Breaking News:

Haruskah Konsumsi Antibiotik Sampai Habis jika Sudah Sehat? Ini Tanggapan dr. Alia Kusuma Rachman

Berikut ini simak penjelasan dokter mengenai panduan mengonsumsi obat antibiotik

jabar.tribunnews.com
Ilustrasi minum obat antibiotik 

TRIBUNHEALTH.COM - Mengonsumsi obat bermanfaat untuk meredakan masalah kesehatan yang dialami.

Obat biasanya diberikan oleh dokter ketika seseorang sedang mengeluhkan masalah kesehatan tertentu.

Dengan resep yang telah dokter berikan, pasien seringkali dianjurkan mengonsumsinya sampi habis.

Baca juga: Tak Harus Obat Sirup, Dokter Imbau Atasi Gejala Demam Anak dengan Cara Mudah Dibawah ini

Namun karena berbagai kondisi, tak jarang obat yang telah diresepkan justru tidak diminum sampai tuntas.
Salah satunya dalam mengonsumsi antibiotik.

Namun sebenarnya, apakah antibiotik harus diminum sampai habis?

Dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Jateng, dr. Alia Kusuma Rachman memberikan tanggapannya.

Ilustrasi obat antibiotik untuk mengobati penyakit yang disebabkan karena bakteri
Ilustrasi obat antibiotik untuk mengobati penyakit yang disebabkan karena bakteri (Tribunnews.com)

Berdasarkan penjelasannya, antibiotik harus diminum secara disiplin.

Dokter akan merujuk pasien mengonsumsi antibiotik dengan jangka waktu tertentu.

"Bila dianjurkan 3 atau 5 hari, harus dihabiskan selama itu," imbuh Alia.

Baca juga: Benarkah Obat Paracetamol Memicu Gangguan Ginjal Akut pada Anak? Begini Tanggapan dr. Ayodhia

Ketentuan ini juga tetap berlaku meskipun kondisi kesehatan sudah pulih.

2 dari 4 halaman

Karena dikhawatirkan, akan terjadi resistensi atau kekebalan dari bakteri yang ada pada tubuh.

Mengigat pada dasarnya bakteri tersebut belum musnah, meskipun gejala sudah membaik.

"Jadi untuk menuntaskan itu antibiotik harus dihabiskan," serunya.

Ilustrasi sepsis.
Ilustrasi sepsis. (Tribunmanado.co.id.)

Lebih lanjut, jika salah konsumsi antibiotik hingga membuat resistensi, maka bukan tidak mungkin akan terjadi Sepsis.

Sepsis adalah kondisi terburuk akibat salah penggunaan antibiotik.

Keadaan sepsis menunjukkan bahwa tubuh telah banyak dipenuhi oleh infeksi.

Untuk Infeksi Bakteri

Antibiotik hanya bisa diberikan bila seseorang mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Untuk mengetahui bahwa seseorang mengalami infeksi bakteri terdapat ketentuan yang perlu dipahami.

Baca juga: Dokter Jelaskan Bengkak Akut dan Kronis pada Gigi, pada Kondisi Tertentu Tak Cukup Diberi Antibiotik

Adalah:

3 dari 4 halaman

1. Gejala

Indikator pertama yang bisa diperhatikan adalah gejala yang dialami.

"Apakah mengalami demam tinggi atau tidak," ucap Alia.

2. Pemeriksaan penunjang

ilustrasi melakukan pemeriksaan ke dokter
ilustrasi melakukan pemeriksaan ke dokter (health.kompas.com)

Bila seseorang dinyatakan memiliki leukosit tinggi, maka ada kemungkinan dicetuskan oleh bakteri.

3. Pemeriksaan urin

Bila dilihat dari kandungan uri mengandung leukosit tinggi, maka bisa disimpulkan mengalami infeksi bakteri.

Baca juga: Antibiotik Bisa Cegah Tubuh Terkena Penyakit, Mitos atau Fakta Dok?

"Jadi harus ditentukan dahulu, benarkah memang disebabkan oleh bakteri," ungkap Alia.

Bisa Disembuhkan dengan Obat Antibiotik

Salah satu jenis obat yang terkenal banyak digunakan masyarakat, adalah antibiotik.

4 dari 4 halaman

Antibiotik dianggap sebagai obat dari segala penyakit.

Padahal berdasarkan pernyataan Alia, antibotik hanya digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Ilustrasi bakteri
Ilustrasi bakteri (tribunnews.com)

"Jadi tidak semua penyakit harus diberi antibiotik," kata Alia.

Lebih lanjut, bila hanya mengalami batuk atau pilek, maka tak perlu tergesa-gesa memberikan pengobatan.

Apalagi dengan memberikan antibiotik untuk mengatasinya.

Baca juga: Daftar Gejala Omicron pada Orang yang Telah Divaksin Penuh, Kelelahan dan Pilek Jadi yang Teratas

Mengingat batuk dan pilek adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh virus.

Sehingga masalah kesehatan yang umum terjadi ini bisa sembuh dengan sendirinya.

Ilustrasi pemeriksaan dokter
Ilustrasi pemeriksaan dokter (Pixabay)

Keadaan demikian disebut juga sebagai self limiting disease.

Penjelasan dr. Alia Kusuma Rachman ini dilansir Tribunhealth.com dari tayangan YouTube Tribun Jateng.

(Tribunhealth.com/Ranum Kumala Dewi)

Selanjutnya
Penulis: Ranum Kumala Dewi
Editor: Melia Istighfaroh
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved