Breaking News:

Psikolog Listyaningati, M.Psi Paparkan Beberapa Kekhawatiran yang Mungkin Muncul Saat PTM

Psikolog Listyaningati sebut pembelajaran tatap muka (PTM) disambut oleh beberapa siswa dengan penuh gembira dan beberapa dengan kekhawatiran.

Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Ilustrasi pembelajaran tatap muka atau PTM 

TRIBUNHEALTH.COM - Pembelajaran tatap muka atau PTM diketahui sudah mulai dijalankan dan masih dalam tahap uji coba.

Banyak siswa yang antusias, namun banyak pula yang tak antusias dengan hal ini karena beberapa kekhawatiran.

Dilansir TribunHealth.com, Psikolog Listyaningati M.Psi berikan tanggapan mengenai hal tersebut dalam tayangan YouTube Tribunjabar Video.

Dalam penjelasannya tersebut, Listyaningati M.Psi membenarkan jika memang pembelajaran tatap muka (PTM) ini disambut oleh siswa dengan gembira dan ada yang memang menyambutnya penuh kekhawatiran.

Kekhawatiran ini terjadi karena beberapa hal yang salah satunya adalah karena masih adanya Covid-19.

Para orangtua khawatir tentang adanya penularan covid-19 pada lingkungan sekolah.

Selain itu, kekhawatiran yang dirasakan oleh anak atau siswa adalah kekhawatiran untuk mulai pertemanan baru, terutama bagi siswa baru yang belum pernah bertemu secara langsung dengan teman-temannya.

Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka Tak Sepenuhnya Aman, Penularan Covid pada Siswa Meningkat Tajam di Inggris

PTM PELAJAR - Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di UPT SD Negeri 2 Rajabasa, Senin (13/9/2021). Seiring penurunan status pandemi dari zona merah ke zona kuning atau dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 menjadi PPKM level 3 di Kota Bandar Lampung, pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas yang diikuti hanya 50 persen siswa. Selain itu selama pembelajaran berlangsung selama 2x60 menit sehari dan berlaku di seluruh jenjang pendidikan setempat, mulai tingkat SD, SMP dan SMA .(Tribunlampung.co.id/Deni Saputra)
PTM PELAJAR - Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di UPT SD Negeri 2 Rajabasa, Senin (13/9/2021). Seiring penurunan status pandemi dari zona merah ke zona kuning atau dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 menjadi PPKM level 3 di Kota Bandar Lampung, pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas yang diikuti hanya 50 persen siswa. Selain itu selama pembelajaran berlangsung selama 2x60 menit sehari dan berlaku di seluruh jenjang pendidikan setempat, mulai tingkat SD, SMP dan SMA .(Tribunlampung.co.id/Deni Saputra) (Tribun Lampung/Deni Saputra)

Begitu juga dengan kekhawatiran akan tertinggalnya pemahaman akan materi pelajaran.

Psikolog Listyaningati menyebutkan, meskipun begitu, rentang kekhawatiran pada siswa dengan rentang antusian kesenangan siswa untuk PTM, masih banyak yang antusian dan senang dengan diadakannya PTM.

"Biasanya anak-anak atau siswa yang khawatir akan kesehatannya ketika melakukan PTM, secara umum orangtuanya pun juga khawatir," papar Listyaningati.

Kondisi orangtua yang terlalu khawatir kepada anaknya juga akan mempengaruhi kondisi mental anak dan anak menjadi ikut khawatir akan hal tersebut.

Tidak hanya sikap saja, kebiasaan orangtua yang dilakukan di rumah juga mempengaruhi kondisi mental pada anaknya.

"Misalnya orangtua yang di rumah sangat disiplin protokol kesehatan, memang hal tersebut bagus. Namun jika terlalu ketat dan apa-apa tidak di ijinkan, maka anak juga akan merasa khawatir," terang Listyaningati.

"Kondisi ini membuat anak ketika bertemu dengan teman-teman yang banyak dan juga guru, kekhawatiran tersebut akan muncul."

Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka, dr. S.T Andreas Tegaskan Kedua Pihak Harus Mematuhi Protokol Kesehatan

Wali Kota Bandung, Oded M Danial bersama Pembina Yayasan Daarut Tauhiid, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) meninjau Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP Putri Boarding School, Pondok Pesantren (Ponpes) Daarut Tauhiid, Jalan Gegerkalong Girang, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/9/2021). Peninjauan ini dilakukan setelah acara simbolis penyerahan hibah bus dari Pemerintah Kota Bandung kepada Yayasan Daarut Tauhiid. Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Wali Kota Bandung, Oded M Danial bersama Pembina Yayasan Daarut Tauhiid, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) meninjau Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP Putri Boarding School, Pondok Pesantren (Ponpes) Daarut Tauhiid, Jalan Gegerkalong Girang, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/9/2021). Peninjauan ini dilakukan setelah acara simbolis penyerahan hibah bus dari Pemerintah Kota Bandung kepada Yayasan Daarut Tauhiid. Tribun Jabar/Gani Kurniawan (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

"Namun berbeda jika orangtua disiplin dengan penerapan protokol kesehatan di rmah yang dilakukan secara fleksibel dan tidak terlalu kaku."

"Anak dengan kondisi yang lebih fleksibel tersebut akan lebih menyesuaikan di sekolah dibandingkan anak yang terlalu diatur secara ketat," lanjut Listyaningati.

Kondisi-kondisi yang ditanamkan orangtua juga akan sangat berpengaruh pada kondisi anak saat anak di luar rumah.

Orangtua penting mengajarkan protokol kesehatan di luar rumah atau saat anak harus sekolah, namun orangtua juga harus mengajarinya dengan santai dan tidak terlalu membebani anak.

Sehingga anak bisa menerima arahan orangtua saat harus menjalankan protokol kesehatan di sekolah dan anak dapat menyesuaikan diri dengan baik saat PTM namun tetap patuh protokol kesehatan.

Penjelasan ini disampaikan oleh Psikolog Listyaningati, M.Psi dalam tayangan YouTube Tribunjabar Video pada 20 0ktober 2021.

Baca berita lain seputar kesehatan di sini

(Tribunhealth.com/Irma)

Penulis: Irma Rahmasari
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved