TRIBUNHEALTH.COM - Pemerintah telah menggenjot program vaksinasi untuk menciptakan herd immunity di tanah air.
Namun isu mengenai vaksinasi sering kali diliputi hoaks dan kabar yang tak bisa dipertanggungjawabkan.
Satu di antaranya adalah tidak percayanya beberapa kelompok terhadap vaksinasi.
Mereka beranggapan vaksinasi tidak efektif karena kasus justru semakin bertambah seiring dengan banyaknya orang yang disuntik vaksin.
Terkait hal ini, dokter, filsuf, dan ahli gizi komunitas, dr. Tan Shot Yen angkat bicara.
Ada beberapa pon yang disampaikan oleh dr. Tan Shot Yen dalam acara Malam Minggu Sehat Tribunnews, edisi Sabtu (17/7/2021).
Baca juga: Hasil Penelitian Terbaru: Vaksin Campuran Efektif Bentuk Antibodi terhadap Covid-19
Baca juga: Indonesia Kedatangan Vaksin COVID-19 Tahap 28, Masyarakat Diharapkan Tidak Ragu Melakukan Vaksinasi
Pertama, vaksinasi tidak serta merta langsung membuat orang kebal Covid-19.
"Vaksinasi tidak otomatis langsung membuat anda imun," paparnya, dikutip TribunHealth.com.
Dia menjelaskan vaksinasi dibutuhkan untuk memicu tubuh memproduksi antibodi.
Akan tetapi dalam kasus saat ini, tubuh belum bisa membentuk antibodi tapi sudah terpapar virus.
"Muatan virusnya tinggi. Penyakit disamperin, karena mobilitasnya tinggi," tandasnya.
Hal seperti inilah yang membuat potensi penularan tetap besar.
Apa lagi persentase vaksinasi juga masih terhitung rendah.
Baca juga: Apa Diperbolehkan Suntik Vaksin jika Memiliki Komorbid Penyakit Jantung & Diabetes?
Baca juga: Virus Corona Varian Lambda Disebut Lebih Menular, Apakah Vaksin Masih Efektif untuk Bentuk Antibodi?
Kemungkinan lain, orang yang sudah divaksin mungkin tak merasa jika terinfeksi Covid-19.
Hal ini sebagai efek kekebalan yang diberikan oleh vaksin itu sendiri.
Namun, dia tetap bisa menularkan virus corona meski tanpa gejala.
"Ini fenomena virus ini gila banget menyebar."
"Karena orang tak pernah sadar, saya adalah penularnya," tandasnya.
Baca berita lain tentang Covid-19 di sini.
(TribunHealth.com/Ahmad Nur Rosikin)