasus, sperma dapat hadir dalam cairan ini.

Dalam satu studi, misalnya, para ilmuwan memeriksa sampel pra-ejakulasi dari 27 peserta.

Baca juga: Disfungsi Seksual Bisa Dipicu Faktor Fisik dan Psikis, Kapan Perlu ke Dokter?

Baca juga: Bagaimana Menyadarkan Masyarakat Tentang Pentingnya Kesehatan Seksual? Simak Ulasan dr. Binsar

Ilustrasi hubungan seksual
Ilustrasi hubungan seksual (Freepik)

Para ilmuwan mengidentifikasi sperma yang layak di 10 pra-ejakulasi peserta.

Setiap relawan menyediakan maksimal lima sampel.

Menariknya, para peneliti menemukan sperma di semua atau tidak sama sekali dari sampel mereka.

Dengan kata lain, beberapa orang cenderung memiliki sperma sebelum ejakulasi, sementara yang lain tidak.

Para penulis menyimpulkan:

“Kondom harus terus digunakan sejak saat pertama kontak genital, meskipun mungkin beberapa pria, yang kemungkinan kecilnya mengeluarkan spermatozoa dalam cairan pra-ejakulasi mereka, mampu mempraktikkan coitus interruptus lebih berhasil daripada yang lain.”

Baca berita lain tentang kesehatan umum di sini.

(TribunHealth.com/Nur)

Penulis: anrosikin
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved