Breaking News:

Vaksin Nusantara Diklaim Mampu Mengendalikan Mutasi Virus Corona

Juru bicara vaksinasi Covid-19 mengatakan vaksin nusantara tidak dapat dikomersialkan lantaran vaksin tersebut bersifat individual

Tribunnews.com
Ilustrasi vaksin yang sudah mendapatkan izin BPOM 

TRIBUNHEALTH.COM - Menanggapi ramainya pemberitaan terkait vaksin nusantara, Kementerian Kesehatan mengatakan vaksin nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Terawan Agus Putranto dapat diakses oleh masyarakat.

Namun bentuk pelayanannya melalui pelayanan berbasis penelitian secara terbatas.

Dilansir TribunHealth.com dalam tayangan YouTube Kompas Tv (31/8/2021) juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyempaikan bahwa penelitian tersebut dilakukan berdasarkan nota kesepahaman antara menteri kesehatan dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM, serta TNI Angkatan Darat pada April lalu.

Dikutip dari laman kemkes.go.id, juru bicara vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi mengatakan masyarakat yang menginginkan vaksin nusantara atas keinginan pribadi nantinya akan diberikan penjelasan terkait manfaat hingga efek samping oleh pihak penelitian.

"Kemudian jika pasien tersebut setuju, maka vaksin nusantara tersebut dapat diberikan atas persetujuan pasien tersebut," lanjutnya.

Baca juga: Gejala Covid-19 Lebih Berbahaya jika Seseorang Terinfeksi 2 Varian Virus Sekaligus

ilustrasi vaksin covid-19 yang telah disetujui BPOM
ilustrasi vaksin covid-19 yang telah disetujui BPOM (kompas.com)

Selain itu, ia juga menegaskan jika vaksin nusantara tersebut tidak dapat dikomersialkan lantaran vaksin tersebut bersifat individual.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh tim riset corona dan formula vaksin nusantara dari Profesor Nidom Foundation, Ketua Tim Riset Corona dan Formula Vaksin Nusantara Chairul Anwar Nidom mengatakan setelah dilakukan uji klinis fase 2 terhadap 12 sukarelawan di Surabaya Jawa Timur, vaksin nusantara diklaim mampu mengendalikan mutasi virus corona dengan efikasi sebesar 100 persen.

Hal tersebut dikarenakan vaksin nusantara menggunakan mekanisme kerja sel dendritik, sehingga ketika varian baru muncul vaksin tersebut dapat melemahkan varian baru termasuk juga varian delta.

"Ini sekaligus, nanti kalau ada varian baru masuk, maka dia bisa merespon imun terhadap varian baru yang masuk itu," jelas Profesor Nidom Foundation, Chairul Anwar Nidom dikutip TribunHealth.com dalam tayangan YouTube Kompas Tv (31/08/2021).

"Itu perbedaan fisik, kalau nanti misalnya ada lagi varian baru di luar yang di inaktivasi maka kita dengan segera bisa membuat dalam waktu relatif singkat."

Baca juga: Penelitian Terbaru Ungkap Vaksinasi Bisa Turunkan Risiko Long Covid

Ilustarsi vaksin covid-19 yang memiliki efek samping tidak berbahaya
Ilustarsi vaksin covid-19 yang memiliki efek samping tidak berbahaya (kompas.com)

"Paling lama 2 bulan kita sudah bisa membuat antigen baru," lanjut penjelasan Chairul.

Hingga saat ini, vaksin nusantara tersebut masih menunggu persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM untuk dapat berlanjut ke uji klinis tahap 3.

Menurut rencana, uji klinis tahap 3 tersebut akan melibatkan sebanyak 200 orang sukarelawan.

Baca berita lain seputar kesehatan di sini

(Tribunhealth.com/Irma)

Penulis: Irma Rahmasari
Editor: Ekarista Rahmawati
Ikuti kami di
Data Berhasil Terkirim!
Data Harus Diisi!
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved